Pasar Asia Menguat, Investor Pantau Serangan AS-Iran dan Harga Minyak
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Bursa saham Asia-Pasifik dibuka menguat pada Senin (7/9/2026), meskipun investor kembali dihadapkan pada eskalasi konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berpotensi mengganggu pasokan energi global.
Penguatan pasar saham terutama didorong optimisme terhadap sektor teknologi dan semikonduktor. Namun, investor tetap mencermati perkembangan di Timur Tengah setelah AS dan Iran kembali terlibat dalam aksi saling serang dalam beberapa hari terakhir.
Baca Juga
Dikutip dari CNBC, Nikkei 225 Jepang menguat sekitar 1% pada awal perdagangan dan kemudian mencatat kenaikan sekitar 1,8%. Saham-saham terkait semikonduktor menjadi salah satu motor penguatan.
Kospi Korea Selatan melonjak 3,34% pada pembukaan perdagangan, mencapai 6.910,78. Penguatan tersebut terutama didorong saham teknologi dan semikonduktor. Indeks Kosdaq juga mencatat kenaikan kuat.
Di Australia, indeks S&P/ASX 200 bergerak relatif datar pada awal perdagangan.
Pergerakan positif bursa Asia menunjukkan investor untuk sementara masih mampu mengesampingkan risiko geopolitik dan berfokus pada prospek perusahaan teknologi. Namun, kenaikan harga minyak menjadi ancaman yang semakin besar bagi inflasi dan pertumbuhan ekonomi global.
Konflik AS-Iran
Pasar energi kembali menjadi pusat perhatian setelah militer AS mengonfirmasi serangan terhadap tiga kapal tanker minyak Iran.
Serangan tersebut dilakukan setelah Iran meluncurkan rudal balistik ke arah dua kapal perang AS di kawasan tersebut. Menurut laporan Associated Press, dua tanker Iran dilumpuhkan secara permanen dan kapal ketiga yang tidak membawa muatan dihancurkan. Washington menyebut kapal-kapal tersebut terkait jaringan minyak yang digunakan untuk mendanai Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Iran kemudian menyatakan akan meningkatkan respons terhadap tindakan AS. Teheran juga mengumumkan rencana membentuk "zona eksklusi" di sekitar Selat Hormuz yang dapat membatasi pelayaran kapal di jalur strategis tersebut.
Situasi tersebut berpotensi memperbesar risiko terhadap arus perdagangan minyak dunia karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi terpenting dunia.
Reuters melaporkan Iran masih memiliki kemampuan untuk mengganggu pelayaran di kawasan tersebut, meskipun tekanan ekonomi dan blokade maritim AS telah mengurangi kemampuan Tehran untuk menggunakan Selat Hormuz sebagai alat tekanan terhadap pasar global.
Harga Minyak Naik
Ketegangan terbaru langsung tercermin pada pasar minyak.
Dalam perdagangan awal Asia Senin, kontrak minyak mentah Brent naik sekitar 0,6% menjadi US$96,82 per barel, sedangkan WTI naik 0,8% menjadi US$92,18 per barel, menurut laporan The Wall Street Journal.
Baca Juga
Iran Balas AS dan Perketat Kontrol di Hormuz, Harga Minyak Naik Hampir 1%
Kenaikan harga minyak kembali menghidupkan kekhawatiran mengenai inflasi global. Jika gangguan pengiriman berlangsung lama, kenaikan harga energi dapat meningkatkan biaya transportasi, manufaktur dan kebutuhan rumah tangga.
Risiko tersebut menjadi semakin penting bagi bank sentral karena kenaikan harga minyak dapat menghambat proses penurunan inflasi sekaligus meningkatkan kemungkinan suku bunga bertahan lebih tinggi lebih lama.
Ketegangan pasar juga meningkat setelah Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan kemungkinan tercapainya kesepakatan nuklir dengan Iran dalam waktu dekat semakin tidak pasti.
Dalam wawancara dengan ABC News, Wright mengatakan AS mungkin tidak mencapai kesepakatan nuklir dengan pemerintahan Iran saat ini. Menurutnya, opsi lain adalah menghancurkan kemampuan Iran untuk mengembangkan senjata nuklir.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa strategi Washington dapat bergeser semakin jauh dari pencapaian kesepakatan diplomatik menuju upaya untuk secara langsung menghilangkan kemampuan nuklir Iran.
The Guardian melaporkan Wright juga mengatakan Selat Hormuz belum dapat dianggap aman bagi kapal tanker tanpa pengawalan Angkatan Laut AS. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa kehadiran militer AS di kawasan dapat berlangsung lebih lama.
Pasar Saham AS Libur
Sementara itu, pasar saham Amerika Serikat ditutup pada Senin karena libur Labor Day. Bursa saham AS, termasuk New York Stock Exchange (NYSE) dan Nasdaq, akan kembali beroperasi pada Selasa.
Baca Juga
Wall Street Melemah Setelah Rilis Data Ketenagakerjaan AS, Dow Anjlok Hampir 300 Poin
Dengan tidak adanya perdagangan di Wall Street, investor global menjadikan bursa Asia sebagai indikator awal respons pasar terhadap eskalasi terbaru di Timur Tengah.
Menariknya, pasar saham Asia justru menunjukkan ketahanan. Penguatan saham teknologi, terutama perusahaan semikonduktor, mampu mengimbangi kekhawatiran akibat kenaikan harga minyak.
Di Korea Selatan, indeks saham semikonduktor menjadi salah satu pendorong utama kenaikan Kospi. Sementara di Jepang, saham teknologi dan perusahaan yang berkaitan dengan rantai pasok chip turut
Namun, ketahanan tersebut masih akan diuji apabila konflik AS-Iran kembali meluas dan mengganggu lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
