Sri Purwati, dari Pekerja Migran Menjadi Pemilik Empat Kedai Sri Rahayu di Taipei
Poin Penting
|
TAIPEI, Investortrust.id — Di negeri orang, Sri Purwati tidak pernah kehilangan Indonesia. Merah putih tetap menjadi warna kebanggaannya, makanan Indonesia menjadi jalan usahanya, dan Kedai Sri Rahayu yang dirintisnya di Taipei menjadi tempat bertemunya kerinduan akan kampung halaman dengan keberanian seorang perempuan Indonesia membangun kehidupan baru jauh dari tanah kelahirannya.
Sabtu, 22 Agustus 2026, suasana Kedai Sri Rahayu di Taipei terasa hangat. Sabtu pagi, 22 Agustus 2026, suasana Kedai Sri Rahayu di Taipei terasa lebih hangat dari biasanya. Ada tamu istimewa dari Jakarta. Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) Hery Gunardi, yang baru saja menyelesaikan jogging pagi di kawasan Chiang Kai-shek Memorial Hall, mampir ke kedai milik Sri Purwati, perempuan asal Cilacap yang telah bertahun-tahun membangun kehidupan dan usahanya di Taiwan.
Pagi itu, Kedai Sri Rahayu mendadak semakin ramai dan terasa sangat Indonesia. Hery tidak datang sendirian. Ia hadir bersama rombongan BRI dari Jakarta yang berada di Taipei untuk menghadiri Festival Budaya Indonesia sekaligus Grand Launching BRImo Taiwan, Minggu, 23 Agustus 2026. Di tengah aroma masakan Nusantara, percakapan dalam bahasa Indonesia, dan suasana akrab khas warung Indonesia, pertemuan antara seorang direktur utama bank besar dan pengusaha diaspora itu berlangsung cair, jauh dari kesan formal.
Kunjungan tersebut menjadi semakin menarik karena Sri Purwati bukan sekadar pemilik kedai yang disinggahi Hery. Ia juga nasabah BRI Taipei dan pengguna BRImo Taiwan. Dari obrolan ringan di kedainya kemudian mengalir sebuah cerita tentang perjalanan perempuan Indonesia yang pernah bekerja mengasuh anak di Taipei, membangun usaha makanan halal dari bawah, mengembangkan satu kedai menjadi empat, hingga kini rutin mengirimkan hasil usahanya ke Indonesia.
Pertemuan pagi itu seakan mempertemukan dua sisi dari satu cerita yang sama. Di satu sisi ada BRI yang datang ke Taiwan membawa layanan perbankan dan teknologi digital untuk mendekatkan diri kepada ratusan ribu warga Indonesia. Di sisi lain ada Sri Purwati, diaspora Indonesia yang membutuhkan layanan perbankan cepat dan mudah untuk menghubungkan kehidupan serta usahanya di Taiwan dengan keluarga dan kegiatan ekonominya di Tanah Air.
Bagi Sri, hubungan dengan BRI bahkan bermula dengan cara yang sangat sederhana. Sekitar setahun lalu, seorang staf BRI datang makan di Kedai Sri Rahayu. Dari meja makan itulah ia mendapat tawaran menjadi nasabah BRI. Sri mencobanya. Pengalaman menggunakan layanan BRI ternyata membuatnya bertahan. “Bagus, karena lancar, cepat, dan mudah,” kata Sri ketika ditanya Hery tentang pengalamannya menggunakan rekening BRI di Taiwan.
Manfaat itu semakin terasa setelah ia menggunakan BRImo Taiwan. Bagi Sri yang sehari-hari sibuk mengelola usaha kuliner, kemampuan melakukan transaksi tanpa terikat jam operasional bank merupakan kemudahan yang sangat berarti. Kini, ketika perlu mengirimkan uang ke Indonesia, ia tidak harus menunggu pagi atau datang ke kantor bank.
“Kapan pun mau kirim, tengah malam atau jam berapa, kita kirim,” ujarnya. Kalimat itu justru menggambarkan esensi kehadiran BRImo Taiwan bagi diaspora seperti Sri Purwati: Taipei dan Indonesia memang terpisah ribuan kilometer, tetapi untuk mengirimkan hasil jerih payah kepada keluarga di kampung halaman, jaraknya kini hanya sejauh sentuhan jari di telepon genggam.
