Trump Sebut Suku Bunga AS Harus Jadi yang Terendah di Dunia
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id -- Presiden Donald Trump menegaskan bahwa tidak ada negara yang boleh memiliki suku bunga lebih rendah daripada Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut disampaikan beberapa hari menjelang pertemuan kebijakan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC).
Saat berbicara kepada wartawan di turnamen golf Irish Open, Trump mengaku tidak tahu apakah para pembuat kebijakan di Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada pertemuan pekan ini. Namun, ia menekankan bahwa AS seharusnya membayar suku bunga terendah di dunia tanpa memedulikan data inflasi maupun kondisi ekonomi yang ditunjukkan oleh Federal Reserve.
Pernyataan Presiden AS ini bertepatan dengan rilis Indeks Harga Konsumen dari Departemen Tenaga Kerja yang mencatatkan kenaikan terbesar dalam empat bulan terakhir.
Data indikator utama inflasi ini semakin memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS akan menaikkan kisaran target suku bunga acuan (federal funds rate), yang saat ini berada di level 3,5% hingga 3,75%, pada penutupan pertemuan hari Rabu (16/9/2026).
Tekanan harga di tingkat konsumen terus membumbung seiring respons perekonomian terhadap kebijakan peningkatan pajak impor oleh pemerintahan Trump serta lonjakan harga energi yang dipicu konflik dengan Iran. Kondisi ini memicu kekhawatiran di internal The Fed bahwa semakin lama inflasi bertahan tinggi, semakin besar biaya yang dibutuhkan untuk mengembalikannya ke target sasaran.
Momen krusial bagi para gubernur bank sentral ini terjadi hanya beberapa minggu menjelang pemilihan umum sela yang akan menentukan apakah Partai Republik mampu mempertahankan mayoritas tipis mereka di DPR dan Senat AS.
Berdasarkan jajak pendapat Reuters/Ipsos terbaru, kenaikan suku bunga berpotensi memperberat kekhawatiran pemilih terkait keterjangkauan biaya hidup. Di sisi lain, tingkat kepuasan publik terhadap Trump terus menurun seiring berlanjutnya tren inflasi. Trump berargumen bahwa tingginya suku bunga yang ditetapkan The Fed justru menguntungkan negara-negara lain dengan mengorbankan kepentingan Amerika Serikat.
Baca Juga
"Saya tahu lebih banyak tentang formula daripada siapa pun, dan dengan kredit terbaik di dunia, kita justru memakmurkan negara lain," ujar Trump seperti dikutip RTE, Selasa (15/9/2026) WIB.
Meski dikenal sering mengkritik mantan Ketua The Fed Jay Powell, Trump relatif lebih mendukung kepemimpinan bank sentral sejak calon pilihannya, Kevin Warsh, menjabat sebagai Ketua The Fed awal tahun ini.
Meski demikian, Trump belakangan mulai secara terbuka menyampaikan tuntutannya.
Dua pekan lalu, ia bahkan menuliskan ancaman melalui media sosial: "TURUNKAN SUKU BUNGA ATAU SAYA AKAN HENTIKAN PERDAGANGAN DENGAN NEGARA-NEGARA YANG MEMILIKI DEFISIT DENGAN KITA."
Pesan bernada gertakan tersebut kembali ditegaskan Trump kepada para wartawan tepat sebelum ia naik ke pesawat untuk kembali ke AS.
"Kami tidak ingin memiliki defisit dengan negara lain. Kami ingin memiliki surplus atau setidaknya impas," tegas Trump.
Menanggapi situasi yang memanas, Direktur Dewan Ekonomi Nasional Kevin Hassett menegaskan dalam acara "Fox News Sunday" bahwa Trump akan membela independensi Kevin Warsh di atas segalanya, terlepas dari apa pun keputusan suku bunga yang diambil The Fed.
Walau demikian, Hassett tidak memungkiri preferensi pribadi Trump dengan menambahkan bahwa jika The Fed akhirnya menaikkan suku bunga, Presiden dipastikan tidak akan merasa senang.
