Harga Minyak Turun ke Level Terendah dalam 5 Bulan, Mendekati US$ 70
NEW YORK, Investortrust.id - Harga minyak jatuh mendekati level terendah dalam lima bulan pada perdagangan Selasa waktu AS.
Baca Juga
Minyak Jatuh karena Kekhawatiran Permintaan dan Keraguan Komitmen OPEC+
Hal itu terjadi akibat penguatan dolar Amerika Serikat dan kekhawatiran permintaan. Harga minyak telah turun empat hari beruntun di tengah keraguan atas OPEC+ yang mengumumkan pengurangan pasokan sukarela pada pekan lalu.
Minyak mentah berjangka Brent turun 83 sen atau 1,1% menjadi US$ 77,20 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 72 sen (1%) menjadi US$ 72,32. Itu merupakan penutupan terendah bagi kedua patokan minyak mentah tersebut sejak 6 Juli 2023. Bagi WTI, ini adalah pertama kalinya harga turun selama empat hari berturut-turut sejak Mei 2023.
“Kesepakatan OPEC+ tidak banyak mendukung harga dan mengingat penurunan (empat) hari setelahnya, para pedagang jelas tidak terkesan,” kata Craig Erlam, analis pasar senior Inggris & EMEA, di perusahaan data dan analisis OANDA, seperti dikutip CNBC.
Penurunan harga terjadi meskipun ada komentar dari Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak bahwa OPEC+ siap memperdalam pengurangan produksi minyak pada kuartal I-2024 untuk menghilangkan ‘spekulasi dan volatilitas’ jika tindakan yang ada untuk memangkas produksi tidak cukup.
Pada 30 November, OPEC+ menyetujui pengurangan produksi sukarela sekitar 2,2 juta barel per hari (bph) untuk kuartal I-2024. Namun, setidaknya 1,3 juta barel per hari dari pemotongan tersebut merupakan perpanjangan dari pembatasan sukarela yang sudah dilakukan Arab Saudi dan Rusia pada tahun ini.
“Unsur sukarela dalam kesepakatan ini membuat pasar mempertanyakan apakah pengurangan pasokan benar-benar akan berlaku,” kata Fiona Cincotta, analis pasar keuangan di perusahaan jasa keuangan Amerika, StoneX.
Kremlin mengatakan pengurangan produksi OPEC+ akan membutuhkan waktu untuk mulai dilaksanakan.
Pendapatan minyak dan gas Rusia turun pada November menjadi 961,7 miliar rubel (US$10,53 miliar) dari 1,635 triliun rubel pada bulan sebelumnya karena sifat siklus pembayaran pajak berbasis laba.
Eksportir minyak terbesar Arab Saudi menurunkan harga minyak mentah Arab Light untuk pelanggan Asia pada bulan Januari untuk pertama kalinya dalam tujuh bulan, sebagai reaksi terhadap melemahnya premi di pasar fisik di tengah kekhawatiran kelebihan pasokan.
Di tempat lain, negara-negara yang berpartisipasi dalam konferensi iklim COP28 sedang mempertimbangkan untuk menyerukan penghentian penggunaan bahan bakar fosil secara formal sebagai bagian dari kesepakatan akhir KTT PBB untuk mengatasi pemanasan global.
Baca Juga

