Pekerja Lab Rusia Tewas Akibat Virus Tak Dikenal, Ratusan Orang Dikarantina di Siberia
Poin Penting
|
IRKUTSK, Investortrust.id — Ototitas kesehatan Rusia dilaporkan telah menempatkan ratusan orang dalam penanganan karantina di Siberia menyusul kematian seorang pekerja laboratorium yang terpapar virus tidak dikenal.
Dilaporkan Independent.co.uk, Minggu (4/10/2026), korban yang merupakan seorang perempuan berusia 28 tahun tersebut bekerja di Anti-Plague Research Institute yang berlokasi di Shelekhov, sebuah kota dekat ibu kota regional Irkutsk.
Sebelum mengembuskan napas terakhir, korban sempat memberi tahu tenaga medis bahwa ia tidak sengaja memecahkan tabung reaksi berisi sampel biologis hidup saat sedang bekerja di dalam fasilitas penelitian tersebut.
Setelah insiden tersebut, korban mendadak dirawat di rumah sakit dengan diagnosis pneumonia berat yang asal-usulnya tidak diketahui, dipasangi alat bantu pernapasan ventilator, hingga akhirnya meninggal dunia pada hari Kamis (1/10/2026).
Badan pengawas keselamatan konsumen negara, Rospotrebnadzor, menyatakan bahwa protokol sanitasi darurat segera diberlakukan menyusul temuan kasus yang melibatkan "pneumonia dengan etiologi tidak dikenal" di fasilitas tersebut. Meskipun demikian, Rospotrebnadzor menegaskan bahwa situasi secara umum di wilayah Irkutsk tetap terkendali dan stabil.
Berdasarkan laporan media berita independen regional Liudi Baikala, sedikitnya 197 orang yang diduga melakukan kontak langsung maupun tidak langsung dengan teknisi laboratorium tersebut telah ditempatkan dalam isolasi medis, dengan lebih dari 100 orang di antaranya berada di bawah pemantauan ketat di bangsal rumah sakit.
Pada saat yang sama, pemerintah daerah memberlakukan langkah-langkah karantina yang ketat di seluruh distrik, yang menyasar Rumah Sakit Distrik Shelekhov, fasilitas bersalin terdekat, hingga pabrik aluminium lokal.
Baca Juga
WHO Naikkan Status Waspada Virus Ebola Jadi “Sangat Tinggi”, 10 Negara Berikut Rawan Terdampak
Gubernur Irkutsk imbau publik tetap tenang
Gubernur Irkutsk Igor Kobzev mengimbau para penduduk untuk tetap tenang dan menyampaikan melalui unggahan di Telegram bahwa komisi anti-epidemi telah dihimpun guna menangani "dugaan kasus infeksi yang sangat berbahaya."
Kendati pernyataan resminya tidak secara terbuka mengakui kematian pekerja tersebut, Kobzev menyatakan bahwa seluruh kontak erat yang telah diidentifikasi saat ini berada dalam kondisi tanpa gejala dan menunjukkan hasil tes negatif.
Di samping upaya penanganan medis, aparat penegak hukum Rusia dilaporkan telah membuka penyelidikan pidana atas dugaan pelanggaran kesehatan dan keselamatan kerja yang mengakibatkan tewasnya pekerja laboratorium tersebut.
Mantan kepala Rospotrebnadzor, Gennady Onishchenko, meredam kekhawatiran publik melalui pernyatannya kepada kantor berita TASS. "Kemungkinan besar bukan pes, tetapi kalaupun terkonfirmasi, tidak akan ada penyebaran penyakit ini."
Ia menambahkan bahwa penularan secara luas sangat kecil kemungkinan terjadi, sembari menjelaskan bahwa suhu udara musiman yang lebih dingin akan membantu menekan potensi penyebaran wabah.
Mengingat fasilitas laboratorium tersebut berfokus pada penanganan patogen berbahaya, insiden kematian ini memicu spekulasi bahwa patogen tersebut bisa jadi merupakan pes paru atau pneumonic plague, yakni salah satu dari tiga varian yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis.
Berbeda dengan pes gelembung dan pes septikemia yang umumnya menular ke manusia melalui gigitan pinjal atau kontak dengan hewan terinfeksi, pes paru menyerang paru-paru secara langsung dan dapat dengan mudah menyebar antarmanusia melalui percikan droplet saluran pernapasan di udara.
Berdasarkan panduan dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat, pasien yang terinfeksi pes paru biasanya mengalami gejala serangan mendadak berupa demam, sakit kepala, dan lemas fisik, yang disertai gangguan pernapasan berat seperti sesak napas, nyeri dada, batuk, serta dahak berair atau berdarah.
Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa penyakit ini memiliki tingkat kematian yang tinggi jika tidak diobati, namun tetap sangat memungkinkan untuk ditangani melalui pemberian antibiotik sejak dini serta penerapan langkah-langkah pengendalian infeksi standar.
