Trump Tutup Pintu Dialog, Iran Kunci Hormuz
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id – Kebuntuan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memasuki fase yang semakin berbahaya. Presiden AS Donald Trump menegaskan pada Selasa (18/08/2026) bahwa tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Iran dan tidak ada perundingan baru yang dijadwalkan. Pada saat yang sama, Iran bersikeras Selat Hormuz tidak akan dibuka penuh sampai Washington memenuhi sejumlah tuntutan Teheran, mulai dari pencabutan blokade hingga penghentian sanksi minyak.
Pernyataan Trump disampaikan melalui Truth Social dan dilaporkan CBS News dalam pembaruan berita pada hari Selasa (18/10/2026. Agustus 2026. Trump menyatakan blokade laut AS terhadap Iran tetap berlaku, tetapi mengklaim Selat Hormuz telah terbuka dan beroperasi serta ranjau laut telah disingkirkan atau diledakkan.
Pernyataan tersebut berlawanan langsung dengan posisi Iran. Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama Teheran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan Selat Hormuz akan tetap tertutup sampai AS menjalankan komitmen dalam memorandum of understanding (MoU) yang disepakati pada Juni lalu. Iran antara lain menuntut pencabutan blokade terhadap pelabuhannya, penghapusan sanksi minyak, pencairan aset Iran yang dibekukan, serta penghentian ancaman dan operasi militer AS.
Baca Juga
Reuters yang memublikasikan perkembangan tersebut pada Selasa, 18 Agustus 2026, juga mencatat perbedaan tajam antara klaim Washington dan kondisi pelayaran sebenarnya. Data awal pergerakan kapal menunjukkan jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz masih berada pada level sangat rendah. Artinya, sekalipun Washington menyebut jalur tersebut terbuka, arus perdagangan belum kembali normal.
Kebuntuan semakin serius karena kesepakatan sementara yang ditandatangani AS dan Iran pada 17 Juni 2026 telah melewati batas waktu 60 hari. Kesepakatan itu semula dimaksudkan sebagai jembatan menuju perjanjian lebih luas, termasuk mengenai program nuklir Iran dan sanksi AS. Namun, perbedaan mengenai penguasaan dan kebebasan pelayaran di Selat Hormuz membuat implementasinya berantakan. Trump sebelumnya menyebut kesepakatan itu telah berakhir, sedangkan Iran menyatakan implementasinya ditangguhkan.
Kondisi tersebut menutup sementara harapan akan berakhirnya perang yang telah berlangsung hampir enam bulan sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Reuters melaporkan seorang pejabat senior Iran mengatakan Teheran kini akan bergerak menuju postur militer yang “sepenuhnya ofensif” setelah diplomasi tidak menghasilkan kesepakatan permanen.
Ironisnya, posisi Trump pada Selasa berbeda dengan sinyal yang muncul sehari sebelumnya. Jared Kushner, menantu sekaligus utusan khusus Trump, mengatakan komunikasi antara pemerintah AS dan berbagai unsur pemerintahan Iran justru berlangsung cukup intensif. Namun, belum terlihat kemajuan nyata menuju perundingan perdamaian maupun normalisasi lalu lintas tanker melalui Hormuz.
Baca Juga
Ketegangan juga mulai kembali menelan korban di jalur pelayaran. United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan pada Selasa sebuah kapal komersial yang sedang keluar melalui Selat Hormuz dihantam proyektil yang belum diketahui asalnya. Serangan tersebut merusak ruang mesin dan menyebabkan satu awak menjadi korban. Awak lainnya mendapat bantuan dari Penjaga Pantai Oman.
CBS News juga melaporkan pada 18 Agustus bahwa dua rudal balistik ditembakkan dari Iran ke arah Uni Emirat Arab (UAE). Menurut Kementerian Pertahanan UAE, kedua rudal jatuh di laut—satu di dalam wilayah perairan UAE dan satu lainnya di luar perairan teritorial—tanpa menimbulkan kerusakan di daratan. Ketegangan tersebut menandai kembali meningkatnya risiko keamanan terhadap negara-negara Teluk setelah beberapa bulan relatif mereda.
Sebelumnya, UAE juga menuding Iran menyerang sejumlah kapal yang dioperasikan Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) di Selat Hormuz. Reuters pada 14 Agustus 2026 melaporkan sebuah kapal ADNOC kembali diserang ketika melintasi selat tersebut, yang menurut UAE merupakan serangan ketiga terhadap kapal-kapal perusahaan energi negara itu dalam waktu sekitar sepekan.
Di tengah meningkatnya tensi militer, Washington juga bersiap memperkeras tekanan ekonomi. Al Jazeera dalam laporan yang dipublikasikan 18 Agustus 2026 menyebut Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya mengatakan Washington tengah menyiapkan gelombang pembatasan ekonomi tambahan terhadap Iran. Langkah tersebut berpotensi memperluas tekanan terhadap perdagangan energi, pengiriman, asuransi, sistem pembayaran, dan pihak-pihak di negara lain yang masih memfasilitasi transaksi minyak Iran.
