Negosiasi AS-Iran Masih Alot, Teheran Beri Hak Istimewa China dan Rusia Melintas di Selat Hormuz
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah makin kompleks. Di satu sisi, Iran mengirim sinyal kesiapan untuk mencapai perdamaian dengan Amerika Serikat. Namun di sisi lain, Teheran menegaskan tetap siap menghadapi konfrontasi militer apabila negosiasi gagal menghasilkan kesepakatan yang dianggap adil. Pernyataan terbaru anggota parlemen Iran, Ibrahim Azizi, memperlihatkan arah strategi Teheran yang semakin memperkuat kemitraan dengan China dan Rusia. Azizi, Sabtu (30/5/2026) menyatakan bahwa Iran akan memberikan fasilitas perdagangan dan maritim khusus bagi kapal-kapal China dan Rusia yang melintasi Selat Hormuz.
Baca Juga
Menurut Azizi, dikutip dari Khyber News, kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya Iran melindungi kepentingan ekonomi bersama dengan negara-negara mitra strategisnya. Ia menegaskan bahwa penguatan hubungan ekonomi dengan Beijing dan Moskow akan tetap menjadi prioritas kebijakan luar negeri Iran.
"Negara-negara strategis, seperti China dan Rusia, akan terus menikmati perlakuan istimewa dan syarat yang menguntungkan pada hal-hal terkait Selat Hormuz," kata Azizi, seperti dikutip Sputnik.
Ia mengatakan Rusia dan China senantiasa mendukung Iran dan bekerja sama dengannya, serta secara konsisten bersama Teheran "di masa-masa tersulit".
Dalam kesempatan yang sama, Azizi juga menyebut konsultasi terbaru antara Iran dan Pakistan berlangsung konstruktif. Islamabad dalam beberapa bulan terakhir muncul sebagai salah satu mediator utama yang berupaya menjembatani komunikasi antara Washington dan Teheran.
Peran Qatar dan Pakistan
Peran Pakistan kini semakin diperkuat oleh Qatar yang juga aktif mendorong penyelesaian diplomatik. Laporan The Guardian menyebut Doha telah mengirim tim mediator ke Teheran sebagai tanda bahwa pembicaraan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz dan pengurangan sanksi terhadap Iran memasuki tahap krusial.
Sementara itu, sejumlah sumber diplomatik yang dikutip Reuters menyebut Pakistan turut membantu merancang kerangka kesepakatan yang mencakup perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari, pembukaan bertahap Selat Hormuz, serta pembahasan lanjutan mengenai program nuklir Iran.
Belum Ada Kesepakatan
Presiden AS Donald Trump dalam beberapa pekan terakhir berulang kali menyatakan bahwa kesepakatan dengan Iran sudah "sebagian besar dinegosiasikan". Trump bahkan mengatakan rincian akhir tengah dibahas bersama Iran dan sejumlah negara kawasan Timur Tengah. Namun, belakangan Trump masih belum mengambil keputusan terkait proposal dan perpanjangan gencatan senjata.
Baca Juga
Trump Klaim Kesepakatan AS-Iran Hampir Rampung, Selat Hormuz Segera Dibuka?
Optimisme Trump belum sepenuhnya sejalan dengan posisi Teheran. Menurut laporan Reuters, kedua negara masih berselisih mengenai sejumlah isu fundamental, termasuk masa depan program nuklir Iran, pembukaan penuh Selat Hormuz, hingga mekanisme pencabutan sanksi ekonomi.
Pemerintah Iran juga menolak tuntutan yang dianggap mengancam hak-hak strategis nasionalnya. Azizi menegaskan bahwa pemindahan uranium yang telah diperkaya ke negara lain tidak pernah menjadi bagian dari pembicaraan dengan Washington.
Nada lebih keras datang dari Mohsen Rezaei, penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Rezaei menuduh Washington tidak sungguh-sungguh menginginkan perdamaian dan justru menggunakan proses negosiasi untuk mencapai tujuan politik serta militer yang lebih luas di kawasan.
Ia bahkan menuding Amerika masih mempertahankan blokade maritim di Selat Hormuz meskipun secara terbuka berbicara mengenai perdamaian dan dialog.
Pernyataan itu sejalan dengan laporan Associated Press yang mengungkap bahwa militer AS baru-baru ini menembak kapal kargo berbendera Gambia yang mencoba menembus blokade menuju pelabuhan Iran. Washington menyatakan kapal tersebut mengabaikan lebih dari 20 peringatan yang diberikan Angkatan Laut AS.
Di saat yang sama, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan Washington siap kembali melancarkan serangan militer apabila negosiasi dengan Iran gagal menghasilkan kesepakatan permanen.
Hormuz Tetap Jadi Kunci
Meski gencatan senjata telah berlaku sejak April, kondisi di Selat Hormuz masih jauh dari normal. Laporan Reuters, The Washington Post, dan OSW Centre for Eastern Studies menunjukkan bahwa pembukaan kembali jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi sekitar 20% perdagangan minyak dunia itu masih menjadi isu paling sensitif dalam seluruh proses negosiasi.
Baca Juga
Iran disebut ingin memperoleh jaminan keamanan, pencairan aset yang dibekukan, serta pelonggaran sanksi sebelum membuka penuh jalur tersebut. Sebaliknya, Washington menuntut kebebasan pelayaran tanpa hambatan dan pembatasan program nuklir Iran.
Situasi ini membuat pasar energi global tetap waspada. Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran biasa, melainkan salah satu titik paling strategis dalam perdagangan minyak dan gas dunia. Setiap perkembangan diplomatik maupun militer di kawasan itu langsung memengaruhi harga energi internasional.
Untuk saat ini, dunia menyaksikan sebuah paradoks: Trump berbicara tentang perdamaian yang semakin dekat, sementara Iran menegaskan siap berdamai sekaligus siap berperang. Selama Selat Hormuz masih dibayangi blokade dan ketidakpercayaan kedua pihak belum teratasi, risiko eskalasi baru di Timur Tengah masih jauh dari berakhir.

