Wall Street Babak Belur Jelang Keputusan The Fed, Dow Anjlok Lebih 300 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Wall Street kembali ditutup melemah pada perdagangan Selasa waktu AS atau Rabu (16/9/2026) WIB. Investor bersikap hati-hati menjelang keputusan kebijakan Federal Reserve (The Fed) yang akan diumumkan Rabu waktu AS. Lonjakan harga minyak dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS memperbesar kekhawatiran terhadap inflasi.
Dow Jones Industrial Average turun 328,09 poin atau 0,63% menjadi 52.093,11. S&P 500 melemah 0,45% ke level 7.585,73, sedangkan Nasdaq Composite turun 0,78% menjadi 25.981,57.
Baca Juga
Penurunan tersebut menjadi pelemahan beruntun bagi indeks-indeks utama Wall Street setelah investor kembali memperhitungkan risiko kenaikan suku bunga dan dampak konflik AS-Iran terhadap perekonomian.
Penurunan pada S&P 500 dan Nasdaq sedikit tertahan oleh penguatan sejumlah saham yang berkaitan dengan industri kecerdasan buatan (AI). Saham-saham tersebut tertekan pada sesi perdagangan sebelumnya.
Saham Coherent menguat hampir 2%, Advanced Micro Devices (AMD) naik 2%, sedangkan Qualcomm melonjak lebih dari 4%.
Namun, perhatian utama pasar tetap tertuju pada pasar obligasi dan energi. Yield Treasury 10 tahun, yang menjadi acuan penting bagi biaya pembiayaan di AS, sempat melonjak hingga 5,041% pada Selasa. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak Juli 2007.
Yield kemudian sedikit turun dari level tertingginya, tetapi masih naik lebih dari 3 basis poin menjadi sekitar 5,00%. Kenaikan yield mencerminkan tekanan jual terhadap obligasi pemerintah AS. Harga obligasi dan yield bergerak berlawanan arah.
Baca Juga
Peluang Kenaikan Bunga Fed Menguat, Yield Obligasi AS 10-Tahun Tembus 5%
Pergerakan pasar obligasi global dalam beberapa pekan terakhir semakin menjadi perhatian investor saham. Obligasi pemerintah di berbagai negara mengalami tekanan jual seiring kekhawatiran bahwa perang AS-Iran yang berkepanjangan akan memperkuat inflasi dan mendorong bank-bank sentral mengambil sikap lebih ketat.
“Investor akhirnya mulai mengejar kekhawatiran tersebut,” kata Melissa Brown, global head of investment decision research di SimCorp, dikutip CNBC.
Brown mengatakan selain utang pemerintah AS yang telah menembus US$40 triliun dan inflasi yang masih “membandel”, harga minyak di atas US$100 per barel menjadi faktor yang membuat investor semakin waspada.
Baca Juga
Minyak Brent Dekati US$ 110, Gangguan Pipa Saudi Picu Kekhawatiran Pasokan Global
Harga minyak kembali melonjak setelah Arab Saudi menutup jaringan pipa utama yang menyediakan jalur ekspor alternatif untuk menghindari Selat Hormuz.
Brent untuk pengiriman November naik hampir 3% pada Selasa dan ditutup di US$108,75 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak lebih dari 4% menjadi US$105,83 per barel.
Lonjakan harga energi menambah tekanan terhadap pasar karena minyak yang mahal berpotensi meningkatkan biaya transportasi, produksi, dan konsumsi sekaligus memperkuat ekspektasi inflasi.
Pasar Menanti Sinyal The Fed
Di tengah kenaikan yield dan harga minyak, perhatian investor kini beralih sepenuhnya kepada keputusan The Fed pada Rabu.
Data perdagangan kontrak berjangka federal funds menunjukkan pasar memperkirakan peluang lebih dari 94% bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Jika terjadi, target suku bunga acuan akan bergerak dari kisaran saat ini 3,5%-3,75%.
Keputusan tersebut berpotensi memberikan dampak luas terhadap perekonomian global, terutama melalui biaya pinjaman, nilai dolar, arus modal, pasar saham, dan pasar obligasi.
Bagi investor saham, persoalannya bukan hanya keputusan kenaikan suku bunga, tetapi juga bagaimana Ketua The Fed Kevin Warsh memberikan sinyal mengenai kebijakan berikutnya.
“Pasar setidaknya menginginkan sedikit panduan agar mereka bisa memahami situasinya,” ujar Brown.
Menurut Brown, jika Warsh menegaskan bahwa The Fed masih mengkhawatirkan inflasi dan siap bertindak sesuai perkembangan data, pasar kemungkinan dapat mencerna pesan tersebut. Sebaliknya, minimnya panduan mengenai arah kebijakan selanjutnya dapat meningkatkan ketidakpastian.
Tekanan terhadap valuasi saham juga mulai menjadi perhatian.
Dalam catatan Selasa, ahli strategi Barclays mengatakan kenaikan suku bunga telah memberikan tekanan terhadap valuasi saham dan semakin meningkatkan risiko bagi portofolio ekuitas.
Menurut Barclays, sejauh ini pertumbuhan laba perusahaan masih mampu mengimbangi tekanan dari kenaikan suku bunga. Namun, yield Treasury 10 tahun yang mendekati ambang 5% dinilai menjadi titik penting secara historis.
Ketika yield bergerak melewati level tersebut, suku bunga cenderung menjadi hambatan yang lebih persisten bagi pasar saham.
Situasi ini membuat Wall Street menghadapi tekanan yang semakin kompleks: harga minyak berada di atas US$100, yield Treasury 10 tahun tembus level tertinggi sejak 2007, sementara The Fed bersiap mengambil keputusan di tengah inflasi yang belum sepenuhnya mereda.
Perkembangan konflik AS-Iran dan kondisi Selat Hormuz juga menjadi variabel penting. Selama risiko gangguan pasokan energi tetap tinggi, investor akan mencermati apakah kenaikan harga minyak hanya bersifat sementara atau mulai menciptakan tekanan inflasi yang lebih tahan lama.
