Siapa Menguasai Selat Hormuz Saat Ini: Iran atau AS?
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust — Siapa yang sesungguhnya menguasai Selat Hormuz saat ini, Iran atau Amerika Serikat (AS)? Jawabannya tidak sesederhana klaim kedua negara. AS memiliki keunggulan militer dan mampu membuka serta melindungi jalur pelayaran tertentu. Namun, Iran tetap mempunyai kemampuan besar untuk mengganggu, membatasi, dan menaikkan risiko pelayaran. Dengan kata lain, AS unggul dalam kekuatan tempur, tetapi Iran masih memegang daya paksa geografis.
Perseteruan mengenai penguasaan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia itu kembali memanas. Presiden AS Donald Trump menyatakan Washington telah menguasai Selat Hormuz dan memastikan jalur pelayaran internasional aman. Pemerintah AS mengatakan pasukannya telah membersihkan ranjau laut Iran serta melindungi kapal-kapal komersial yang melintas melalui koridor selatan dekat wilayah Oman.
Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) membantah keras klaim tersebut. Pada Jumat, 28 Agustus 2026, Angkatan Laut IRGC menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap berada dalam “kendali penuh dan menentukan” Iran. Teheran menyatakan kapal-kapal tidak dapat melintas tanpa berkoordinasi dengan otoritas Iran. Pembatasan akan terus diberlakukan sampai operasi militer, blokade pelabuhan, dan tekanan ekonomi AS dihentikan.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan tidak satu pun pihak memiliki kontrol yang mutlak dan tidak terbantahkan. AS mampu menghancurkan kapal penebar ranjau, membersihkan sebagian alur pelayaran, mengawal kapal dagang, serta memblokade ekspor minyak Iran. Sebaliknya, Iran tetap mampu menggunakan rudal antikapal, drone, kapal cepat, ranjau laut, pasukan komando, dan pos pemeriksaan untuk mengancam kapal yang dianggap tidak mematuhi ketentuannya.
Baca Juga
Qatar–Iran Bahas Koridor Hormuz, AS Siapkan Pengiriman Kapal Induk
Washington memegang keunggulan dalam apa yang disebut sea control, yakni kemampuan mempertahankan koridor pelayaran dan mengoperasikan kekuatan laut dalam wilayah tertentu. Iran, pada sisi lain, mempertahankan kemampuan sea denial: mungkin tidak sepenuhnya menguasai seluruh perairan, tetapi mampu membuat pelayaran sangat berbahaya dan mahal bagi pihak lain.
Bukti terkuat bahwa klaim “kendali penuh” AS belum sepenuhnya terwujud terlihat dari rendahnya lalu lintas kapal. Data awal Kpler menunjukkan hanya tujuh kapal pengangkut komoditas yang melintasi Selat Hormuz pada Kamis, 27 Agustus 2026, turun dari 17 kapal sehari sebelumnya dan di bawah rata-rata 10 hari sekitar 15 kapal. Pada akhir pekan sebelumnya, jumlah kapal komoditas yang melintas bahkan kurang dari 20 kapal. Sebagian kapal juga mematikan perangkat pelacak atau automatic identification system karena khawatir menjadi sasaran.
Pada Agustus 2026, Kpler mencatat ekspor minyak mentah melalui Hormuz hanya sekitar 2,3 juta barel per hari. Angka itu jauh di bawah 4,49 juta barel per hari pada Juli dan 15,82 juta barel per hari selama tiga bulan sebelum serangan AS dan Israel terhadap Iran. Penurunan sangat tajam tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan AS membuka koridor pelayaran belum mengembalikan kepercayaan perusahaan kapal, pemilik muatan, dan perusahaan asuransi.
