Indeks Dow Jones Anjlok Lebih dari 300 Poin, Wall Street Merah 4 Hari Beruntun
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Bursa saham Amerika Serikat kembali melemah pada Kamis waktu AS atau Jumat (11/9/2026) WIB, memperpanjang penurunan menjadi empat sesi berturut-turut. Investor mengurangi kepemilikan aset berisiko setelah harga minyak menembus US$100 per barel dan imbal hasil Treasury melonjak ke level tertinggi dalam hampir tiga tahun.
Dow Jones Industrial Average turun 316,56 poin atau 0,6% menjadi 52.064,10. Indeks S&P 500 melemah 0,58% menjadi 7.591,70, sedangkan Nasdaq Composite turun 0,65% ke 26.081,72.
Lonjakan harga minyak menjadi pemicu utama tekanan pasar. Minyak mentah WTI melonjak 6,7% dan ditutup pada US$102,48 per barel. Brent, benchmark minyak dunia, naik 5,9% menjadi US$107,63. Kedua benchmark tersebut mencatat harga penutupan tertinggi sejak 19 Mei.
Baca Juga
Harga Minyak Bergolak Dipicu Eskalasi Konflik AS-Iran, Brent Menuju US$ 120?
Sejak perang AS-Iran dimulai pada akhir Februari, harga WTI telah melonjak 52,9%. Secara year-to-date, kenaikannya mencapai 78,5%.
Dihantui Kekhawatiran Inflasi
Kenaikan harga energi menciptakan kekhawatiran baru terhadap inflasi sekaligus prospek pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat.
Investor khawatir perang yang berlangsung semakin lama akan mengganggu pasokan energi dan pelayaran di Timur Tengah, terutama jika serangan terhadap kapal tanker dan infrastruktur energi terus meningkat.
Tekanan tersebut langsung terlihat di pasar obligasi. Yield Treasury 10 tahun menembus 4,95%, level tertinggi sejak Oktober 2023.
Kombinasi minyak mahal dan yield obligasi tinggi menjadi pukulan bagi saham-saham yang valuasinya sensitif terhadap suku bunga.
Saham perusahaan semikonduktor yang sebelumnya menjadi motor utama reli pasar menjadi salah satu korban. Intel anjlok 5,6%, sedangkan Micron Technology turun 4,7%.
Saham perusahaan teknologi raksasa relatif lebih baik. Alphabet dan Microsoft masing-masing ditutup naik kurang dari 1%. Sementara Apple justru melonjak 3,6% setelah peluncuran sukses iPhone lipat pertamanya.
Namun, kenaikan Apple belum cukup untuk menyelamatkan indeks teknologi dan pasar secara keseluruhan.
Investor juga harus mencerna data inflasi produsen AS. PPI naik 0,4% pada Agustus, sesuai perkiraan pasar. PPI inti yang tidak memasukkan pangan dan energi naik 0,2%, sedikit lebih rendah dari perkiraan 0,3%.
Meski data tersebut relatif jinak, pasar tetap khawatir karena lonjakan harga minyak dapat memberikan tekanan inflasi pada bulan-bulan berikutnya.
Secara tahunan, PPI masih mencapai 5,4%, jauh di atas target inflasi Federal Reserve sebesar 2%.
Situasi tersebut menempatkan The Fed dalam posisi sulit. Di satu sisi, kenaikan yield dan biaya energi dapat memperlambat perekonomian. Di sisi lain, minyak yang mahal dapat menghidupkan kembali inflasi sehingga bank sentral tidak leluasa memangkas suku bunga.
Menurut Stephen Coltman, head of macro di 21Shares, rilis PPI belum memberikan kesimpulan mengenai naik atau tidaknya suku bunga The Fed pekan depan. “Namun, WTI yang kembali menembus US$100 dan yield Treasury yang mencapai level tertinggi baru jelas meningkatkan taruhan investor menjelang laporan CPI," kata Coltman, dikutip CNBC.
Data CPI yang akan dirilis Jumat menjadi perhatian utama Wall Street. Angka tersebut akan menjadi petunjuk lebih jelas mengenai tekanan inflasi sebelum Federal Reserve menggelar rapat kebijakan pada 16 September.
Pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar 73% untuk kenaikan suku bunga 25 basis poin pada pekan depan.
Kenaikan ekspektasi suku bunga menjadi masalah bagi saham-saham pertumbuhan, terutama perusahaan teknologi dengan valuasi tinggi. Semakin tinggi yield obligasi, semakin mahal biaya modal dan semakin rendah nilai sekarang dari keuntungan perusahaan yang diharapkan pada masa depan.
Program buyback obligasi Treasury senilai US$6 miliar juga belum mampu meredakan tekanan di pasar. Departemen Keuangan AS pada Kamis membeli US$5,19 miliar obligasi Treasury bertenor panjang.
Baca Juga
Inflasi Hantui Pasar Obligasi AS, Yield US Treasury 10-Tahun Melejit Dekati 5%
Program tersebut dirancang untuk meningkatkan likuiditas dan membantu pengelolaan kurva imbal hasil, tetapi kenaikan harga minyak membuat perhatian investor kembali tertuju pada risiko inflasi.
Pasar kini menghadapi kombinasi yang tidak nyaman: minyak mahal, yield obligasi tinggi dan ketidakpastian geopolitik.
Jika harga minyak bertahan di atas US$100 dalam waktu lama, dampaknya tidak hanya akan dirasakan konsumen melalui harga bahan bakar. Biaya produksi dan transportasi juga dapat meningkat, yang pada akhirnya berpotensi menekan margin perusahaan dan laba korporasi.
Sebaliknya, jika konflik AS-Iran mereda dan lalu lintas energi di kawasan kembali normal, premi risiko geopolitik dapat berbalik turun dengan cepat.
Untuk sementara, Wall Street memilih berhati-hati. Setelah empat hari berturut-turut melemah, perhatian investor kini tertuju pada data CPI dan arah kebijakan Federal Reserve.
