Forum Bisnis BRICS 2026: India dan Iran Sepakat Perkuat Perdagangan dengan Mata Uang Lokal
Poin Penting
|
NEW DELHI, Investortrust.id -- India dan Iran secara resmi menyatakan dukungan bersama terhadap penggunaan mata uang lokal dalam aktivitas perdagangan antarnegara anggota BRICS pada sesi pembukaan Forum Bisnis BRICS 2026 di New Delhi.
Menteri Perdagangan India, Piyush Goyal, mendorong pengintegrasian sistem pembayaran digital India, Unified Payments Interface (UPI), yang saat ini telah diterima di 11 negara sebagai jembatan konektivitas transaksi antarnegara.
"Saya ingin mendesak negara-negara anggota BRICS dan negara mitra untuk menghubungkan sistem pembayaran kita, berdagang dalam mata uang lokal satu sama lain, menjadikan perdagangan digital bersifat global, dan membangun bersama untuk teknologi masa depan yang sedang berkembang," tegas Goyal dikutip TelegraphofIndia.com, Minggu (13/9/2026).
Langkah penguatan ini dinilai sangat penting agar rantai pasokan global tetap tangguh dan tidak pernah menjadi penghambat bagi pertumbuhan maupun kesejahteraan masyarakat di setiap negara anggota.
Goyal menambahkan bahwa negara-negara anggota BRICS perlu saling membuka akses pasar untuk berbagai produk unggulan, termasuk bahan baku dan mineral kritis. Menurutnya, hambatan nontarif sering kali menimbulkan biaya ekspor yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tindakan tarif, sehingga kemudahan akses pasar bagi para pelaku usaha harus makin ditingkatkan.
Selain mendorong integrasi pasar layanan dan kemudahan mobilitas profesional antarnegara, Goyal menyoroti sejumlah sektor strategis yang memiliki potensi kerja sama sangat besar, seperti pertanian, farmasi, teknik, elektronik, otomotif, komponen otomotif, hingga penguatan startup teknologi pertanian demi menjaga ketahanan pangan bersama.
Pada kesempatan yang sama, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan pentingnya pengalihan transaksi ke mata uang nasional untuk mengurangi kerentanan perdagangan dari kejutan politik global akibat ketergantungan pada sejumlah kecil mata uang utama.
Baca Juga
Indonesia Dorong Penguatan Tata Kelola Global serta Reformasi Sistem Multilateral di KTT BRICS 2026
"Salah satu langkah terpenting adalah memperluas penggunaan mata uang nasional dalam perdagangan di antara para anggota," ujar Pezeshkian.
Ia mendorong New Development Bank untuk menjadi mesin pembiayaan utama proyek infrastruktur dan energi melalui pinjaman serta penjaminan berbasis mata uang lokal. Selain itu, Pezeshkian mengajukan usulan pembentukan perusahaan reasuransi bersama BRICS dengan modal awal sebesar 10 miliar dolar AS guna melindungi proyek-proyek vital serta meningkatkan kepercayaan sektor swasta.
Presiden Iran juga mengingatkan bahwa tekanan politik atau militer terhadap sistem keuangan dan energi suatu negara dapat berdampak luas hingga mengganggu stabilitas regional maupun global.
"Guna meningkatkan perdagangan internal BRICS, kita harus bergerak dari kerja sama yang terfragmentasi menuju integrasi bertahap pada infrastruktur perdagangan," jelas Pezeshkian. Ia meyakini bahwa BRICS akan menjadi kekuatan nyata dalam ekonomi global ketika kerja sama yang terjalin tercermin secara konkret pada kontrak kerja, pembangunan pabrik, pelabuhan, serta peningkatan kehidupan ekonomi masyarakat di negara-negara anggota.
Penyelenggaraan KTT BRICS ini berlangsung di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi global yang dipicu oleh perang Rusia-Ukraina, konflik AS-Iran yang mengarah pada pemblokiran Selat Hormuz, serta kebijakan tarif dari pemerintah AS. Menteri Pembangunan Ekonomi Rusia, Maxim Reshetnikov, memaparkan bahwa kelompok BRICS kini mewakili seperempat perekonomian dunia. Ia mengusulkan dua inisiatif strategis, yakni pembentukan Bursa Gandum BRICS (BRICS grain exchange) dan Asosiasi Kawasan Ekonomi Khusus (BRICS SEZs Association) untuk mengatasi ketergantungan pada patokan harga pasar eksternal. Reshetnikov menegaskan, "Kekuatan BRICS tidak terletak pada apa yang dapat dicapai oleh masing-masing dari kita secara individu, melainkan pada apa yang dapat kita bangun berdampingan."
Blok BRICS yang awalnya terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan telah memperluas keanggotaannya pada tahun 2024 dengan bergabungnya Mesir, Ethiopia, Iran, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi, yang kemudian disusul oleh Indonesia pada tahun 2025. Selain itu, sejumlah negara seperti Belarusia, Bolivia, Kazakhstan, Kuba, Malaysia, Nigeria, Thailand, Uganda, Uzbekistan, dan Vietnam telah ditetapkan sebagai negara mitra BRICS. Kini, integrasi 11 negara ekonomi berkembang utama di dalam BRICS mencakup sekitar 49,5 persen dari total populasi dunia, menyumbang sekitar 40 persen dari PDB global, serta menguasai sekitar 26 persen dari total perdagangan dunia.