Di balik kesibukan melayani pelanggan, Sri Purwati bercerita tentang perjalanan hidupnya: dari perempuan asal Cilacap, Jawa Tengah, yang pernah bekerja mengasuh anak di Taipei, hingga kini menjadi pengusaha kuliner dengan empat kedai. Perjalanan itu tidak terjadi dalam semalam. Ada kerja keras, keberanian menangkap peluang, kemampuan beradaptasi dengan lingkungan baru, dan kerinduan menghadirkan makanan Indonesia yang halal bagi masyarakat Indonesia di Taiwan.
Bangga Jadi Orang Indonesia
Nama pemilik kedai itu sebenarnya Sri Purwati, bukan Sri Rahayu. Nama “Rahayu” sengaja dipilih untuk usahanya karena mengandung doa dan harapan akan kebaikan serta kemakmuran. Di kalangan teman-temannya, ia juga akrab dipanggil Yayu Sri. Identitas sebagai perempuan Cilacap dan Indonesia tetap melekat kuat meski kini ia telah menjadi warga Taiwan karena keluarganya menetap di sana.
“Saya bangga menjadi orang Indonesia,” ujarnya. Bagi Sri, tinggal di negeri orang bukan alasan untuk meninggalkan identitas tanah kelahiran. Bahkan, pada akhir pekan ia sengaja mengenakan pakaian bernuansa Indonesia. Merah putih menjadi salah satu pilihannya, sementara pada kesempatan lain ia mengenakan pakaian yang mengingatkannya pada Cilacap meski ia yang bersuami warga Taiwan sudah memiliki kewarganegaraan Taiwan.
Berawal dari Sulitnya Mencari Makanan Halal
Kedai Sri Rahayu lahir dari kebutuhan yang sangat akan makanan halal. Sri melihat banyak warga Indonesia, termasuk pekerja dan pelajar, membutuhkan tempat mendapatkan makanan Indonesia yang halal di Taipei. Sebagai seorang Muslim, ia memahami kesulitan tersebut.
Keinginan menyediakan makanan halal bagi teman-teman Indonesia itulah yang kemudian berkembang menjadi usaha. “Kepingin biar mudah makan makanan halal di Taiwan,” kata Sri. Ia ingin membantu pekerja maupun mereka yang sedang menempuh pendidikan di Taiwan mendapatkan makanan yang akrab dengan lidah mereka.
Sebelum menjadi pengusaha, Sri pernah bekerja di Taipei sebagai pengasuh anak. Kehidupannya kemudian berubah setelah menikah dengan warga Taiwan. Keluarganya juga memiliki kegiatan perkebunan bunga di kawasan pegunungan Alishan.
Jalan menuju usaha restoran muncul secara alami. Sri awalnya menjalankan pesanan makanan secara daring dan mengantarkannya kepada pelanggan. Dalam salah satu perjalanan mengantar pesanan, ia melihat sebuah lokasi yang menurutnya cocok untuk membuka kedai. Sri menggambarkan ketertarikannya terhadap tempat tersebut seperti “cinta pada pandangan pertama”.
Dari situlah Kedai Sri Rahayu berkembang. Setelah sekitar lima tahun menjalankan usaha, bisnisnya tidak lagi hanya satu kedai. Kini terdapat empat Kedai Sri Rahayu. Pelanggannya pun tidak hanya masyarakat Indonesia. Warga Taiwan dan warga negara lain ikut menikmati makanan yang disajikannya. Lokasinya yang berdekatan dengan sebuah masjid besar juga membuat kedainya didatangi pelanggan Muslim dari berbagai negara, termasuk warga Palestina.
Bahan baku dan bumbu yang digunakan untuk menghadirkan cita rasa Nusantara sebagian didatangkan dari Indonesia melalui pemasok. Dengan demikian, kedai tersebut bukan sekadar menjual makanan, tetapi ikut menjadi bagian dari mata rantai ekonomi yang menghubungkan Indonesia dengan komunitas Indonesia di Taiwan.
Menjadi Nasabah BRI Sejak 2025
Perjalanan bisnis Sri kemudian bersinggungan dengan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI. Sri mengatakan dirinya baru menjadi nasabah BRI Taipei sekitar setahun terakhir atau sejak 2025.
Awalnya bukan Sri yang mendatangi bank. Seorang perempuan dari BRI yang kebetulan makan di kedainya memperkenalkan layanan BRI kepadanya. Dari pertemuan sederhana di meja makan itulah hubungan Sri dengan BRI bermula.
Bagi Sri, alasan mempertahankan layanan tersebut juga sederhana: transaksi berjalan lancar, cepat dan mudah. Kebutuhan mengirimkan uang ke Indonesia merupakan bagian penting dalam kehidupan dan bisnisnya. Sebagian dana dikirim kepada keluarga, termasuk orang tua dan adik-adiknya, sementara Sri juga memiliki kegiatan usaha di Indonesia.
