Sentimen OpenAI Tekan Saham Teknologi di Wall Street, Indeks Nasdaq Anjlok Lebih dari 1%
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup bervariasi pada Kamis waktu AS atau Jumat (8/10/2026) WIB. Indeks Nasdaq Composite merosot lebih dari 1% setelah informasi terbaru mengenai pendapatan OpenAI memicu kekhawatiran investor terhadap prospek perdagangan saham berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Nasdaq yang didominasi saham teknologi turun 1,25% ke level 27.193,34. Indeks S&P 500 melemah 0,47% menjadi 7.765,36. Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average menguat 51,77 poin atau 0,1% ke posisi 51.231,64.
Baca Juga
Wall Street Merah Terseret Gejolak Yield Treasury AS, Dow Anjlok Hampir 350 Poin
Tekanan terhadap saham teknologi muncul setelah pendapatan tahunan OpenAI berdasarkan laju pendapatan saat ini (annualized revenue) terungkap berada di bawah angka yang sebelumnya telah diisyaratkan. Informasi tersebut memicu kekhawatiran investor mengenai kemampuan perusahaan AI menghasilkan pendapatan sesuai ekspektasi pasar.
Saham Oracle merosot lebih dari 5%. Sementara itu, saham Nvidia turun hampir 3% dan Advanced Micro Devices (AMD) melemah hampir 4%.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa ekspektasi terhadap pertumbuhan bisnis AI tetap menjadi faktor penting bagi valuasi perusahaan teknologi. Ketika proyeksi pendapatan perusahaan yang menjadi pusat ekosistem AI dipertanyakan, saham perusahaan lain yang terhubung dengan pengembangan infrastruktur dan komputasi AI turut menghadapi tekanan.
Sentimen negatif juga datang dari pasar energi. Harga minyak melonjak setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan tidak ingin mencapai kesepakatan dengan Iran untuk mengakhiri perang. Pada saat yang sama, muncul laporan bahwa AS sedang mempersiapkan serangan udara besar-besaran di Timur Tengah.
Baca Juga
Harga Minyak Bergejolak, Serangan Tanker di Hormuz dan Badai Isaias di Meksiko Jadi Sorotan
Namun, Trump kemudian menyatakan AS tidak akan menyerang Iran sebelum pemilihan sela pada awal November. Pernyataan tersebut membantu mendorong harga minyak turun dari level tertingginya pada sesi perdagangan.
Minyak mentah Brent ditutup naik 4,07% menjadi US$104,28 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 3,64% menjadi US$91,49 per barel.
Lonjakan harga energi menambah kekhawatiran investor mengenai inflasi AS. Jika harga minyak bertahan tinggi, biaya energi dan transportasi berpotensi meningkat, sehingga memperlambat penurunan inflasi dan mempersempit ruang bagi Federal Reserve (The Fed) untuk melonggarkan kebijakan moneternya.
Cermati Yield Obligasi AS
Investor juga mencermati pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS setelah imbal hasil Treasury tenor 10 tahun dan 30 tahun sempat menyentuh level tertinggi dalam 24 tahun pada pekan ini.
Pada perdagangan terakhir, imbal hasil Treasury 10 tahun turun 5 basis poin menjadi 5,227%, sedangkan tenor 30 tahun melemah 6 basis poin menjadi 5,601%. Penurunan tersebut terjadi setelah lelang obligasi Treasury tenor 30 tahun menunjukkan permintaan yang cukup solid.
“Tekanan inflasi yang terutama dipicu kenaikan harga energi telah memengaruhi arah kebijakan The Fed sekaligus mendorong kenaikan imbal hasil obligasi jangka Panjang,” kata Ross Mayfield, ahli strategi investasi di Baird, seperti dikutip CNBC.
Menurut Mayfield, jika AS dan Iran mencapai kesepakatan yang dapat meredakan ketegangan secara berkelanjutan, harga minyak berpotensi turun dari US$90 menjadi US$70 per barel. Dalam skenario tersebut, imbal hasil obligasi pemerintah AS juga dapat turun secara signifikan.
Mayfield menilai pasar saham sejauh ini relatif mampu bertahan menghadapi tekanan kenaikan imbal hasil dan harga energi. Bahkan, S&P 500 dan Nasdaq sempat mencatat rekor tertinggi sepanjang masa pada pekan yang sama.
Meski demikian, ia memperingatkan kenaikan lebih lanjut pada imbal hasil obligasi jangka panjang berpotensi menjadi hambatan yang lebih serius bagi saham. Menurutnya, imbal hasil dapat mencari titik stabil di kisaran 5% hingga 6%.
Pasar, kata Mayfield, sedang menyesuaikan diri dengan tingkat imbal hasil yang lebih tinggi. Kondisi tersebut dapat mencerminkan pertumbuhan nominal ekonomi yang lebih kuat sekaligus inflasi yang sedikit lebih tinggi.
Jika situasi itu berlanjut, suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama atau bahkan menjadi kondisi normal baru berpotensi bertahan, kecuali terjadi resesi besar yang memaksa The Fed memangkas suku bunga secara agresif.
Di tengah pelemahan mayoritas saham teknologi, Palantir Technologies menjadi salah satu saham yang justru menguat. Saham perusahaan tersebut naik 2% setelah Goldman Sachs menaikkan rekomendasinya.
Goldman Sachs melihat peluang pertumbuhan lebih lanjut bagi Palantir, seiring pergeseran menuju AI berdaulat (sovereign AI) dan pengembangan aplikasi khusus yang dapat memperluas pasar potensial perusahaan.
Baca Juga
AS Klaim Iran Kehilangan Kendali Hormuz, Ancaman Kapal Tanker Membayangi
Pergerakan pasar pada Kamis memperlihatkan bahwa investor menghadapi beberapa ketidakpastian, antara lain kemampuan perusahaan AI memenuhi ekspektasi pendapatan dan dampak konflik Timur Tengah terhadap harga energi serta inflasi.
Faktor-faktor itu dapat menentukan arah pasar saham AS selanjutnya. Di satu sisi, pertumbuhan AI masih menawarkan peluang bisnis, tetapi di sisi lain, valuasi saham teknologi rentan terhadap perubahan ekspektasi pendapatan dan kenaikan biaya modal akibat imbal hasil obligasi yang tinggi.
