Inflasi dan Perang Iran Bikin Pejabat The Fed Terpecah soal Suku Bunga
Poin Penting
|
WASHINGTON DC, investortrust.id - Para pejabat Federal Reserve masih terpecah mengenai arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat, yang mencerminkan tingginya ketidakpastian prospek inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Hal itu terungkap dalam risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang dirilis Rabu (8/7/2026).
Dalam rapat 16–17 Juni yang untuk pertama kalinya dipimpin Ketua The Fed Kevin Warsh, seluruh anggota sepakat mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,50%-3,75%, meski memiliki pandangan berbeda mengenai langkah berikutnya.
Baca Juga
The Fed Tahan Suku Bunga Acuan di Kisaran 3,5% - 3,75%, Buka Peluang Kenaikan Tahun Ini
Sebagian pejabat menilai inflasi berpotensi melambat sehingga membuka ruang bagi penurunan suku bunga. Namun, kelompok lainnya memperkirakan tekanan harga akan tetap tinggi sehingga kenaikan suku bunga masih mungkin diperlukan.
Risalah rapat menyebut banyak peserta memperkirakan suku bunga yang tepat pada akhir tahun akan berada di kisaran saat ini atau sedikit lebih rendah.
Sebaliknya, banyak anggota lain justru menilai suku bunga perlu berada di atas level sekarang pada akhir tahun.
The Fed menegaskan bahwa seluruh keputusan selanjutnya akan sangat bergantung pada perkembangan data ekonomi yang masuk.
Menurut risalah tersebut, inflasi diperkirakan masih tinggi dalam jangka pendek sebelum perlahan menurun seiring memudarnya dampak tarif perdagangan, turunnya harga energi, serta berkurangnya gangguan rantai pasok akibat konflik di Selat Hormuz.
Meski demikian, para pembuat kebijakan tetap menilai risiko inflasi masih condong ke arah kenaikan.
Baca Juga
Pasar Tunggu Sinyal The Fed Soal Pemangkasan Suku Bunga, Kevin Warsh: Inflasi Masih Terlalu Tinggi
Risalah juga menyoroti meningkatnya permintaan terhadap infrastruktur kecerdasan buatan (AI), yang diperkirakan terus mendorong kenaikan harga produk teknologi dan kebutuhan listrik dalam beberapa waktu ke depan.
Di sisi lain, Ketua The Fed Kevin Warsh meyakini AI pada akhirnya justru dapat membantu menekan inflasi melalui peningkatan produktivitas.
Pasar keuangan hanya bereaksi terbatas terhadap publikasi risalah tersebut. Kontrak berjangka saham AS tetap bergerak negatif, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkat tipis.
Ekonom Kepala LPL Financial, Jeffrey Roach, menilai risalah tersebut menunjukkan adanya berbagai skenario yang masih dipertimbangkan oleh The Fed. “Ada beberapa ambiguitas dalam notulen tersebut, yang menunjukkan beberapa pandangan yang bersaing tentang kebijakan,” tulis Jeffrey Roach, seperti dikutip CNBC.
Menurutnya, bank sentral belum akan berkomitmen pada satu arah kebijakan sebelum memperoleh kepastian dari data ekonomi.
Selain membahas suku bunga, risalah juga mengungkap dukungan mayoritas anggota FOMC terhadap penyederhanaan komunikasi kebijakan moneter.
Pernyataan hasil rapat Juni dibuat jauh lebih ringkas dibanding biasanya, menghapus sejumlah kalimat yang sebelumnya mengindikasikan kecenderungan menuju pelonggaran kebijakan.
Langkah tersebut sejalan dengan pendekatan Kevin Warsh yang sejak menjabat sebagai Ketua The Fed berupaya mengurangi praktik forward guidance atau pemberian sinyal mengenai arah kebijakan di masa depan.
Warsh, yang ditunjuk Presiden Donald Trump menggantikan Jerome Powell, juga telah membentuk lima gugus tugas untuk mengevaluasi berbagai aspek operasional bank sentral, termasuk strategi komunikasi kepada publik.