Nilai remitansinya tidak kecil. Dalam percakapan di Kedai Sri Rahayu, Sri menyebut pengiriman uangnya dapat mencapai sekitar NT$2 juta setahun, yang nilainya mendekati Rp1 miliar tergantung kurs. Besarnya transaksi itu menunjukkan bahwa layanan remitansi bukan sekadar fasilitas tambahan bagi pengusaha diaspora seperti Sri, melainkan bagian dari kebutuhan rutin dalam mengelola keuangan lintas negara.
BRImo Taiwan Membuat Jarak Terasa Dekat
Perubahan yang paling dirasakan Sri setelah menggunakan BRI adalah kemudahan mengirimkan uang melalui layanan digital BRImo Taiwan. Sebelumnya, pengiriman uang ke Indonesia tidak selalu mudah dilakukan sesuai waktu yang ia inginkan. Kini transaksi bisa dilakukan melalui telepon genggam tanpa terlalu bergantung pada jam operasional kantor. “Kapan pun mau kirim, tengah malam atau jam berapa, kita kirim,” kata Sri menggambarkan manfaat yang dirasakannya.
Pagi, Direktur Information Technology PT BRI Tbk Saladin Dharma Nugraha Effendi sempat menjelaskan keunggulan BRImo Taiwan. Kepala BRI Taipei Andilk Kurniawan mendemonstrasikan kecepatan dan kemudahan pengiriman uang lewat BRImo.
Kemudahan tersebut menjadi penting bagi pengusaha restoran. Jam kerja bisnis kuliner berbeda dengan jam kerja perkantoran. Ketika kedai sedang ramai pada siang dan malam hari, pemilik usaha tidak selalu memiliki kesempatan meninggalkan tempat usaha untuk mengurus transaksi keuangan. Kehadiran layanan digital membuat transaksi dapat dilakukan setelah pekerjaan selesai, bahkan pada malam hari.
Bagi Sri, selama saldo tersedia, transaksi dapat dilakukan. Kecepatan dan fleksibilitas itulah yang membuat BRImo Taiwan menjadi bagian dari aktivitas keuangannya.
Kisah Sri sekaligus memperlihatkan bagaimana digitalisasi perbankan dapat memberikan dampak nyata bagi diaspora Indonesia. Teknologi bukan lagi sekadar membuat transaksi lebih cepat, tetapi menghilangkan batas waktu dan memperpendek jarak ribuan kilometer antara Taiwan dan Indonesia.
Baca Juga
Pasar Besar Pekerja Migran Indonesia
Direktur Utama BRI Hery Gunardi melihat Taiwan sebagai pasar penting bagi layanan internasional BRI, terutama karena besarnya komunitas Indonesia di wilayah tersebut. Dalam kunjungan ke Kedai Sri Rahayu, Hery mengatakan terdapat lebih dari 400.000 pekerja migran Indonesia di Taiwan. Setiap tahun, dana remitansi yang dikirim pekerja migran ke Indonesia sekitar Rp 80 triliun dan sebesar Rp 30 triliun lewat BRI Cabang Taipei.
Besarnya komunitas tersebut menciptakan kebutuhan layanan keuangan yang juga sangat besar, terutama pengiriman uang atau remitansi ke Indonesia. Para pekerja memperoleh penghasilan di Taiwan, tetapi sebagian pendapatannya kemudian mengalir kembali ke Tanah Air untuk memenuhi kebutuhan keluarga, membiayai pendidikan, membangun rumah, menabung ataupun menjadi modal usaha.
Menurut Hery, nilai remitansi pekerja migran Indonesia secara keseluruhan sangat besar. Karena itu, Taiwan menjadi salah satu pasar yang strategis. BRI melihat masih terdapat ruang yang luas untuk meningkatkan pelayanan kepada komunitas Indonesia tersebut.
BRI Taipei sendiri beroperasi sebagai full branch, sehingga memiliki kemampuan memberikan layanan perbankan yang lebih luas dibandingkan sekadar kantor remitansi. Kehadiran cabang tersebut memungkinkan BRI tidak hanya melayani masyarakat Indonesia, tetapi juga menerima simpanan dan memberikan layanan kepada nasabah lokal sesuai ketentuan yang berlaku di Taiwan.
Hery mengatakan potensi bisnis yang dapat dilayani BRI di Taiwan masih besar. BRI karena itu tidak hanya mengandalkan jaringan kantor fisik, tetapi juga memperkuat layanan digital melalui BRImo yang dikembangkan secara khusus untuk kebutuhan nasabah di Taiwan.
