Harga Minyak Bergejolak, Serangan Tanker di Hormuz dan Badai Isaias di Meksiko Jadi Sorotan
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak mentah dunia melonjak setelah Iran meningkatkan serangan terhadap kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz. Kekhawatiran pasokan juga meningkat setelah Badai Isaias mengancam produksi minyak lepas pantai Amerika Serikat (AS) di Teluk Meksiko.
Baca Juga
AS Klaim Iran Kehilangan Kendali Hormuz, Ancaman Kapal Tanker Membayangi
Dikutip dari CNBC, minyak mentah Brent, patokan internasional, melonjak 4% dan ditutup pada US$104,28 per barel pada perdagangan Kamis (8/10/2026). Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 3,6% menjadi US$91,49 per barel.
Kenaikan harga minyak terjadi di tengah meningkatnya risiko terhadap jalur pelayaran strategis di Timur Tengah. Dalam sepekan terakhir, sembilan kapal tanker dilaporkan menjadi sasaran serangan di dalam dan sekitar Selat Hormuz. Situasi tersebut mengancam pemulihan arus pengiriman minyak mentah yang sebelumnya mulai menunjukkan perbaikan.
Harga minyak sempat menyentuh level yang lebih tinggi sebelum memangkas kenaikannya setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Washington tidak akan menyerang Iran sebelum pemilihan sela pada 3 November.
Ancaman Serangan AS
Sebelumnya, NBC News melaporkan dengan mengutip sejumlah sumber yang tidak disebutkan namanya bahwa Trump dan tim keamanan nasionalnya sedang mempertimbangkan untuk kembali melancarkan serangan dalam beberapa pekan mendatang.
Data perusahaan analisis komoditas Kpler menunjukkan, sekitar 9,5 juta barel minyak per hari melewati Selat Hormuz selama pekan yang berakhir Selasa. Angka tersebut sekitar 30% lebih rendah dibandingkan tingkat normal sebelum perang Iran.
Sementara itu, total aliran minyak mentah dari Timur Tengah, termasuk pengiriman melalui jalur pipa alternatif untuk menghindari Selat Hormuz, mencapai 16,4 juta barel per hari. Volume tersebut hampir setara dengan tingkat sebelum perang.
Di sisi lain, ancaman cuaca ekstrem turut menambah tekanan terhadap pasokan minyak global. Perusahaan-perusahaan minyak telah menghentikan sementara produksi sekitar 500.000 barel per hari di Teluk Meksiko AS ketika Badai Isaias bergerak menuju pesisir Alabama, Mississippi, dan wilayah barat laut Florida.
Volume produksi yang dihentikan tersebut setara dengan sekitar 25% produksi minyak lepas pantai di kawasan itu.
Kombinasi gangguan pengiriman di Timur Tengah dan penghentian produksi di Teluk Meksiko meningkatkan risiko terjadinya pengetatan pasokan minyak global. Situasi ini menjadi perhatian pasar karena kedua gangguan berlangsung ketika harga energi masih sensitif terhadap perkembangan perang.
Ketegangan regional juga meningkat setelah kelompok militan Houthi yang didukung Iran di Yaman meluncurkan rudal ke sejumlah bandara di Riyadh, ibu kota Arab Saudi, dan kota Abha pada Selasa dan Rabu.
Menurut laporan media milik pemerintah Arab Saudi, Al Arabiya, serangan tersebut menewaskan tiga orang dan melukai 36 orang.
Juru bicara militer Arab Saudi mengatakan, pertahanan kerajaan kembali mencegat sejumlah rudal balistik yang ditembakkan ke Riyadh dan Khamis Mushait pada Kamis.
Ryan McKay, direktur strategi komoditas di TD Securities, mengatakan bahwa meskipun arus minyak dari kawasan tersebut sebagian besar telah kembali normal, proses pengiriman masih menghadapi berbagai hambatan.
Penggunaan pengawalan kapal oleh Angkatan Laut AS, peningkatan biaya, kendala logistik, serta risiko serangan yang terus membayangi menjadi faktor yang dapat mengganggu kelangsungan pengiriman dalam jangka panjang.
Menurut McKay, kondisi tersebut membuat premi risiko berpotensi bertahan dalam harga minyak.
Bagi pasar energi, perkembangan ini menunjukkan bahwa pulihnya volume pengiriman belum tentu berarti risiko pasokan telah berakhir. Selama keamanan pelayaran di Selat Hormuz belum terjamin dan ancaman terhadap produksi di kawasan lain masih berlangsung, harga minyak berpotensi tetap berfluktuasi tajam mengikuti perkembangan geopolitik dan cuaca.
