Wall Street Merah di Tengah Memanasnya Konflik AS-Iran, Dow Anjlok Hampir 300 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah pada Senin waktu AS atau Selasa (18/8/2026) WIB. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat, sementara harga minyak melonjak akibat kekhawatiran konflik akan kembali mengganggu pasokan energi global.
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 272,63 poin atau 0,51% menjadi 53.459,78. S&P 500 melemah 0,52% ke 7.745,06, sedangkan Nasdaq Composite turun 0,32% menjadi 26.644,91.
Baca Juga
Perhatian investor kembali tertuju pada Timur Tengah setelah kesepakatan sementara antara AS dan Iran berakhir pada Senin tanpa adanya kesepakatan untuk memperpanjangnya.
Iran sebelumnya menolak pembicaraan mengenai perpanjangan nota kesepahaman dengan AS. Seorang pejabat senior Iran juga mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran akan beralih ke posisi ofensif jika diplomasi dengan Washington gagal.
Presiden Donald Trump pada hari yang sama mengatakan kepada Fox News bahwa Amerika Serikat akan menyerang Oman apabila negara tersebut "menghalangi" upaya terkait lalu lintas di Selat Hormuz. Pernyataan tersebut semakin meningkatkan kekhawatiran investor terhadap kemungkinan konflik yang lebih luas di kawasan.
Tekanan terhadap pasar saham semakin kuat karena harga minyak kembali melonjak. WTI naik 2,6% menjadi US$84,50 per barel, sementara Brent naik 2,7% ke US$90,87.
Baca Juga
Minyak Brent Tembus US$ 90, Iran Tolak Perpanjangan Kesepakatan dengan AS
Kenaikan harga minyak menjadi ancaman bagi pasar saham karena lonjakan biaya energi dapat meningkatkan tekanan inflasi dan memperbesar biaya operasional perusahaan. Kondisi tersebut juga berpotensi mempersulit bank sentral dalam menurunkan suku bunga.
Imbal hasil Treasury AS tenor 30 tahun bahkan mencapai level tertinggi sejak Juni 2007 ketika harga minyak bergerak naik.
Meski demikian, sebagian pelaku pasar masih melihat peluang terjadinya kesepakatan diplomatik antara Washington dan Teheran.
Jason Stephens, pendiri Evertern Wealth, mengatakan pasar kembali mengikuti perkembangan negosiasi secara langsung. Menurut dia, terdapat tekanan besar terhadap pemerintahan Trump untuk menghasilkan kesepakatan, terutama menjelang pemilu paruh waktu AS.
"Kami kembali mengamati negosiasi secara langsung," kata Stephens, dilansir CNBC. Ia menilai tekanan terhadap harga minyak masih cenderung ke bawah dibandingkan risiko kenaikan jika kesepakatan dapat tercapai.
Di tengah tekanan pasar secara umum, saham Micron Technology justru menjadi salah satu titik terang. Saham perusahaan tersebut naik sekitar 4%.
Sentimen positif juga masih ditopang oleh kinerja perusahaan teknologi dan musim laporan keuangan yang kuat. S&P 500 sebelumnya mencatat rekor tertinggi sepanjang masa pada pekan lalu, menunjukkan bahwa investor masih relatif optimistis meskipun konflik Timur Tengah terus berlangsung.
Pekan ini, perhatian pasar juga akan tertuju pada risalah pertemuan Federal Reserve yang dijadwalkan dirilis Rabu. Investor juga akan mencermati laporan keuangan sejumlah perusahaan ritel besar, termasuk Walmart pada Kamis, serta Home Depot dan Lowe's masing-masing pada Selasa dan Rabu.
Pasar kini menghadapi persimpangan antara sentimen positif dari kinerja korporasi dan meningkatnya risiko geopolitik. Jika ketegangan Iran-AS kembali meningkat dan mengganggu Selat Hormuz, lonjakan harga energi berpotensi menjadi sumber tekanan baru bagi Wall Street.

