Ilham Habibie: AYDA Dorong Literasi Digital Kaum Muda ASEAN
JAKARTA, investortrust.id – Salah satu tantangan yang dihadapi kaum muda di negara-negara ASEAN di era digital saat ini adalah meningkatkan literasi atau pengetahuan dan kemampuan di bidang digital. Sebab, ke depan, digitalisasi akan mewarnai seluruh aspek kehidupan yang akan diisi kaum muda. Selain itu, literasi digital juga membantu pemuda membentuk kemampuan analisis dalam pemecahan masalah, dan agar terhindar dari manipulasi fakta.
Demikian disampaikan Ketua Tim Pelaksana Dewan Teknologi, Informasi, dan Komunikasi Nasional (Wantiknas) Ilham Akbar Habibie, saat peresmian ASEAN Youth for Digital Action (AYDA), di The Habibie & Ainun Library, Jakarta, Rabu (27/9/2023).
AYDA merupakan merupakan platform yang dibentuk untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan digital kaum muda ASEAN dalam rangka mendorong inovasi dan literasi digital. AYDA juga memberikan kesempatan pelatihan dan pendampingan kaum muda sebagai angkatan kerja, untuk menghadapi jenis-jenis pekerjaan penting di masa depan, khususnya yang berkaitan dengan dunia digital.
Ilham menggarisbawahi tiga poin penting dalam program AYDA, yaitu ASEAN, pemuda, dan aksi digital. Mengenai ASEAN, Ilham berpandangan saat ini muncul tren baru dalam investasi, yakni investasi dalam satu kawasan. “Kebanyakan orang dan ekonom akan setuju, bahwa jenis investasi ke depan akan diwarnai investasi intra-ASEAN. Itu menjadi tren, karena ada kolaborasi antarnegara dalam satu kawasan,” jelasnya.
“ASEAN memiliki komunikasi yang cukup untuk meningkatkan kekuatan dalam industri dan kolaborasi. Itulah yang akan kita lihat di depan kita,” tambahnya.
Mengenai pemuda, Ilham menjelaskan, secara demografi, saat ini mayoritas penduduk ASEAN adalah kaum muda. Dari sekitar 680 juta penduduk ASEAN, 70% merupakan pemuda.
“Jadi kita perlu fokus pada hal ini (kaum muda). Dan cara berpikir ASEAN akan dipengaruhi kaum muda,” ujarnya.
Selanjutnya, mengenai aksi digital, Ilham mengingatkan hal ini perlu dilakukan untuk meningkatkan kolaborasi menjadi lebih baik. “Kita dapat meningkatkan komunikasi, kita dapat berkolaborasi lebih baik menggunakan alat digital,” jelasnya.
Dia memberi contoh, dalam dunia bisnis, digitalisasi memungkinkan pengusaha berbagai kontrak bisnis. “Digital of things membuat proses bisnis benar-benar transnasional,” ujarnya.
Dengan banyaknya pemanfaatan digitalisasi, lanjut Ilham, pemuda di ASEAN diharapkan dapat memiliki literasi digital yang baik. Ilham juga menjelaskan bahwa literasi digital diperlukan agar dapat terhindar dari manipulasi fakta.
“Jadi jika memiliki pengetahuan dan keterampilan digital dengan baik, mereka (pemuda) benar-benar dapat meningkatkan inklusivitas dan kreativitas. Mereka dapat meningkatkan pendidikan yang lebih baik bagi lebih banyak orang,” jelasnya.
Ilham menambahkan, digitalisasi juga membawa tantangan yang tidak mudah, yang disebutnya sebagai jebakan digital. “Berita dan media mampu menciptakan kepercayaan secara otomatis, dan orang-orang menjadi dimanipulasi,” katanya.
Dia menekankan, satu-satunya cara untuk mencegahnya adalah dengan meningkatkan literasi digital di kalangan kaum muda. Literasi digital adalah jalan agar manusia mampu mencapai potensi yang penuh dari teknologi digital.
“Kita perlu meningkatkan pemikiran kritis, kita perlu meningkatkan kemampuan untuk pemecahan masalah secara analitis. Berpikir kritis pada dasarnya adalah bagian yang sangat penting dari literasi digital,” tegasnya.
Ilham Habibie yakin, pemuda ASEAN dapat menjadi manusia yang dapat berpikir kritis dan dapat memecahkan masalah secara analitis. “Di sinilah ASEAN Youth for Digital Action dapat mencapai misinya untuk memberdayakan pemuda dengan skill dan kesempatan agar dapat berkontribusi untuk masa depannya, khususnya di dunia digital,” ujarnya.
“Kaum muda tidak hanya energik, tetapi mereka juga memiliki semangat yang tepat yang biasanya merupakan peluang yang sangat positif. Mereka memiliki kehidupan di depan mereka. Jadi ini bisa menjadi perubahan yang baik,” sambungnya.
Sebagai platform untuk menyiapkan kaum muda ASEAN mampu berkiprah lebih besar di era digital, pembentukan AYDA mendapat dukungan dari sejumlah pihak. Pihak-pihak yang terlibat di antaranya Indonesia Economic Forum (IEF), Amazon Web Services (AWS), Orbit, Chairos, Inotec, dan Investortrust.id. Di IEF, Ilham Habibie juga duduk sebagai Ketua Dewan Penasihat. Adapun di Investortrust.id, dia dipercaya sebagai Presiden Komisaris.
Peresmian AYDA di The Habibie & Ainun Library, Rabu malam, juga dihadiri Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga Gunawan Suswantoro, Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri Sidharto R Suryodipuro, Chairperson AYDA Rani S Burchmore, Vice Chair AYDA Sachin Gopalan, dan Leadership Committee Member AYDA Nalin K Singh. (CR-4)

