Banjir Parah Terjang Bangkok, Status Darurat Ditetapkan dan Ribuan Warga Dievakuasi
Poin Penting
|
BANGKOK, Investortrust.id -- Ribuan warga Bangkok harus bergegas ke pengungsian pada hari Minggu (27/9/2026), setelah banjir yang dipicu hujan deras selama beberapa hari menggenangi rumah serta ruas jalan di ibu kota Thailand. Menyusul genangan air yang meluas, sebagian warga mulai mengeringkan kediaman dan barang-barang milik mereka. Menurut data dari Bangkok Metropolitan Administration (BMA), hampir 4.900 orang telah dievakuasi ke tempat pengungsian dengan sekitar 52.000 rumah tangga terdampak, yang memicu penetapan status deklarasi bencana di seluruh penjuru kota.
Lembaga meteorologi setempat mencatat curah hujan melebihi 330 milimeter mengguyur beberapa wilayah kota antara hari Kamis hingga Minggu (27/9/2026).
Walaupun Thailand sudah terbiasa dengan cuaca basah dan bulan September merupakan puncak musim hujan, sejumlah warga Bangkok menilai kondisi tahun ini jauh lebih buruk dari biasanya.
Seorang pekerja kantor berusia 44 tahun bernama Kosin Nilset, yang tinggal di sepanjang Terusan Premprachakorn di pinggiran kota, menceritakan dampak parah yang dialaminya. "Rumah kami terendam air selama sekitar 30 jam," kata Kosin kepada AFP pada Minggu pagi.
Tingginya luapan air kali ini bahkan dinilai melampaui bencana besar yang pernah melanda negara tersebut di masa lalu. Kosin mengungkapkan tingkat keparahan banjir saat ini bila dibandingkan dengan peristiwa masa lalu.
"Kali ini, tinggi muka air lebih tinggi dibanding banjir tahun 2011," ujar pria berusia 44 tahun tersebut.
Bencana banjir meluas yang melanda negara Asia Tenggara itu pada tahun 2011 sendiri tercatat menewaskan lebih dari 500 orang dan merusak jutaan rumah.
Kosin beserta keluarganya langsung memindahkan barang-barang mereka begitu melihat ketinggian air telah melewati tanggul penahan terusan, meski lantai dasar rumah mereka pada akhirnya tetap tergenang.
Di tengah kondisi tersebut, ia masih bersyukur atas tersedianya layanan dasar. "Setidaknya air keran dan listrik masih berfungsi," tutur Kosin sambil menyapu air menggunakan sapu.
Baca Juga
Banjir! Thailand Pindahkan Venue SEA Games 2025 Dari Songkhla ke Bangkok
Di kawasan timur Bangkok, para pejalan kaki yang mengenakan jas hujan plastik berjalan menembus banjir keruh yang mencapai setinggi lutut di area parkir toko kelontong, seraya mengapungkan barang bawaan mereka di dalam bak plastik.
Tingkat permukaan air di jaringan terusan Bangkok masih terpantau tinggi pada Minggu pagi, sementara pihak berwenang terus berupaya mempercepat proses drainase. Pihak BMA memperkirakan hujan masih akan mengguyur Bangkok dan provinsi sekitarnya sepanjang hari Minggu sebelum mulai mereda pada hari Senin.
Di sisi lain, para ilmuwan memperingatkan bahwa intensitas dan frekuensi fenomena cuaca ekstrem akan terus meningkat seiring pemanasan global akibat emisi bahan bakar fosil.
Gubernur Bangkok Chadchart Sittipunt mengonfirmasi bahwa beberapa ruas jalan masih terendam dan mengimbau warga dalam siaran Facebook Live untuk menghindari perjalanan yang tidak mendesak.
Chadchart sempat meninjau tempat pengungsian sementara di sebuah sekolah di kawasan Kheha Romklao pada Sabtu malam, lokasi tempat sekitar 1.000 orang dievakuasi. Beberapa pengungsi terlihat beristirahat di atas tempat tidur lipat dan bangku bersama anjing peliharaan mereka di lorong, sementara pengungsi lainnya berbaring menggunakan selimut di lantai ruang kelas setelah meja dan kursi digeser ke samping.
Dampak banjir ini juga mengganggu aktivitas pendidikan dan pasokan kebutuhan pokok masyarakat. BMA memastikan ratusan sekolah di kota tersebut akan ditutup pada hari Senin. Selain itu, beberapa toko kelontong mengalami kekosongan rak sepanjang akhir pekan karena warga berbondong-bondong membeli barang kebutuhan pokok. Menanggapi fenomena tersebut, kantor perdana menteri meminta masyarakat untuk menghindari panic buying dan memperingatkan bahwa tindakan penimbunan atau penaikkan harga secara tidak wajar merupakan tindak pidana.
Kondisi sulit juga dirasakan oleh Thidarat Silsuwan, seorang warga berusia 56 tahun yang tinggal seorang diri di rumahnya yang terendam sebagian di sepanjang Terusan Premprachakorn. Thidarat menceritakan perjuangannya bertahan di dalam rumah di tengah kepungan banjir. "Saya sudah tidur di atas meja selama dua hari sekarang," ungkapnya kepada AFP.
Ia memilih untuk tidak pergi ke tempat pengungsian karena fokus membersihkan serta menyelamatkan barang-barang berharga milik pribadinya. Namun, Thidarat terpaksa merelakan beberapa peralatan rumah tangga berukuran besar yang tidak sanggup ia evakuasi sendiri. "Saya mencoba mengangkat semuanya, tetapi saya menyerah pada peralatan listrik besar seperti kulkas dan mesin cuci. Saya rasa alat-alat itu sudah rusak," terangnya, dikutip CNA.
