Iran Tegaskan Selat Hormuz Tak Bisa Ditawar, Negosiasi dengan AS di Doha Catat Kemajuan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Selat Hormuz tetap menjadi garis merah Iran. Di satu sisi, Teheran mengancam akan merespons cepat setiap intervensi militer Amerika Serikat. Di sisi lain, Iran dan AS justru mencatat kemajuan dalam perundingan tidak langsung di Doha, Qatar. Kontras inilah yang kini mewarnai babak terbaru diplomasi sekaligus rivalitas geopolitik di kawasan Teluk Persia.
Perkembangan tersebut mengemuka setelah militer Iran pada Kamis (02/07/2026) memperingatkan bahwa setiap “kesalahan perhitungan” atau intervensi Amerika Serikat di Selat Hormuz akan dibalas dengan “respons yang tegas dan cepat”. Pernyataan itu disampaikan ketika ketegangan keamanan di jalur pelayaran paling strategis dunia tersebut masih membayangi proses negosiasi damai antara Washington dan Teheran.
Di saat yang sama, pemerintah Qatar selaku mediator mengumumkan bahwa perundingan teknis tidak langsung antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Doha pada Rabu (01/07/2026) menghasilkan “kemajuan positif” dalam pembahasan implementasi nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) yang ditandatangani kedua negara pada 17 Juni 2026 untuk menghentikan konflik dan membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Baca Juga
AS-Iran Sepakati Jeda Perang, Kapal Kembali Melintas di Hormuz
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al-Ansari, mengatakan pembicaraan yang dimediasi Qatar dan Pakistan berhasil mempersempit sejumlah perbedaan mengenai implementasi kesepakatan sementara tersebut. Putaran perundingan berikutnya dijadwalkan berlangsung setelah prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Sebagai bagian dari hasil perundingan, Iran juga mengumumkan akan membentuk saluran komunikasi langsung (communication channel) dengan Amerika Serikat. Mekanisme ini dimaksudkan untuk melaporkan dan membahas setiap dugaan pelanggaran terhadap kesepakatan sementara sehingga kedua pihak tidak langsung merespons dengan aksi militer yang dapat memicu eskalasi baru.
Namun, di balik kemajuan diplomatik tersebut, Teheran menegaskan bahwa kedaulatannya atas Selat Hormuz sama sekali tidak dapat dinegosiasikan.
Pengamat Timur Tengah dari King’s College London, Rob Geist Pinfold, mengatakan penguasaan Iran atas Selat Hormuz merupakan salah satu isu yang hampir tidak pernah diperdebatkan di kalangan elite politik Iran.
“Kontrol atas Selat Hormuz adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar oleh kepemimpinan Iran. Ini merupakan salah satu dari sedikit isu yang benar-benar disepakati seluruh faksi di Iran,” ujarnya kepada Al Jazeera.
Menurut Pinfold, Iran selama bertahun-tahun telah membangun mekanisme administratif dan birokrasi yang memperkuat kewenangannya di jalur pelayaran tersebut, termasuk melalui berbagai prosedur yang harus dipenuhi kapal-kapal yang melintas.
Ia menilai hampir tidak ada solusi militer yang dapat menyelesaikan persoalan tersebut. Jalan keluar hanya mungkin dicapai melalui kesepakatan politik antara Washington dan Teheran. Selama kesepakatan permanen belum tercapai, Iran diperkirakan akan tetap menjadi aktor yang paling menentukan dalam pengelolaan Selat Hormuz.
Selain persoalan pelayaran, ketegangan diplomatik juga meningkat setelah Iran secara resmi mengajukan protes kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa atas ancaman terbaru Israel terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei. Pemerintah Iran menyebut ancaman tersebut sebagai bentuk “terorisme negara” yang berpotensi menggagalkan proses perdamaian yang sedang berlangsung.
Baca Juga
AS dan Iran Kembali Saling Serang, Kapal Tanker di Hormuz Jadi Sasaran
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia. Sekitar seperlima perdagangan minyak global melewati selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman tersebut. Karena itu, setiap ketegangan di kawasan ini langsung memengaruhi pasar energi, biaya pengiriman, hingga stabilitas ekonomi dunia.
Meski ancaman militer masih terdengar keras, kemajuan perundingan di Doha mulai memberikan optimisme kepada pasar. Harga minyak dunia pada Kamis turun ke level terendah dalam sekitar empat bulan setelah investor menilai peluang gangguan pasokan energi dari Selat Hormuz mulai berkurang. Minyak Brent turun ke sekitar US$70,5 per barel, sementara minyak mentah WTI melemah ke kisaran US$67,7 per barel.
Meski demikian, para analis menilai jalan menuju kesepakatan permanen masih panjang. Persoalan mengenai status Selat Hormuz, mekanisme pelayaran internasional, pencairan aset Iran yang dibekukan, hingga pembahasan program nuklir dan sanksi ekonomi masih menjadi isu utama yang belum terselesaikan. Selama isu-isu tersebut belum menemukan titik temu, kawasan Teluk Persia diperkirakan tetap menjadi salah satu pusat ketidakpastian geopolitik yang paling berpengaruh terhadap pasar energi dan keuangan global. (Reuters/Al Jazeera)

