Ekonomi Amerika Serikat Mulai Kehilangan Momentum
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Setelah menjadi lokomotif utama pemulihan ekonomi global pascapandemi, Amerika Serikat kini mulai menunjukkan tanda-tanda kehilangan tenaga. Pertumbuhan ekonomi masih positif, inflasi memang terus menurun, dan tingkat pengangguran relatif rendah. Namun, di balik angka-angka tersebut tersimpan sinyal bahwa aktivitas ekonomi terbesar di dunia itu mulai melambat.
Perlambatan tersebut menjadi perhatian pelaku pasar global karena Amerika Serikat menyumbang sekitar seperempat produk domestik bruto (PDB) dunia dan menjadi tujuan ekspor utama banyak negara. Setiap perubahan kebijakan ekonomi maupun moneter di Negeri Paman Sam hampir selalu berdampak langsung terhadap arus perdagangan internasional, nilai tukar, pasar obligasi, hingga pergerakan modal ke negara berkembang.
Laporan BRI Monthly Economic Update Edisi Juli 2026 yang diterbitkan Office of Chief Economist Group BRI hari Selasa (03/08/2026) menunjukkan bahwa ekonomi Amerika memasuki fase pertumbuhan yang lebih moderat. Di satu sisi, tekanan inflasi mulai mereda sehingga memberi harapan terhadap stabilitas harga. Namun di sisi lain, konsumsi rumah tangga, investasi sektor riil, dan pasar tenaga kerja mulai kehilangan momentum.
Pertumbuhan Melambat
Data awal menunjukkan perekonomian Amerika Serikat pada triwulan II-2026 tumbuh sekitar 2,1% secara tahunan (year-on-year), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 2,7% pada triwulan sebelumnya. Secara kuartalan, pertumbuhan diperkirakan hanya mencapai 1,5%, menandai perlambatan dibandingkan awal tahun.
Baca Juga
Walaupun masih jauh dari kondisi resesi, perlambatan tersebut menunjukkan bahwa kebijakan suku bunga tinggi yang telah berlangsung cukup lama mulai menekan aktivitas ekonomi.
Konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama perekonomian Amerika. Belanja masyarakat masih memberikan kontribusi hampir 70% terhadap PDB nasional. Pendapatan masyarakat yang relatif stabil serta kenaikan upah membantu menjaga daya beli.
Namun, laju konsumsi tidak lagi sekuat tahun lalu. Masyarakat mulai lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang, terutama untuk pembelian barang tahan lama seperti kendaraan, furnitur, dan properti.
Investasi AI Menjadi Penyelamat
Di tengah perlambatan tersebut, investasi di sektor teknologi masih menjadi titik terang.
Gelombang investasi pada bidang artificial intelligence (AI), pusat data, komputasi awan (cloud computing), serta semikonduktor terus menopang belanja modal perusahaan-perusahaan besar Amerika.
Raksasa teknologi seperti Microsoft, Nvidia, Alphabet, Amazon, hingga Meta tetap menggelontorkan investasi bernilai puluhan miliar dolar AS untuk memperluas infrastruktur AI. Belanja tersebut menjadi salah satu faktor yang mencegah perlambatan ekonomi berlangsung lebih tajam.
Namun, investasi tersebut belum mampu sepenuhnya mengimbangi pelemahan sektor lain, khususnya konstruksi bangunan komersial dan properti residensial yang masih tertekan akibat tingginya biaya pinjaman.
Sektor Properti Masih Tertekan
Suku bunga hipotek yang masih tinggi membuat permintaan rumah baru belum pulih sepenuhnya.
Penjualan rumah mengalami perlambatan, sementara aktivitas pembangunan juga masih terbatas. Banyak pengembang menunda proyek baru karena tingginya biaya pembiayaan.
Kondisi tersebut ikut menekan industri pendukung seperti semen, baja, kayu olahan, hingga berbagai sektor manufaktur yang terkait dengan konstruksi.
Akibatnya, investasi nonresidensial menjadi salah satu komponen yang memberikan kontribusi negatif terhadap pertumbuhan ekonomi pada triwulan II-2026.
Pasar Tenaga Kerja Mulai Mendingin
Sinyal perlambatan juga terlihat dari pasar tenaga kerja.
Jumlah lapangan kerja baru di sektor nonpertanian (Non-Farm Payroll/NFP) pada Juni 2026 hanya bertambah sekitar 57 ribu, jauh lebih rendah dibandingkan 172 ribu pada bulan sebelumnya.
Meskipun tingkat pengangguran turun menjadi 4,2%, penurunan tersebut bukan sepenuhnya mencerminkan membaiknya kondisi ketenagakerjaan.