Iran juga telah memasukkan 45 kapal tanker ke dalam daftar hitam karena dituduh melanggar aturan transitnya. Teheran mengancam kapal-kapal tersebut dengan denda, penahanan, dan penyitaan kargo. Iran bahkan meminta kapal memperoleh izin dan membayar jasa keamanan sebelum melewati selat. Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa, terlepas dari klaim AS, keputusan Iran masih memengaruhi perilaku nyata pelaku pelayaran internasional. Reuters
Akan tetapi, Iran pun tidak menguasai Hormuz sepenuhnya. Kapal-kapal komersial masih dapat melintas dengan perlindungan AS, terutama melalui koridor di bagian selatan. Washington juga mampu menekan kegiatan pelabuhan dan ekspor minyak Iran. Artinya, Teheran tidak dapat mengatur seluruh pergerakan kapal ataupun menyingkirkan kehadiran militer AS dari kawasan tersebut.
Secara geografis dan hukum internasional, Selat Hormuz juga bukan milik tunggal Iran. Jalur ini terletak di antara Iran dan Oman. Skema pemisahan lalu lintas atau Traffic Separation Scheme yang berlaku di sana diusulkan bersama oleh Iran dan Oman serta diadopsi Organisasi Maritim Internasional atau IMO sejak 1968. Kapal internasional memiliki hak lintas transit, sehingga tidak ada negara yang secara sah dapat memperlakukan seluruh selat itu sebagai wilayah kedaulatannya sendiri. International Maritime Organization
IMO sendiri menilai keadaan Selat Hormuz hingga akhir Agustus 2026 masih belum terselesaikan. Sedikitnya 70 serangan terhadap pelayaran internasional telah diverifikasi sejak konflik pecah pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut menewaskan 19 pelaut, sedangkan ribuan awak kapal sempat terjebak di kawasan Teluk Persia. Fakta ini memperlihatkan bahwa selat tersebut belum sepenuhnya aman meskipun ranjau di sebagian jalur diklaim telah dibersihkan.
Pertarungan atas Hormuz sangat penting karena jalur sempit tersebut merupakan urat nadi energi dunia. UN Trade and Development atau UNCTAD memperkirakan sekitar seperempat perdagangan minyak dunia melalui laut melewati Hormuz. Data U.S. Energy Information Administration juga menunjukkan lebih dari 20% perdagangan gas alam cair dunia melintasi jalur ini. Gangguan kecil sekalipun dapat menaikkan harga minyak, gas, ongkos angkut, dan premi asuransi secara global.
Karena itu, ukuran penguasaan Hormuz bukan semata-mata berapa banyak kapal perang yang ditempatkan. Penguasaan juga ditentukan oleh kemampuan membuat kapal dagang berani melintas secara teratur, aman, dan ekonomis. Selama perusahaan pelayaran masih menunggu izin, mengubah rute, mematikan transponder, atau menuntut premi asuransi sangat tinggi, klaim bahwa jalur tersebut telah sepenuhnya dikuasai dan dinormalisasi belum terbukti.
Kesimpulannya, secara militer AS saat ini lebih kuat dan mampu mengendalikan koridor pelayaran tertentu. Namun, secara geografis dan operasional, Iran masih memiliki daya ganggu yang menentukan. Tidak ada satu pihak pun yang sepenuhnya menguasai Selat Hormuz. Yang terjadi adalah keseimbangan berbahaya: Amerika Serikat mempunyai kekuatan untuk membuka jalur, sedangkan Iran masih memiliki kemampuan untuk membuat jalur itu kembali tidak aman.
Dengan demikian, jawaban paling tepat atas pertanyaan siapa menguasai Hormuz saat ini adalah AS menguasai sebagian ruang operasi laut, tetapi Iran masih menguasai sebagian besar tingkat risiko. Selat Hormuz belum menjadi milik pemenang. Ia masih menjadi arena perebutan kendali dan perdagangan dunia harus membayar mahal ketidakpastian tersebut.
