Harga Minyak Dunia Naik Tipis, Pasar Cermati Negosiasi AS-Iran
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Harga minyak mentah dunia naik tipis pada perdagangan Rabu (05/08/2026), setelah sehari sebelumnya terkoreksi tajam akibat meningkatnya optimisme pasar terhadap peluang tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Penguatan terbatas tersebut mencerminkan pelaku pasar yang kembali berhati-hati karena proses diplomasi masih menyisakan banyak ketidakpastian.
Minyak mentah Brent untuk pengiriman terdekat naik US$0,62 atau 0,7% menjadi US$84,39 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) menguat US$0,61 atau 0,7% ke level US$80,95 per barel. Kenaikan ini memulihkan sebagian kecil pelemahan pada perdagangan sebelumnya ketika harga Brent dan WTI masing-masing sempat turun lebih dari 4%.
Pelaku pasar masih mencermati perkembangan negosiasi antara AS dan Iran yang dimediasi Qatar dan Oman. Meski Qatar menyatakan draf kesepakatan mulai beredar dan pembicaraan memasuki tahap yang semakin maju, hingga kini belum ada perundingan langsung antara Washington dan Teheran. Di sisi lain, Iran tetap menegaskan bahwa pembicaraan yang berlangsung hanya menyangkut pengaturan sementara jalur pelayaran di Selat Hormuz bersama Oman. Kondisi tersebut membuat risiko geopolitik di kawasan Teluk tetap tinggi.
Selain perkembangan diplomatik, pasar juga memperhatikan kebijakan OPEC+ yang tetap melanjutkan peningkatan produksi secara bertahap. Tambahan pasokan tersebut diharapkan dapat menjaga keseimbangan pasar global, tetapi belum sepenuhnya mampu menghilangkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan distribusi minyak apabila situasi keamanan di Selat Hormuz kembali memburuk.
Analis menilai harga minyak akan tetap bergerak volatil dalam jangka pendek. Selama belum ada kepastian mengenai kesepakatan AS-Iran maupun pembukaan penuh Selat Hormuz, setiap perkembangan diplomatik atau insiden keamanan di kawasan Timur Tengah berpotensi memicu perubahan harga yang signifikan. Goldman Sachs bahkan memperkirakan harga Brent masih akan bergerak di kisaran US$80–90 per barel hingga terdapat kepastian mengenai arah konflik maupun penyelesaiannya.