BRI menjelaskan bahwa sebagian penurunan tingkat pengangguran terjadi karena semakin sedikit masyarakat yang aktif mencari pekerjaan. Dalam statistik ketenagakerjaan, mereka yang berhenti mencari pekerjaan tidak lagi dihitung sebagai pengangguran.
Fenomena tersebut membuat kondisi pasar tenaga kerja Amerika saat ini sering digambarkan sebagai “low hire, low fire”. Perusahaan belum melakukan pemutusan hubungan kerja secara besar-besaran, tetapi pada saat yang sama juga belum agresif melakukan perekrutan pegawai baru.
Kondisi tersebut mencerminkan dunia usaha sedang berada pada fase menunggu arah ekonomi berikutnya.
Inflasi Terus Menurun
Perkembangan yang relatif menggembirakan terjadi pada inflasi. Inflasi konsumen (Consumer Price Index/CPI) turun menjadi 3,5% pada Juni 2026, dibandingkan 4,2% pada Mei.
Penurunan tersebut terutama dipengaruhi mulai meredanya tekanan harga energi setelah muncul harapan tercapainya penyelesaian konflik di Timur Tengah.
Sementara itu, inflasi inti (core inflation) yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi turun menjadi sekitar 2,6%. Turunnya inflasi menunjukkan bahwa kebijakan moneter ketat Federal Reserve mulai memberikan hasil.
Namun demikian, harga perumahan, jasa kesehatan, serta sejumlah sektor jasa lainnya masih tumbuh cukup tinggi sehingga inflasi belum sepenuhnya kembali menuju target 2% yang ditetapkan bank sentral Amerika.
The Fed Belum Turunkan Suku Bunga
Walaupun inflasi terus menurun, Federal Reserve belum bersedia mengendurkan kebijakan moneternya. Dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada Juli 2026, bank sentral memutuskan mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,50–3,75%.
Bahkan tiga anggota FOMC menyampaikan pandangan bahwa inflasi masih cukup tinggi sehingga kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin masih layak dipertimbangkan apabila tekanan harga kembali meningkat.
Menurut analisis BRI, nada komunikasi pejabat Federal Reserve selama Juli menunjukkan kecenderungan yang semakin hawkish, yaitu lebih mengutamakan pengendalian inflasi dibandingkan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Artinya, peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat masih relatif kecil. Bagi pasar keuangan global, kebijakan tersebut sangat penting karena menentukan arah arus modal internasional.
Dampaknya bagi Dunia
Kebijakan suku bunga tinggi Amerika Serikat memiliki implikasi luas bagi perekonomian dunia.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS yang tetap tinggi membuat investor global cenderung mempertahankan dananya di pasar keuangan Amerika.
Akibatnya, banyak negara berkembang menghadapi tekanan berupa keluarnya modal asing, melemahnya nilai tukar mata uang domestik, meningkatnya biaya pinjaman luar negeri, serta naiknya biaya penerbitan obligasi pemerintah maupun korporasi.
Negara-negara dengan kebutuhan pembiayaan eksternal yang besar menjadi lebih rentan terhadap gejolak pasar keuangan global.
Implikasi bagi Indonesia
Bagi Indonesia, perlambatan ekonomi Amerika Serikat membawa dua konsekuensi sekaligus. Di satu sisi, melemahnya aktivitas ekonomi AS dapat mengurangi permintaan terhadap sejumlah produk ekspor Indonesia, terutama tekstil, alas kaki, furnitur, serta produk manufaktur lainnya.
Baca Juga
BI: Ekonomi Global Melambat, Ketidakpastian Pasar Keuangan Masih Tinggi
Di sisi lain, kebijakan Federal Reserve yang mempertahankan suku bunga tinggi membuat Bank Indonesia perlu tetap berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan moneternya agar stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga.
Kondisi tersebut juga dapat membatasi ruang penurunan suku bunga domestik, sekaligus menjaga biaya pembiayaan tetap relatif tinggi bagi dunia usaha.
Karena itu, perkembangan ekonomi Amerika Serikat pada semester II-2026 akan menjadi salah satu faktor eksternal yang paling menentukan arah ekonomi global maupun Indonesia. Selama inflasi belum sepenuhnya kembali ke target dan Federal Reserve tetap mempertahankan sikap hawkish, pasar keuangan dunia diperkirakan masih akan bergerak dalam kondisi penuh ketidakpastian.
Sumber: BRI Monthly Economic Update Edisi Juli 2026, Office of Chief Economist Group BRI, Jakarta, 3 Agustus 2026.
