Trump Ancam Musnahkan Iran, Harapan Damai pun Memudar
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Harapan berakhirnya perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memudar. Meski kedua negara sebelumnya telah menandatangani memorandum of understanding (MoU) sebagai peta jalan menuju perjanjian damai permanen, eskalasi militer justru kembali meningkat. Presiden AS Donald Trump mengancam akan “menyelesaikan perang secara militer” dan bahkan menyatakan Iran “tidak akan lagi eksis” apabila kembali menyerang kepentingan Amerika. Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyerukan agar AS dan Israel diadili atas dugaan kejahatan perang.
Perkembangan terbaru tersebut dilaporkan Al Jazeera dalam liputan langsung yang ditayangkan Minggu (28/06/2026) serta diperkuat laporan CNBC, Reuters, dan berbagai media internasional pada hari yang sama. Kedua pihak saling menyalahkan.
Ketegangan meningkat setelah Komando Pusat Militer Amerika Serikat (US Central Command/CentCom) melancarkan serangan udara terhadap sedikitnya 10 sasaran militer Iran di sekitar Selat Hormuz, termasuk fasilitas penyimpanan rudal dan drone, sistem komunikasi militer, radar pantai, pertahanan udara, hingga kemampuan penebaran ranjau laut. Washington menyatakan operasi tersebut merupakan balasan atas serangan drone Iran terhadap kapal tanker berbendera Panama M/T Kiku, yang tengah mengangkut lebih dari dua juta barel minyak mentah ketika melintasi Selat Hormuz.
Baca Juga
Harga Minyak Melonjak Usai Trump Ancam Serangan Baru ke Iran
Melalui platform Truth Social, Trump menegaskan bahwa Iran telah kembali melanggar kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya disepakati kedua negara. Ia memperingatkan bahwa apabila Teheran terus melakukan serangan, Amerika Serikat tidak akan ragu menggunakan kekuatan militer secara penuh.
“Akan tiba saatnya kami tidak lagi bisa bersikap masuk akal dan terpaksa menyelesaikan pekerjaan yang telah kami mulai dengan sangat sukses secara militer. Jika itu terjadi, Republik Islam Iran tidak akan ada lagi,” tulis Trump.
Pernyataan tersebut menjadi ancaman paling keras sejak kedua negara menandatangani memorandum of understanding sekitar sepekan lalu sebagai dasar perundingan menuju penyelesaian permanen konflik yang telah berlangsung berbulan-bulan. Sebelumnya Trump juga beberapa kali mengancam akan membawa Iran kembali ke “zaman batu” apabila terus mengembangkan ancaman terhadap kepentingan Amerika dan sekutunya.
Iran tidak tinggal diam. Pemerintah Iran mengonfirmasi telah meluncurkan serangan balasan terhadap pangkalan-pangkalan militer AS di Bahrain dan Kuwait serta memperingatkan akan memberikan “respons yang menghancurkan” apabila Washington kembali menyerang wilayahnya.
Kementerian Luar Negeri Bahrain mengecam keras serangan rudal balistik dan drone Iran yang kembali menyasar wilayah negaranya. Pemerintah Bahrain menilai tindakan Teheran merupakan pola agresi yang sistematis dan disengaja. Kuwait juga melaporkan sistem pertahanan udaranya mencegat sejumlah rudal dan drone yang memasuki wilayah udara negara tersebut.
Uni Emirat Arab, Qatar, dan Arab Saudi turut mengecam serangan Iran terhadap Bahrain dan Kuwait. Ketiga negara Teluk itu menilai tindakan Teheran melanggar kedaulatan negara lain serta mengancam kebebasan pelayaran internasional di Selat Hormuz, jalur yang menjadi penghubung sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan Selat Hormuz masih sepenuhnya berada di bawah kendali Iran untuk 30 hari ke depan. Ia memperingatkan bahwa setiap serangan baru dari Amerika Serikat hanya akan memperburuk situasi keamanan yang sudah sangat rapuh di kawasan Teluk Persia.
Meski demikian, CentCom menyatakan lalu lintas kapal dagang di Selat Hormuz tetap berlangsung. Bahkan sejumlah kapal tanker mulai kembali melintasi jalur tersebut sehingga meredakan kekhawatiran pasar energi global. Harga minyak dunia justru melanjutkan penurunannya. Minyak Brent kontrak Agustus ditutup turun 4,34% menjadi US$71,99 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) turun 3,74% menjadi US$69,23 per barel. Penurunan harga tersebut mencerminkan keyakinan pelaku pasar bahwa pasokan minyak global masih relatif aman meskipun ketegangan geopolitik meningkat.
Baca Juga
Presiden Trump Klaim Perang Iran Berakhir, Kesepakatan Damai Sudah Ditandatangani
Sementara itu, suasana di dalam Iran masih dipenuhi ketidakpercayaan terhadap Amerika Serikat. Dalam laporannya dari Teheran, koresponden Al Jazeera, Mohammed Vall, menyebut sebagian besar masyarakat Iran memandang Amerika sebagai pihak yang telah melakukan agresi terhadap negaranya. Menurutnya, warga Iran tidak membedakan antara kebijakan Kongres dan Presiden AS. Mereka meyakini Iran hanya sedang mempertahankan diri sehingga tidak ada lagi kepercayaan terhadap Washington. Di tengah situasi tersebut, masyarakat Iran hidup dengan kekhawatiran bahwa perang dapat kembali meletus sewaktu-waktu meskipun kedua negara telah menandatangani MoU.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Ayatollah Ali Khamenei menyerukan agar komunitas internasional membawa Amerika Serikat dan Israel ke pengadilan internasional atas dugaan kejahatan perang selama konflik berlangsung. Seruan itu menandai semakin mengerasnya posisi politik Teheran, sekaligus memperlihatkan bahwa peluang tercapainya kesepakatan damai permanen dalam waktu dekat semakin sulit diwujudkan.
Dengan saling tuding melanggar kesepakatan, aksi saling serang yang kembali terjadi, serta ancaman terbuka dari kedua belah pihak, gencatan senjata selama 60 hari yang sebelumnya diharapkan menjadi jalan menuju perdamaian kini berada di ujung tanduk. Konflik yang sempat mereda kembali berpotensi berkembang menjadi konfrontasi militer yang lebih luas dengan dampak signifikan terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah, keamanan jalur energi global, serta perekonomian dunia.
