Bursa Asia Melemah Dipicu Ketidakpastian Negosiasi AS-Iran dan Ancaman Baru di Selat Hormuz
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pasar saham Asia-Pasifik dibuka melemah pada Kamis (28/5/2026). Investor kembali diliputi ketidakpastian terkait negosiasi Amerika Serikat dan Iran yang hingga kini masih mengirimkan sinyal 'membingungkan'.
Fokus utama pasar tetap tertuju pada nasib Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia, yang menjadi pusat tarik-menarik diplomatik sekaligus ancaman geopolitik terbesar bagi pasar energi global saat ini.
Baca Juga
AS Serang Iran Lagi di Tengah Negosiasi Damai, Selat Hormuz Masih Membara
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengatakan Washington masih melihat kemajuan dalam pembicaraan dengan Iran dan akan memberikan “setiap peluang” bagi jalur diplomasi untuk berhasil.
Namun di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menegaskan Iran tidak akan diizinkan mengendalikan Selat Hormuz sebagai bagian dari kesepakatan apa pun.
Pernyataan Trump memperlihatkan kerasnya posisi Washington meskipun beberapa hari terakhir pasar sempat optimistis perang dapat segera mereda.
Kebingungan pasar makin bertambah setelah Reuters melaporkan media pemerintah Iran mengeklaim Teheran berkomitmen memulihkan lalu lintas perdagangan di Selat Hormuz ke level sebelum perang dalam waktu satu bulan setelah tercapai kesepakatan dengan AS. Namun Gedung Putih langsung membantah laporan tersebut dan menyebutnya sebagai “rekayasa total.”
Situasi itu memicu kenaikan kembali harga minyak dunia setelah sebelumnya sempat turun tajam karena harapan damai.
Baca Juga
IRGC Berencana Kenakan “Transit Toll” di Hormuz, Harga Minyak Melonjak Lagi
Minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli naik 1,86% menjadi US$90,33 per barel, sementara Brent menguat 1,87% ke US$96,05 per barel.
Kenaikan harga energi kini kembali menjadi perhatian utama investor global karena berpotensi memperburuk inflasi dunia, terutama di Amerika Serikat dan Eropa.
Reuters dan Bloomberg dalam laporan terbaru menyebut pasar mulai khawatir lonjakan harga minyak akibat konflik Iran dapat memaksa Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga tambahan jika inflasi kembali memanas.
Kekhawatiran tersebut langsung menekan pasar Asia.
Dikutip dari CNBC, indeks Kospi Korea Selatan turun 0,29%, sedangkan indeks saham kecil Kosdaq melemah 0,25%.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 turun 0,76% dan Topix melemah 0,71%. Bursa Australia juga bergerak negatif dengan indeks S&P/ASX 200 turun 0,75%.
Analis pasar menyebut investor kini mulai mengambil posisi defensif setelah reli besar Wall Street beberapa hari terakhir, terutama karena risiko geopolitik Timur Tengah dinilai masih sangat rapuh.
Meski Asia melemah, kontrak berjangka saham AS masih bergerak positif tipis. Futures S&P 500 dan Nasdaq 100 naik kurang dari 0,1%, sedangkan futures Dow Jones bertambah sekitar 49 poin.
Pada perdagangan reguler Rabu, Wall Street kembali mencetak rekor baru. Indeks S&P 500 naik tipis 0,02% ke level 7.520,36, sedangkan Dow Jones menguat 182,60 poin atau 0,36% menjadi 50.644,28. Nasdaq Composite juga naik 0,07% menjadi 26.674,73.
Namun sejumlah analis mengingatkan reli pasar saham global kini semakin rapuh karena terlalu bergantung pada harapan diplomasi AS-Iran dan ekspektasi penurunan suku bunga The Fed.
Jika negosiasi kembali gagal atau Selat Hormuz tetap terganggu, pasar energi diperkirakan kembali bergejolak dan dapat memicu tekanan baru terhadap inflasi global.

