AS Lumpuhkan Pertahanan Pantai Iran, Harga Minyak Mentah Kembali Melonjak
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Amerika Serikat kembali meningkatkan tekanan militernya terhadap Iran dengan melancarkan gelombang baru serangan udara yang menyasar sistem pertahanan pantai, gudang rudal, dan fasilitas militer Iran di sekitar Selat Hormuz. Serangan yang berlangsung pada Rabu (15/7/2026) waktu AS atau Kamis (16/7/2026) dini hari waktu Iran itu menjadi hari kelima berturut-turut operasi militer Washington, sekaligus mempertegas bahwa konflik kedua negara kini memasuki fase yang lebih luas dan berisiko mengganggu stabilitas pasar energi global.
Menurut U.S. Central Command (CENTCOM), militer AS melaksanakan dua gelombang serangan hanya dalam selang sekitar 12 jam. Sasaran utamanya adalah sistem pertahanan pesisir, lokasi penyimpanan rudal jelajah, peluncur rudal, serta sejumlah instalasi militer di Pulau Greater Tunb yang berada di pintu masuk Selat Hormuz. Washington menyatakan operasi tersebut bertujuan mengurangi kemampuan Iran menyerang kapal-kapal dagang yang melintasi jalur pelayaran internasional tersebut.
Serangan AS kemudian meluas hingga wilayah utara Iran. Media pemerintah Iran melaporkan ledakan terjadi di Semnan, Khondab, Khorramabad, serta beberapa kawasan di sekitar Teheran. Sistem pertahanan udara Iran diaktifkan untuk menghadapi serangan tersebut. Iran juga mengklaim puluhan orang tewas dan ratusan lainnya terluka akibat serangan terbaru tersebut.
Sebagai bagian dari operasi yang lebih besar, AS juga mengumumkan telah melumpuhkan sebuah kapal tanker kosong yang berlayar menuju Pulau Kharg, terminal ekspor minyak utama Iran. Kapal tersebut menjadi kapal pertama yang dihentikan sejak Washington memberlakukan kembali blokade laut terhadap Iran. Langkah ini memperlihatkan bahwa strategi AS kini tidak hanya menghantam sasaran militer di daratan, tetapi juga menekan jalur ekspor energi Iran.
Baca Juga
Di sisi lain, Iran tetap menunjukkan sikap konfrontatif. Selain mengaktifkan pertahanan udara di berbagai wilayah, Teheran menegaskan belum memiliki rencana kembali ke meja perundingan dengan Washington. Namun Presiden Donald Trump mengklaim Iran diam-diam telah menyampaikan keinginan untuk membuka kembali negosiasi, meski hingga kini belum ada tanda-tanda deeskalasi di lapangan.
Fokus utama konflik tetap berada di Selat Hormuz, jalur sempit yang menjadi pintu keluar sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Iran memang menguasai garis pantai utara Hormuz serta memiliki rudal anti-kapal, drone, kapal cepat, dan kemampuan menebar ranjau laut.
Namun secara hukum internasional, Hormuz merupakan jalur pelayaran internasional yang tidak berada di bawah kendali eksklusif Iran. Amerika Serikat bersama Armada Kelima yang bermarkas di Bahrain berupaya menjaga kebebasan navigasi melalui kehadiran kapal perang dan pesawat tempur di kawasan tersebut. Karena itu, yang terjadi saat ini bukan perebutan kedaulatan atas Hormuz, melainkan perebutan kendali militer untuk menentukan siapa yang mampu menjamin atau justru mengganggu arus pelayaran dunia.
Akibat meningkatnya ketegangan, lalu lintas kapal tanker di sekitar Hormuz kembali melambat. Banyak perusahaan pelayaran memilih menunda keberangkatan atau mengurangi frekuensi pelayaran karena tingginya risiko serangan rudal, drone, maupun ranjau laut. Premi asuransi kapal juga terus meningkat seiring memburuknya situasi keamanan.
Baca Juga
Harga Minyak Kembali Menguat
Eskalasi militer tersebut langsung mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia. Pada perdagangan Kamis (16/7/2026), Brent crude naik untuk empat hari berturut-turut dan diperdagangkan di kisaran US$85–86 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar US$80–81 per barel. Kenaikan tersebut dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak dari kawasan Teluk Persia apabila konflik terus meluas.
Meski harga minyak masih jauh di bawah puncaknya pada Maret ketika sempat menembus US$100 per barel, pasar kini kembali memperhitungkan risiko gangguan pasokan jangka panjang. Analis menilai setiap eskalasi baru di sekitar Hormuz akan memperbesar volatilitas harga energi global, terutama jika serangan mulai menyasar infrastruktur minyak atau pelayaran komersial secara lebih luas.
