Dua Gempa Dahsyat Guncang Venezuela, Ribuan Korban Dikhawatirkan Tewas Tertimbun
Poin Penting
|
CARACAS, Investortrust.id -- Dua gempa bumi berkekuatan besar mengguncang ibu kota Venezuela, Caracas, dan wilayah sekitarnya pada Rabu (24/6/2026) sore waktu setempat. Bencana alam ini menimbulkan kerusakan masif, merobohkan bangunan bertingkat, serta memicu kekhawatiran bahwa ribuan warga tewas akibat tertimbun reruntuhan bangunan.
Rentetan gempa kembar ini juga diikuti oleh serangkaian gempa susulan yang kuat sehingga memperluas cakupan area terdampak serta memicu kepanikan massal di kalangan penduduk.
Berdasarkan laporan resmi dari US Geological Survey (USGS) yang dikutip AFP, gempa pertama bermaknitudo 7,2 mengguncang wilayah yang berjarak sekitar 160 kilometer arah barat Caracas.
Kurang dari satu menit kemudian, guncangan kedua yang jauh lebih besar dengan kekuatan magnitudo 7,5 kembali menghantam area tersebut.
Pihak USGS mengonfirmasi bahwa aktivitas seismik ini merupakan peristiwa gempa ganda, di mana guncangan magnitudo 7,5 bertindak sebagai gempa utama yang didahului oleh gempa pembuka bermagnitudo 7,2 sekitar 39 detik sebelumnya.
Gempa ini tercatat sebagai yang terkuat di Venezuela sejak gempa lepas pantai bermagnitudo 7,7 pada 29 Oktober 1900.
Bencana tektonik ini terjadi bertepatan dengan hari libur nasional sehingga sebagian besar warga tengah berada di dalam rumah saat guncangan hebat melanda.
Seperti diberitakan CNANews, Kamis (25/6/2026), kondisi geografis Venezuela yang berada di zona aktif pertemuan Lempeng Karibia dan Lempeng Amerika Selatan membuat dampak getaran terasa sangat destruktif.
Di ibu kota Caracas, sebuah gedung hunian berlantai 22 di lingkungan Altamira dilaporkan runtuh total menjadi puing-puing, sementara puluhan bangunan tempat tinggal lainnya mengalami retak-retak parah hingga dinding pembatasnya roboh.
Kepanikan luar biasa juga melanda area pusat perbelanjaan di ibu kota. Seorang pemilik toko bernama Heidi Romero menceritakan ketakutannya saat berada di lantai atas bangunan tersebut. "Tidak dapat dipercaya, saya bahkan tidak tahu berapa lama guncangan itu berlangsung. Kami keluar melalui tangga darurat; begitulah cara mereka mengeluarkan kami," kata perempuan berusia 42 tahun tersebut kepada jurnalis AFP.
Pengalaman mencekam senada disampaikan oleh Odalis Escalona, seorang karyawan bank berusia 54 tahun, yang menyaksikan kerusakan langsung di rumahnya. "Tangga terlepas, seluruh dinding retak. Barang-barang berjatuhan dari langit-langit. Itu sangat mengerikan," tuturnya.
Dampak kehancuran paling parah dilaporkan terjadi di wilayah Negara Bagian La Guaira, Trujillo, Carabobo, dan Miranda. Provinsi La Guaira, yang menjadi lokasi bandara utama negara tersebut, mengalami kerusakan infrastruktur yang sangat masif.
Presiden Interim Venezuela, Delcy Rodriguez, mengonfirmasi bahwa Bandara Internasional Maiquetia terpaksa ditutup total akibat kerusakan serius pada seluruh fasilitas terminalnya. Rekaman video dari saksi mata yang tersebar di media sosial memperlihatkan situasi mencekam saat atap bandara runtuh dan menimpa area di bawahnya.
Baca Juga
Gempa Dahsyat M 7,8 Guncang Filipina, Bangunan Runtuh dan Setidaknya 1 Korban Tewas
164 Orang Terkonfirmasi Tewas
Melalui pernyataan resminya, Delcy Rodriguez mengumumkan bahwa data sementara mencatat sedikitnya 164 orang dikonfirmasi meninggal dunia dan hampir 1.000 orang lainnya mengalami luka-lukap.
Kendati demikian, angka kematian tersebut diprediksi akan melonjak tajam dalam beberapa hari ke depan. Pemodelan prediktif dari USGS mengindikasikan bahwa jumlah korban jiwa kemungkinan besar akan menyentuh angka ribuan, dengan probabilitas substansial melebihi 10.000 angka kematian.
Angka estimasi ini diperkuat oleh data dari situs pelacak orang hilang yang diunggah oleh para pemimpin oposisi di platform X, yang mencatat lebih dari 10.000 orang dinyatakan hilang hingga Kamis (25/6/2026) pagi pukul 05.40 waktu setempat.
