AS Disebut Kirim Kapal Induk Ketiga ke Timur Tengah, Minyak Brent Melonjak Lebih dari 4%
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak mentah dunia melonjak setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat (AS) akan mengirim armada tempur kapal induk ketiga ke Timur Tengah. Rencana pengerahan kekuatan militer tambahan tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi perang AS dan Israel dengan Iran.
Baca Juga
Trump Tolak Proposal Iran Terkait Selat Hormuz, Harga Minyak Naik
Dikutip dari CNBC, minyak mentah Brent, yang menjadi acuan global, melonjak 4,4% dan ditutup di US$102,31 per barel pada Kamis (1/10/2026). Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 2,7% menjadi US$92,87 per barel.
Wall Street Journal melaporkan bahwa pemerintah AS juga mengerahkan kapal-kapal Korps Marinir dan hingga 10.000 personel militer tambahan ke kawasan Timur Tengah. Mengutip sejumlah pejabat AS, pengerahan pasukan tersebut diperkirakan tiba di kawasan pada akhir November.
Kapal induk USS Theodore Roosevelt dilaporkan meninggalkan San Diego pada Minggu untuk menjalani penugasan yang telah dijadwalkan. Sementara itu, USS George H.W. Bush dan USS George Washington saat ini telah berada di kawasan Timur Tengah.
Rencana pengerahan kekuatan militer tambahan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran. Langkah itu juga memunculkan spekulasi bahwa pemerintahan Presiden AS Donald Trump sedang mempersiapkan kemungkinan peningkatan operasi militer terhadap Iran.
Pekan lalu, sejumlah pejabat AS mengatakan kepada Wall Street Journal bahwa Trump telah menyampaikan kepada para pembantunya mengenai ekspektasi untuk kembali melancarkan serangan udara terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu AS pada November.
CEO Rapidan Energy sekaligus mantan pejabat CIA Scott Modell sebelumnya menilai arah perkembangan konflik menunjukkan potensi eskalasi lebih lanjut. "Menurut saya, presiden akan meningkatkan eskalasi setelah pemilihan paruh waktu. Kami terus mendengar bahwa Iran akan meningkatkan eskalasi menjelang pemilihan tersebut. Arah perkembangan saat ini menuju eskalasi," kata Modell kepada CNBC.
Ancaman di Selat Hormuz Membayangi
Lonjakan harga minyak terjadi meskipun aliran minyak mentah dari Timur Tengah dilaporkan telah pulih ke tingkat sebelum perang.
Pemulihan tersebut memberikan sedikit kelegaan bagi pasar energi global setelah konflik mengganggu jalur perdagangan minyak dan memicu kekhawatiran terhadap pasokan.
Namun, kondisi pasokan masih rentan. Setidaknya tiga kapal tanker dilaporkan mengalami serangan pekan ini ketika berusaha melintasi Selat Hormuz.
Informasi tersebut disampaikan oleh sejumlah lembaga keamanan maritim yang memantau aktivitas pelayaran di kawasan tersebut.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis bagi perdagangan minyak dan energi dunia. Gangguan keamanan di kawasan ini berpotensi meningkatkan biaya pengiriman, premi asuransi kapal, serta risiko keterlambatan distribusi minyak mentah dan produk energi.
Baca Juga
Iran Disebut Siap Buka Selat Hormuz dalam 7 Hari, Ini Syaratnya
Di sisi lain, pengiriman bahan bakar dari Timur Tengah masih menghadapi keterbatasan. Situasi tersebut menambah ketidakpastian terhadap keseimbangan pasokan energi global.
Kombinasi antara ancaman keamanan maritim, potensi peningkatan operasi militer AS, dan keterbatasan pengiriman bahan bakar membuat pasar minyak kembali sensitif terhadap setiap perkembangan geopolitik.
Risiko Geopolitik Jadi Penggerak Harga
Kenaikan harga minyak pada Kamis menunjukkan bahwa pemulihan pasokan belum sepenuhnya menghilangkan premi risiko geopolitik yang terbentuk selama konflik.
Baca Juga
Brent Naik Lebih dari 14% Sepanjang September, Pasar Minyak Dibayangi Krisis BBM AS dan Konflik Iran
Laporan mengenai pengerahan kapal induk tambahan dan ribuan personel militer AS memunculkan kekhawatiran bahwa ketegangan dapat meningkat kembali setelah sempat muncul harapan pemulihan arus perdagangan minyak.
Bagi pasar energi, eskalasi konflik berpotensi mengganggu kembali produksi, distribusi, dan pengiriman minyak dari kawasan Teluk.
Sebaliknya, jika jalur diplomasi berhasil meredakan ketegangan dan keamanan pelayaran membaik, tekanan terhadap pasokan serta premi risiko geopolitik berpeluang berkurang.
Perkembangan tersebut menjadi perhatian investor karena perubahan harga minyak dapat memengaruhi prospek inflasi global, biaya produksi, serta kebijakan suku bunga bank sentral.
Kenaikan harga energi yang berlangsung lama juga berpotensi menambah tekanan terhadap perekonomian negara-negara pengimpor minyak, terutama jika biaya energi mendorong kenaikan harga barang dan jasa secara lebih luas.
Dengan demikian, arah harga minyak dalam beberapa pekan mendatang tidak hanya ditentukan oleh pemulihan pasokan fisik, tetapi juga oleh perkembangan militer dan diplomasi antara AS dan Iran.
