Dibebani Saham Teknologi dan Ketidakpastian Hormuz, Wall Street Kembali Tertekan
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Bursa saham Amerika Serikat kembali melemah pada perdagangan Selasa waktu AS atau Rabu (12/8/2026) WIB. Indeks S&P 500 Investor kembali dibayangi ketidakpastian konflik Iran serta meredupnya harapan pembukaan Selat Hormuz.
Indeks S&P 500 turun 0,32% menjadi 7.728,20, mencatat penurunan dua hari berturut-turut. Nasdaq Composite melemah lebih dalam, yakni 0,60% ke 26.445,45. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average turun 184,13 poin atau 0,34% menjadi 53.791,85.
Baca Juga
Iran Perketat Syarat Pembukaan Hormuz, Harga Minyak Kembali Melonjak
Tekanan terutama datang dari saham teknologi dan sektor komunikasi. Sektor komunikasi menjadi sektor dengan kinerja terburuk di S&P 500, merosot lebih dari 2%.
Saham Alphabet turun 3,8%, sedangkan AppLovin anjlok hampir 6%. Saham Alphabet berada di bawah tekanan setelah perusahaan mengumumkan restrukturisasi divisi kecerdasan buatan (AI) pada pekan lalu.
Saham teknologi informasi juga melemah. Nvidia menghapus kenaikan yang sempat dicatat pada awal perdagangan dan ditutup sedikit di bawah level sebelumnya.
Padahal, Nvidia pada Senin (10/8/2026) mengumumkan kemitraan dengan enam perusahaan pengelola aset besar untuk mengerahkan dana lebih dari US$500 miliar bagi pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan.
Saham Apple juga berada di bawah tekanan dan turun lebih dari 1%.
Tekanan terhadap pasar saham semakin kuat karena harga minyak kembali naik. WTI ditutup menguat 1,3% menjadi US$83,20 per barel, sedangkan Brent naik sekitar 1,4% menjadi US$88,91.
Kenaikan harga minyak menambah kekhawatiran investor terhadap inflasi, terutama ketika prospek pertumbuhan ekonomi AS mulai menghadapi tantangan akibat perlambatan pasar tenaga kerja.
Iran sebelumnya kembali menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka sebelum sejumlah tuntutan Teheran dipenuhi. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga mengatakan tidak ada kemungkinan dimulainya kembali negosiasi selama AS dianggap melanggar nota kesepahaman Juni dan belum memberikan kompensasi atas pelanggaran tersebut.
Namun, sinyal dari Pakistan memberikan sedikit harapan bagi investor. Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif mengatakan perkembangan kembali mengarah pada kemungkinan pengaturan perdamaian atau kesepakatan.
Fokus Beralih ke Inflasi
Investor kini mengalihkan perhatian ke serangkaian data ekonomi AS yang berpotensi menentukan arah kebijakan Federal Reserve.
Data indeks harga konsumen (CPI) Juli akan dirilis Rabu, disusul indeks harga produsen (PPI) pada Kamis.
Kedua data tersebut menjadi semakin penting setelah laporan ketenagakerjaan AS yang lemah pada pekan lalu memperumit prospek kebijakan The Fed.
Kondisi yang dihadapi bank sentral AS menjadi semakin rumit. Harga minyak yang lebih tinggi berpotensi kembali meningkatkan tekanan inflasi, sementara perlambatan tajam perekrutan tenaga kerja menimbulkan pertanyaan mengenai kekuatan konsumsi rumah tangga dan perekonomian secara keseluruhan.
Baca Juga
Redam Inflasi, Presiden The Fed Minneapolis Dorong Kenaikan Suku Bunga Bertahap
Jika inflasi tetap terkendali, tekanan untuk mempertahankan suku bunga pada level saat ini akan semakin kuat. Sebaliknya, kenaikan harga energi yang mendorong inflasi dapat membuat The Fed lebih berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneter.
Chief Investment Officer Montis Financial Dennis Follmer memperkirakan laporan CPI akan melanjutkan tren penurunan dan semakin memperkuat alasan bagi Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga, bukan menaikkannya.
“Inflasi sektor jasa tampaknya masih menjadi persoalan yang sulit ditangani,” ujar Follmer, dikutip CNBC. Namun, sektor tersebut dinilai tidak terlalu sensitif terhadap perubahan suku bunga sehingga belum tentu mengubah alasan The Fed untuk mempertahankan kebijakan saat ini.
Dengan demikian, investor kini menghadapi persimpangan antara dua risiko: tekanan inflasi yang kembali meningkat akibat mahalnya energi dan perlambatan ekonomi yang tercermin dari melemahnya pasar tenaga kerja.
Perkembangan konflik AS-Iran dan kondisi Selat Hormuz akan menjadi faktor tambahan yang dapat menentukan arah harga minyak, inflasi, kebijakan The Fed, serta pasar saham dalam beberapa pekan ke depan.