Di tengah situasi darurat ini, proses evakuasi terus berjalan lambat lantaran keterbatasan peralatan dan pemadaman listrik yang meluas.
Para relawan dan petugas penyelamat lokal terpaksa memanjat tumpukan beton di bawah kegelapan malam demi mencari tanda-tanda kehidupan. Di lokasi runtuhnya sebuah gedung 12 lantai, jerit tangis keluarga korban terus terdengar di tengah keputusasaan.
"Ada orang hidup di dalam sana dan tidak ada seorang pun yang datang untuk menyelamatkan mereka," ucap seorang ibu dengan penuh harap yang sedang menanti kabar putrinya yang tertimbun puing.
Kendala evakuasi juga dirasakan oleh Carmen Guedez, seorang administrator berusia 69 tahun yang tinggal di kawasan perbukitan kelas menengah di atas ibu kota. Ketika gempa berguncang hebat, ia hanya bisa meringkuk bersama tetangga dan saudaranya yang terbaring sakit di atas tempat tidur. "Guncangan itu terus menguat. Saya mulai melihat jendela bergerak dan kemudian semuanya bergoyang. Kami tidak bisa keluar. Tetangga yang lain masih berada di jalan luar," ungkapnya dikutip CNA.
Masyarakat Masih Diminta Waspada Gempa Susulan
Menanggapi situasi kritis tersebut, Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello mengimbau seluruh masyarakat untuk segera mengosongkan rumah mereka dan tetap berada di luar ruangan guna mengantisipasi gempa susulan. Sebagai langkah mitigasi terhadap potensi bencana sekunder, pemerintah pusat telah memutus sementara aliran gas publik ke sejumlah kompleks bangunan bertingkat.
"Kami memiliki beberapa struktur bangunan yang rusak dan kami tidak ingin ada jenis kecelakaan apa pun yang melibatkan gas terjadi," jelas Diosdado Cabello.
Di sisi lain, misi hak asasi manusia PBB untuk Venezuela mendesak pemerintah agar segera mencabut pembatasan akses media sosial di beberapa wilayah terisolasi. Pihak PBB menegaskan bahwa pemulihan jaringan komunikasi merupakan masalah hidup dan mati guna membantu warga bertukar informasi darurat, mengingat otoritas setempat kewalahan mengatasi dampak bencana akibat salah urus ekonomi yang terjadi selama bertahun-tahun.
Baca Juga
Gempa M 7,5 Guncang Jepang, Tsunami Diperkirakan Setinggi 3 Meter
Solidaritas global langsung mengalir deras dari komunitas internasional tak lama setelah berita bencana ini menyebar luas. Negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Tiongkok, India, Spanyol, Italia, Uni Eropa, serta sebagian besar negara di kawasan Amerika Latin menyatakan kesiapan mereka untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan secara darurat.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, menyatakan bahwa pihaknya segera mengerahkan tim pencari dan penyelamat, sumber daya medis, serta bantuan kemanusiaan logistik langsung menuju Venezuela. Presiden AS Donald Trump melalui akun media sosialnya juga menyampaikan belasungkawa terdalam atas jumlah kematian yang disebutnya sangat menghancurkan.
Presiden Interim Delcy Rodriguez menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas respons cepat dari para pemimpin dunia, termasuk Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin, sembari memastikan bahwa tim penyelamat mancanegara akan segera tiba di lokasi bencana.
Momentum kelam ini juga dimanfaatkannya untuk menyerukan persatuan nasional kepada seluruh faksi politik di Venezuela. Pernyataan tersebut dikeluarkan di tengah tensi politik dalam negeri yang tinggi, di mana aksi protes anti-pemerintah akibat inflasi tahunan yang menembus angka 500 persen terus bergejolak sejak penangkapan Presiden Nicolas Maduro dalam operasi penyerbuan pada Januari lalu.
Dahsyatnya kekuatan gempa kembar Venezuela ini ternyata tidak hanya menghancurkan wilayah domestik, tetapi juga merambat hingga ke negara tetangga. Getaran gempa dilaporkan terasa kuat hingga ke ibu kota Kolombia, Bogota, yang berjarak ratusan kilometer dari pusat gempa. Guncangan tersebut memicu bunyi alarm darurat di berbagai sudut kota dan memaksa sebagian besar penghuni gedung perkantoran serta apartemen melakukan evakuasi mandiri ke area terbuka.
Koordinator Jaringan Seismologi Nasional Kolombia, Freddy Tovar, mengonfirmasi bahwa instansinya telah menerima lebih dari 200 laporan getaran dari seluruh penjuru negeri. "Kondisi dari peristiwa seismik ini berarti bahwa beberapa gempa susulan mungkin masih akan terjadi, yang juga dapat dirasakan secara luas di seluruh wilayah teritori Kolombia," pungkas Freddy Tovar dalam keterangannya di platform X.