Baca Juga
Meski Turun, Harga Minyak Tetap Tinggi
Perebutan kendali atas Selat Hormuz membuat harga minyak mentah dunia tetap berada pada level tinggi, meskipun telah turun dari puncak kepanikan pasar. Pada penutupan perdagangan Jumat, 28 Agustus 2026, minyak mentah Brent berada di kisaran US$88,29 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) sekitar US$83,44 per barel. Dalam sepekan, harga Brent turun lebih dari 5% dan WTI melemah lebih dari 4%. Namun, dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, harga kedua minyak acuan tersebut masih lebih tinggi sekitar 30%.
Harga minyak sempat melonjak tajam ketika konflik pecah dan sebagian besar kapal menghentikan pelayaran melalui Hormuz. U.S. Energy Information Administration (EIA) mencatat harga Brent rata-rata sekitar US$103 per barel pada Maret 2026, jauh di atas kisaran US$61–US$72 per barel pada Januari dan Februari. Pada fase awal konflik, pasar khawatir serangan terhadap kapal, pemasangan ranjau, serta penutupan jalur pelayaran akan menghilangkan sebagian besar pasokan minyak dari kawasan Teluk Persia.
Tekanan kembali meningkat pada 20–21 Agustus 2026 setelah pemerintahan Presiden Donald Trump mengancam akan menjatuhkan sanksi terhadap negara dan perusahaan yang tetap berhubungan dagang dengan Iran. Harga Brent sempat mencapai US$94,39 per barel, sedangkan WTI berada pada US$87,06 per barel. Namun, harga kemudian berbalik turun setelah muncul kabar mengenai kemungkinan kesepakatan Iran dan Oman untuk menormalisasi pelayaran serta membuka kembali jalur transit yang lebih aman.
Penurunan harga tidak berarti blokade dan perebutan Hormuz telah berakhir. Selat tersebut memang belum sepenuhnya terbuka, tetapi juga tidak tertutup secara absolut. Sejumlah kapal masih dapat melintas melalui koridor yang dilindungi militer AS, walaupun volumenya jauh di bawah keadaan normal. Sebagian minyak juga dialihkan melalui jaringan pipa menuju Laut Merah dan Pelabuhan Fujairah di Uni Emirat Arab. Jalur alternatif itu tidak mampu menggantikan seluruh kapasitas Hormuz, tetapi cukup membantu mengurangi tekanan terhadap pasokan dunia.
Pasar juga memperhitungkan kemungkinan tercapainya penyelesaian diplomatik. Harapan terhadap kesepakatan Iran, Oman, dan AS membuat pelaku pasar menilai gangguan pasokan tidak akan berlangsung tanpa batas. Pada saat bersamaan, kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global dan kemungkinan kenaikan suku bunga AS menahan permintaan minyak serta ikut menekan harga.
Meski demikian, harga Brent di sekitar US$88 per barel masih mengandung premi risiko geopolitik yang besar. EIA memperkirakan harga Brent rata-rata berada di sekitar US$85 per barel pada kuartal III-2026 karena terganggunya pengiriman melalui Hormuz terus mengurangi persediaan minyak dunia. Selama keamanan pelayaran belum sepenuhnya pulih, harga minyak akan tetap sangat sensitif terhadap setiap serangan kapal, pemasangan ranjau, ancaman sanksi, dan perkembangan perundingan.
Karena itu, pasar minyak dunia kini berada dalam keseimbangan yang rapuh. Jika Iran meningkatkan serangan atau menutup koridor pelayaran yang tersisa, harga Brent dapat kembali menembus US$100 per barel. Sebaliknya, jika mekanisme pelayaran yang aman berhasil disepakati dan perusahaan asuransi kembali bersedia menjamin kapal, harga berpeluang turun ke bawah US$80 per barel. Harga minyak yang turun dari puncaknya bukanlah tanda bahwa krisis Hormuz selesai, melainkan cerminan keyakinan pasar bahwa sebagian pasokan masih dapat mengalir di tengah blokade dan perebutan kendali yang belum berakhir.
