Melambat, Ekonomi AS Kuartal II Tumbuh 1,5%
Poin Penting
|
WASHINGTON DC, investortrust.id - Perekonomian Amerika Serikat melambat pada kuartal II 2026. Departemen Perdagangan AS pada Kamis (30/7/2026) melaporkan produk domestik bruto (PDB) tumbuh sebesar 1,5% secara tahunan pada periode April–Juni setelah disesuaikan dengan faktor musiman dan inflasi. Capaian tersebut lebih rendah dibandingkan proyeksi ekonom yang disurvei Dow Jones sebesar 1,8%, serta melambat dari pertumbuhan 2,1% pada kuartal pertama.
Sementara itu, tekanan inflasi masih bertahan jauh di atas target Federal Reserve (The Fed). Kombinasi ini diperkirakan akan semakin mempersulit bank sentral dalam menentukan arah kebijakan moneter pada beberapa bulan mendatang.
Baca Juga
Kekhawatiran Inflasi Bayangi Ekonomi AS, Yield Treasury 30-Tahun Tembus 5,1%
Belanja Konsumen Masih Kuat
Meski angka utama PDB mengecewakan, sejumlah indikator fundamental menunjukkan aktivitas ekonomi domestik masih relatif kuat. Belanja konsumen, yang menjadi motor utama ekonomi AS, meningkat 2,1% setelah hanya tumbuh 0,4% pada kuartal sebelumnya.
Selain itu, indikator permintaan domestik yang dikenal sebagai final sales to private domestic purchasers melonjak 3,9%, mencerminkan konsumsi dan investasi sektor swasta yang masih solid.
Dilansir CNBC, perlambatan pertumbuhan ekonomi AS lebih banyak disebabkan oleh turunnya belanja pemerintah federal sebesar 0,3% serta penurunan persediaan (inventories) sebesar 0,7%, yang mengurangi kontribusi terhadap PDB.
Di sisi lain, investasi domestik swasta naik 0,5%, ekspor meningkat 0,5%, sementara impor turun 1,5%. Dalam perhitungan PDB, kenaikan ekspor memberikan kontribusi positif, sedangkan penurunan impor juga mendukung pertumbuhan ekonomi.
Laporan terpisah menunjukkan inflasi masih menjadi tantangan utama bagi The Fed. Indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE), indikator inflasi yang menjadi acuan utama bank sentral AS, turun 0,1% secara bulanan pada Juni, sehingga inflasi tahunan berada di level 3,7%, sesuai ekspektasi pasar.
Baca Juga
Adapun inflasi inti (Core PCE), yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi serta lebih diperhatikan pejabat The Fed untuk melihat tren inflasi jangka panjang, naik 0,1% dibanding bulan sebelumnya dan bertahan di level 3,3% secara tahunan. Angka tahunan tersebut sesuai dengan perkiraan ekonom, meski masih jauh di atas sasaran inflasi The Fed sebesar 2%.
Suku Bunga Fed Naik?
Data tersebut dirilis sehari setelah Federal Reserve memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%-3,75% melalui voting 9 banding 3. Perbedaan suara di antara para pejabat bank sentral mencerminkan meningkatnya kekhawatiran bahwa inflasi belum menunjukkan kemajuan yang memadai menuju target.
Tekanan inflasi sempat mereda pada awal 2026, namun kembali meningkat setelah konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran meletus pada akhir Februari yang memicu lonjakan harga energi. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa kenaikan biaya energi akan merembet ke berbagai sektor ekonomi lainnya.
Meski demikian, harga barang dan jasa energi turun 5,9% pada Juni seiring meredanya sementara konflik di Timur Tengah yang mendorong harga bensin turun 9,2%. Inflasi sektor perumahan juga melambat dengan kenaikan hanya 0,2%. Secara keseluruhan, harga barang turun 0,6%, sedangkan harga jasa hanya naik 0,1%.
Namun secara kuartalan, tekanan harga masih cukup tinggi. Indeks PCE meningkat 5,1% secara tahunan pada kuartal II, sementara inflasi inti kuartalan mencapai 3,4%.
Belanja konsumen tetap bertahan dengan kenaikan pengeluaran pribadi sebesar 0,3% pada Juni, sesuai ekspektasi pasar. Namun, pendapatan pribadi hanya naik 0,2%, lebih rendah dari perkiraan 0,3%.
Perbedaan antara pertumbuhan pengeluaran dan pendapatan tersebut menunjukkan rumah tangga mulai mengandalkan tabungan untuk mempertahankan konsumsi. Tingkat tabungan pribadi turun menjadi hanya 2,7%, level terendah dalam empat tahun.
Data terbaru ini memperlihatkan ekonomi Amerika Serikat masih mampu bertumbuh di tengah ketidakpastian global, tetapi laju ekspansi mulai kehilangan momentum. Di saat yang sama, inflasi yang tetap tinggi membuat ruang gerak Federal Reserve untuk melonggarkan kebijakan moneter menjadi semakin terbatas, sehingga pasar masih mengantisipasi kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan apabila tekanan harga kembali meningkat.