BRImo Khusus untuk Taiwan
Kepala BRI Taipei Andilk Kurniawan menjelaskan bahwa BRI mengembangkan BRImo yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar Taiwan. Pengembangan tersebut menjadi penting karena karakter nasabah BRI di Taiwan berbeda dengan nasabah domestik.
Banyak nasabah merupakan pekerja migran dan diaspora Indonesia yang memiliki kebutuhan transaksi lintas negara secara rutin. Mereka membutuhkan layanan yang mudah digunakan, cepat dan dapat diakses tanpa harus selalu datang ke kantor cabang.
Bagi nasabah seperti Sri Purwati, manfaat digitalisasi itu langsung terasa. Kesibukannya mengelola empat kedai tidak lagi menjadi penghalang ketika harus mengirimkan uang ke Indonesia. Telepon genggam telah menjadi “kantor bank” yang bisa dibawa ke mana pun.
Transformasi tersebut juga penting bagi BRI. Dengan ratusan ribu pekerja Indonesia di Taiwan, layanan digital memungkinkan bank menjangkau nasabah dalam skala jauh lebih besar daripada hanya mengandalkan kantor cabang.
Dari Satu Kedai Menjadi Empat
Ada simbol menarik dalam perjalanan Sri Purwati. Ketika memulai usaha, ia hanya memiliki satu kedai. Kini usahanya telah berkembang menjadi empat kedai. Pertumbuhan tersebut menunjukkan besarnya pasar makanan Indonesia di Taiwan sekaligus kemampuan pengusaha diaspora menangkap peluang di negara tempat mereka tinggal.
Skala bisnisnya pun semakin besar. Dalam percakapan di kedainya, Sri memberikan gambaran bahwa omzet gabungan usahanya dapat mencapai angka yang cukup besar. Namun, angka omzet tersebut sebaiknya dipahami sebagai perkiraan yang disampaikan secara spontan dalam percakapan, bukan laporan keuangan yang telah diaudit.
Yang jauh lebih penting daripada angkanya adalah transformasi yang terjadi. Sri tidak lagi hanya bekerja untuk memperoleh penghasilan. Ia telah menjadi pengusaha yang menciptakan kegiatan ekonomi, membeli bahan baku, melayani konsumen dari berbagai negara, mengirimkan uang ke Indonesia, dan mengembangkan usaha di dua negara.
Kedai Sri Rahayu juga mempunyai dimensi sosial yang tidak kalah penting. Bagi sebagian masyarakat Indonesia di Taipei, sepiring makanan Indonesia bukan semata urusan rasa. Makanan dapat menjadi pengobat rindu kepada rumah, keluarga dan kampung halaman.
Indonesia yang Tidak Pernah Jauh
Kisah Sri Purwati pada akhirnya lebih luas daripada cerita tentang sebuah kedai atau rekening bank. Ia menggambarkan wajah diaspora Indonesia yang perlahan berubah. Warga Indonesia di luar negeri tidak hanya menjadi pekerja, tetapi juga tumbuh menjadi pengusaha, pemilik aset dan pelaku ekonomi yang menghubungkan dua negara.
Perbankan ikut berada di dalam mata rantai tersebut. Bagi BRI, ratusan ribu masyarakat Indonesia di Taiwan merupakan nasabah potensial. Tetapi bagi Sri, manfaat perbankan jauh lebih sederhana dan konkret: uang hasil kerja kerasnya bisa dikelola dan dikirimkan ke Indonesia dengan lebih mudah, cepat dan tanpa terikat waktu.
Lima tahun setelah membangun Kedai Sri Rahayu, Sri Purwati kini berdiri sebagai pemilik empat kedai di Taipei. Dari dapurnya, aroma masakan Nusantara menyebar kepada pelanggan Indonesia, Taiwan dan berbagai bangsa lainnya. Dari telepon genggamnya, hasil jerih payah itu dapat dikirimkan kembali ke Indonesia melalui BRImo Taiwan.
Sri boleh telah menjadi warga Taiwan dan keluarganya membangun kehidupan di sana. Namun, ada sesuatu yang tidak berubah. Merah putih tetap dikenakannya dengan bangga, masakan Indonesia tetap mengepul dari dapurnya, dan sebagian hasil usahanya terus mengalir pulang ke Tanah Air. Ribuan kilometer dari Cilacap, Kedai Sri Rahayu seakan menjadi sepotong kecil Indonesia yang tumbuh dan hidup di jantung Taipei. (PD)

