Menkes Budi Gunadi Ajak Investor Global Masuk Sektor Kesehatan RI, Ada Peluang Bisnis Miliaran Dolar AS!
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan potensi ekonomi raksasa di sektor kesehatan nasional yang diyakini mampu menjadi mesin utama pendorong pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia hingga mencapai angka 8%.
Menkes Budi menyoroti pengeluaran kesehatan Indonesia saat ini mencapai sekitar US$ 40 miliar per tahun, dengan rata-rata pertumbuhan historis mencapai 9% hingga 11% setiap tahunnya. Menurutnya, angka pertumbuhan dari sisi pengeluaran ini jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat di Badan Pusat Statistik (BPS) sebesar 3% hingga 4% pada sektor terkait.
"Saya selalu menyampaikan kepada Menko Perekonomian, jika mencari pendorong pertumbuhan PDB 8 persen, inilah sektornya. Mengapa di BPS tercatat lebih rendah? Karena sebagian besar nilai tambah ekonomi dan penciptaan lapangan kerjanya tidak terjadi di Indonesia akibat tingginya ketergantungan impor barang dan alat kesehatan," ujar Budi saat memberikan sambutan dalam forum Kadin Monthly Economic Diplomatic Breakfast di Jakarta, Jumat (9/10/2026).
Acara ini turut dihadiri oleh Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie, Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Luar Negeri Kadin James Riady, Sekjen Kemenlu Denny Abdi, serta jajaran Duta Besar negara-negara sahabat.
Guna mengatasi persoalan tersebut, Kementerian Kesehatan bekerja sama erat dengan Kadin Indonesia untuk menarik investasi asing langsung (foreign direct investment) ke dalam negeri. Langkah ini ditujukan untuk membangun kapasitas manufaktur farmasi dan alat kesehatan domestik, menciptakan pertumbuhan PDB lokal, serta membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat.
Mantan bankir tersebut memberikan kalkulasi bisnis di hadapan para diplomat dan pelaku usaha mengenai potensi peningkatan belanja kesehatan seiring dengan naiknya angka harapan hidup (life expectancy) penduduk Indonesia yang saat ini berada di rata-rata 72 tahun dengan belanja sebesar US$ 120 – US$ 130 per kapita per tahun.
Budi membandingkan kondisi Indonesia dengan negara tetangga seperti Malaysia yang memiliki angka harapan hidup 76 tahun dengan belanja kesehatan US$ 430 per kapita, serta Singapura yang mencapai angka harapan hidup 84 tahun dengan belanja US$ 3.300 per kapita.
"Jika angka harapan hidup kita naik ke level Malaysia dalam lima tahun ke depan, secara logis ada tambahan belanja kesehatan sebesar 300 dolar AS per kapita. Dikalikan 280 juta penduduk, itu berarti ada potensi pasar baru sebesar 84 miliar dolar AS di sektor kesehatan Indonesia," paparnya.
Baca Juga
Anindya Bakrie Ungkap Sektor 'Raksasa' US$ 60 Miliar yang Bisa Bikin Ekonomi RI Tembus 8%
Bahkan, dalam jangka panjang 10 hingga 15 tahun ke depan, jika Indonesia mampu mendekati standar layanan kesehatan Singapura, potensi pasar kesehatan Indonesia diproyeksikan dapat menembus 840 miliar dolar AS per tahun—atau setara dengan separuh dari total PDB Indonesia saat ini.
Menkes mengimbau para Duta Besar untuk menyampaikan peluang investasi ini kepada komunitas bisnis di negara masing-masing. Ia menilai, kondisi biaya kesehatan Indonesia yang saat ini masih tergolong sangat efisien merupakan momentum terbaik bagi investor global untuk masuk ke pasar domestik.
"Ini adalah waktu yang tepat untuk masuk (buy low), karena biaya kita saat ini termasuk yang paling rendah dan ruang pertumbuhannya (upside) sangat tinggi," tegas Budi