Baca Juga
Minyak Brent Tembus US$ 90, Iran Tolak Perpanjangan Kesepakatan dengan AS
Tekanan itu melanjutkan kebijakan sanksi yang telah diperluas sejak Trump kembali menjabat pada 2025. Pemerintah AS mempertimbangkan penegakan yang lebih keras terhadap perusahaan dan lembaga keuangan yang membantu Iran mempertahankan perdagangan energinya, termasuk entitas yang terhubung dengan pembelian minyak Iran di Asia.
Iran, di sisi lain, berusaha mempertahankan perekonomiannya dengan mengalihkan impor barang penting melalui perbatasan darat dengan Pakistan, Turki dan negara-negara lain, serta melalui Laut Kaspia dengan Rusia dan Asia Tengah. Strategi tersebut semakin penting ketika blokade laut dan gangguan pelayaran membatasi akses Iran terhadap jalur perdagangan tradisional.
Dampak ekonominya tidak hanya dirasakan Iran. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling strategis di dunia. Sebelum konflik, sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair global melewati jalur sempit tersebut. Gangguan berkepanjangan karena itu langsung meningkatkan risiko pasokan dan biaya logistik energi global.
Pasar minyak mulai memasukkan kemungkinan bahwa krisis Hormuz akan berlangsung lebih lama. Reuters melaporkan pada 18 Agustus harga minyak Brent naik sekitar 0,7% menjadi US$91,46 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) meningkat sekitar 0,9% menjadi US$85,25 per barel. Keduanya sempat mencapai level tertinggi dalam tiga pekan ketika harapan perdamaian AS-Iran semakin memudar.
Baca Juga
Gus Lilur: Jangan Bawa Nama Prabowo untuk Intervensi Muktamar NU
Gangguan terhadap Hormuz bahkan telah mengubah pola perdagangan minyak regional. Arus minyak melalui jalur tersebut dilaporkan merosot drastis dibandingkan masa sebelum perang, memaksa produsen dan pedagang mencari rute alternatif. Reuters memperkirakan pasar minyak mulai memperhitungkan krisis Hormuz bukan lagi sebagai gangguan sementara, melainkan sebagai risiko pasokan yang bisa berlangsung lama.
Saudi Aramco, misalnya, mulai kembali menawarkan sebagian minyak kepada pembeli Asia melalui mekanisme transfer antarkapal di lepas pantai Fujairah, UAE. Cara ini digunakan setelah ekspor Saudi sempat terganggu akibat meningkatnya serangan terhadap kapal di kawasan Hormuz.
Di tengah kebuntuan tersebut, jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Qatar menyatakan bahwa kesepakatan antara Iran dan Oman mengenai masa depan pengelolaan Selat Hormuz dapat membantu membuka kembali perundingan AS-Iran. Iran sendiri dilaporkan masih melakukan komunikasi dengan Oman mengenai kemungkinan pengaturan sementara jalur pelayaran.
Seorang penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Mohammad Mokhber, juga menyatakan pada Selasa bahwa Iran masih terbuka terhadap dialog dengan AS, tetapi tidak menyamakan negosiasi dengan penyerahan diri. Posisi itu memperlihatkan bahwa Teheran masih menyediakan pintu diplomasi, meskipun tuntutan kedua belah pihak saat ini masih berjauhan.
Baca Juga
Lewat Panggung Kesenian Kemerdekaan, Masyarakat Himpun Donasi Rp2,16 Miliar untuk Bencana NTT
Dengan demikian, pertarungan AS-Iran kini tidak hanya berlangsung di medan militer. Selat Hormuz telah berubah menjadi titik tekan strategis yang menghubungkan perang, diplomasi, sanksi ekonomi dan pasar energi global.
Washington mempertahankan blokade terhadap Iran dan mengancam sanksi yang lebih berat. Teheran menggunakan kendali terhadap pelayaran Hormuz sebagai alat tawar untuk memaksa AS mencabut blokade serta sanksi. Sementara itu, kapal dagang menghadapi risiko serangan dan pasar energi menghadapi risiko pasokan yang semakin panjang.
Karena itu, pernyataan Trump pada 18 Agustus 2026 bahwa tidak ada pembicaraan dengan Iran menjadi lebih dari sekadar kabar diplomatik. Di tengah berakhirnya MoU 60 hari, terbatasnya lalu lintas kapal dan meningkatnya ancaman serangan, pernyataan tersebut memperbesar kemungkinan bahwa krisis Selat Hormuz akan berlangsung lebih lama—dan dunia harus kembali membayar premi risiko yang semakin mahal untuk minyak, pelayaran dan stabilitas ekonomi global.

