Perang Iran Mengancam Momentum Inggris, Ekonomi Tercepat di G7 Terancam Terhenti
Poin Penting
|
LONDON, investortrust.id — Perekonomian Inggris menunjukkan daya tahan yang lebih kuat dari perkiraan sepanjang paruh pertama 2026. Namun, momentum tersebut menghadapi ancaman serius dari perang Iran, terganggunya pelayaran di Selat Hormuz, serta lonjakan harga energi yang berpotensi kembali mengerek inflasi dan menekan daya beli masyarakat.
Data Office for National Statistics (ONS) yang dirilis Kamis (13/08/2026) menunjukkan produk domestik bruto (PDB) Inggris tumbuh 0,4% secara kuartalan pada kuartal II-2026, setelah berkembang 0,6% pada kuartal pertama. Dengan demikian, ekonomi Inggris masih mencatat pertumbuhan cukup solid selama enam bulan pertama tahun ini.
Kinerja tersebut bahkan ditopang oleh investasi dunia usaha yang lebih kuat dari perkiraan. Mengutip CNBC, Kamis (13/8/2026), investasi bisnis pada kuartal kedua meningkat 1,7%, jauh lebih baik dibandingkan konsensus ekonom dalam survei Reuters yang memperkirakan kontraksi 0,5%.
Baca Juga
Prabowo Ungkap Ramalan Pakar Dunia: 25 Tahun Lagi Ekonomi Indonesia di Atas Jerman hingga Inggris
Aktivitas konsumsi juga menunjukkan ketahanan. Cuaca musim panas yang panas, peningkatan kepercayaan dunia usaha, serta perjalanan Inggris di Piala Dunia FIFA 2026 ikut mendorong masyarakat meningkatkan pengeluaran. Namun, struktur pertumbuhannya masih sangat bergantung pada sektor jasa. Data ONS memperlihatkan output sektor jasa tumbuh 0,5% pada kuartal II-2026, setelah naik 0,8% pada kuartal sebelumnya.
Sebaliknya, sektor produksi belum memberikan dorongan berarti. Output produksi secara keseluruhan stagnan atau tumbuh 0,0% pada kuartal kedua. Industri manufaktur memang meningkat 1%, tetapi pertumbuhan tersebut diimbangi kontraksi pada sektor listrik dan gas sebesar 2,3% serta pasokan air dan pengelolaan limbah sebesar 3,7%.
Kepala Ekonom Inggris Deutsche Bank, Sanjay Raja, mengatakan data terbaru menempatkan Inggris pada jalur untuk mencatatkan pertumbuhan tercepat di antara negara-negara G7 untuk dua kuartal berturut-turut. Pertumbuhan yang disetahunkan selama semester pertama bahkan mencapai sekitar 2%.
Meski demikian, Raja memperkirakan perlambatan tetap akan terjadi. Salah satu tekanan terbesarnya datang dari kenaikan harga bahan bakar yang menggerus pendapatan riil rumah tangga. Di sisi lain, kekuatan investasi dan aktivitas swasta membuat risiko terhadap proyeksi pertumbuhan tidak seluruhnya mengarah ke bawah.
Hormuz Menjadi Ancaman Terbesar
Persoalan utama justru datang dari luar Inggris. Perang di Timur Tengah dan gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz mengancam membalikkan pemulihan ekonomi tersebut. Inggris termasuk negara maju yang relatif rentan terhadap kenaikan harga energi karena ketergantungannya pada impor minyak dan gas.
Selat Hormuz memiliki arti sangat strategis bagi perekonomian dunia. IMF mencatat sekitar 20–21 juta barel minyak per hari atau sekitar seperlima pasokan minyak global, serta sekitar seperempat perdagangan LNG dunia, dalam kondisi normal melewati jalur tersebut. Karena itu, gangguan berkepanjangan di Hormuz dapat dengan cepat berubah dari persoalan geopolitik Timur Tengah menjadi guncangan energi global.
IMF sebelumnya juga memperingatkan perang Timur Tengah telah menghentikan momentum pertumbuhan global. Dalam skenario yang lebih buruk, ketika gangguan pasokan energi berlangsung lebih lama dan kondisi keuangan mengetat, pertumbuhan ekonomi dunia bisa jatuh menjadi hanya 2%, sementara inflasi global dapat melampaui 6%.
Bagi Inggris, ancamannya lebih konkret. Dalam kajian Article IV terbaru, IMF memperkirakan ekonomi Inggris hanya tumbuh 1,0% sepanjang 2026, dengan perang Timur Tengah menjadi faktor utama yang memperburuk prospek jangka pendek. Kenaikan harga energi diperkirakan menekan konsumsi rumah tangga, meningkatkan biaya produksi, dan memperketat kondisi keuangan. Inflasi Inggris diproyeksikan meningkat sementara hingga mendekati 4% pada akhir 2026.
CNBC, mengutip laporan Bloomberg, juga menyebut pejabat Kementerian Keuangan Inggris telah menyampaikan simulasi skenario terburuk kepada pemerintahan baru Perdana Menteri Andy Burnham. Dalam skenario gangguan Selat Hormuz yang terus berlangsung, pertumbuhan ekonomi Inggris disebut berpotensi merosot hingga hanya 0,3% pada 2027.
Menuju Stagnasi
Kepala Ekonom Makro Eropa T. Rowe Price, Tomasz Wieladek, melihat perkembangan positif karena mesin pertumbuhan Inggris mulai bergeser dari belanja pemerintah menuju aktivitas sektor swasta. Namun, ia mengingatkan anggapan bahwa perang Timur Tengah tidak akan memberikan pukulan berarti terhadap ekonomi Inggris kemungkinan terlalu optimistis.
Baca Juga
Inggris Siapkan Pembiayaan Rp 96,128 Triliun untuk Infrastruktur Indonesia
Sementara itu, Shaniel Ramjee, Co-Head of Multi Asset Pictet Asset Management, menyoroti ketergantungan pertumbuhan Inggris pada industri jasa. Menurut dia, cuaca panas memang membantu aktivitas jasa, tetapi pada saat dunia sedang menikmati ledakan investasi infrastruktur, sektor konstruksi dan produksi industri Inggris justru masih lemah.
Dengan demikian, Inggris menghadapi paradoks. Ekonomi yang berpeluang menjadi yang tumbuh tercepat di antara negara-negara G7 justru berhadapan dengan risiko perlambatan tajam akibat perang yang terjadi ribuan kilometer dari wilayahnya. Selama Selat Hormuz terganggu dan harga minyak serta gas bertahan tinggi, tekanan inflasi dapat kembali menggerus daya beli, menekan investasi, dan mempersempit ruang Bank of England untuk melonggarkan kebijakan moneter.
Performa kuat semester pertama 2026 karena itu belum menjadi jaminan bahwa pemulihan Inggris akan berlanjut. Jika konflik Iran berkepanjangan dan jalur energi Hormuz tetap terganggu, status Inggris sebagai ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di G7 dapat berubah menjadi ancaman stagnasi hanya dalam hitungan beberapa kuartal. (CNBC/ONS/IMF/sumber lain).

