AS-Iran Sepakati Peta Jalan Damai 60 Hari, Hormuz Dibuka, Konflik Israel–Hizbullah Dibahas
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Harapan perdamaian di Timur Tengah kembali menguat. Amerika Serikat dan Iran pada Minggu–Senin (21–22 Juni 2026) berhasil menyepakati peta jalan (roadmap) menuju perjanjian damai final dalam 60 hari, membuka jalur pelayaran strategis Selat Hormuz, serta membentuk mekanisme khusus untuk meredakan konflik antara Israel dan Hizbullah di Lebanon. Kesepakatan tersebut dicapai dalam perundingan tingkat tinggi di Burgenstock, Swiss, yang dimediasi Pakistan dan Qatar.
Perkembangan ini dipandang sebagai terobosan diplomatik terbesar sejak perang Iran-AS dan eskalasi konflik kawasan mengguncang Timur Tengah selama beberapa bulan terakhir. Selain menyentuh isu nuklir Iran, kesepakatan juga mencakup keamanan energi global, stabilitas jalur perdagangan minyak, dan upaya menghentikan pertempuran di Lebanon selatan.
Wakil Presiden AS JD Vance menyebut perundingan tersebut menghasilkan “kemajuan besar” dan menjadi fondasi kuat menuju kesepakatan permanen. Sementara Presiden Donald Trump menyatakan keyakinannya bahwa Iran pada akhirnya akan menerima inspeksi internasional terhadap program persenjataannya sebagai bagian dari penyelesaian akhir.
Baca Juga
AS Buka Keran Ekspor Minyak Iran Selama 60 Hari, Minyak Brent Anjlok Lebih dari 3%,
Salah satu hasil paling penting dari perundingan Swiss adalah kesepakatan untuk menjaga kelancaran lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.
Iran dan Amerika Serikat sepakat membentuk jalur komunikasi langsung (hotline) guna mencegah insiden militer dan salah pengertian ketika kapal-kapal melintasi perairan tersebut. Menurut negosiator utama Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, hotline itu akan menjadi pusat koordinasi bagi kapal dagang maupun pihak-pihak yang membutuhkan klarifikasi terkait pelayaran di Hormuz.
Data MarineTraffic menunjukkan lalu lintas kapal di Hormuz mulai pulih. Dalam 24 jam terakhir sedikitnya dua lusin kapal komersial melintasi selat tersebut, jauh lebih tinggi dibanding periode puncak perang ketika banyak kapal menghindari kawasan itu akibat risiko keamanan.
Pulihnya aktivitas pelayaran segera disambut positif pasar energi global. Harga minyak mentah dunia melemah karena pelaku pasar menilai risiko gangguan pasokan dari Teluk Persia mulai mereda. Brent tercatat turun ke kisaran US$77–78 per barel, sementara WTI turun ke sekitar US$75 per barel.
Baca Juga
Harga Emas Menguat Saat Harapan Kesepakatan AS-Iran Tekan Harga Minyak
Sebagai bagian dari langkah awal membangun kepercayaan, Pemerintah AS mengeluarkan lisensi sementara selama 60 hari yang mengizinkan kembali penjualan dan pengiriman minyak Iran ke pasar internasional. Kebijakan tersebut juga mencakup layanan perbankan, asuransi, dan transportasi yang berkaitan dengan perdagangan minyak Iran.
Washington menyatakan pelonggaran tersebut diberikan setelah Iran berkomitmen menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz dan membuka kembali akses bagi pemantau internasional terhadap program nuklirnya.
Selain itu, Iran mengklaim bahwa pembicaraan di Swiss juga menghasilkan finalisasi proses pencairan sebagian dana Iran yang selama ini dibekukan di luar negeri.
Di luar isu nuklir dan energi, perundingan Swiss juga menghasilkan kesepakatan pembentukan “deconfliction cell” atau mekanisme koordinasi khusus untuk Lebanon.
Mekanisme tersebut dirancang guna mencegah bentrokan antara Israel dan Hizbullah serta mengawasi implementasi gencatan senjata yang masih rapuh di Lebanon selatan. Amerika Serikat, Iran, dan pihak Lebanon akan terlibat dalam koordinasi tersebut.
Meski demikian, jalan menuju perdamaian penuh masih panjang. Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menegaskan pasukan Israel akan tetap berada di beberapa wilayah Lebanon selatan selama dianggap perlu. Di sisi lain, Hizbullah menyatakan siap merespons setiap pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata.
Baca Juga
Departemen Luar Negeri AS juga mengonfirmasi bahwa putaran berikutnya perundingan Israel–Lebanon yang dimediasi Washington akan mencakup jalur politik dan militer secara bersamaan guna mencapai kesepakatan keamanan yang lebih komprehensif.
Dalam pernyataan bersama yang disampaikan mediator Pakistan dan Qatar, kedua negara menyebut perundingan berlangsung dalam suasana “positif dan konstruktif” serta berhasil menyusun kerangka menuju kesepakatan permanen dalam waktu 60 hari. Tim teknis dari kedua negara akan melanjutkan pembahasan sepanjang pekan ini di Swiss.
Bagi pasar global, keberhasilan menjaga perdamaian di tiga titik krusial—program nuklir Iran, Selat Hormuz, dan konflik Israel–Hizbullah—akan menjadi faktor penentu stabilitas energi, perdagangan internasional, serta sentimen investasi dunia pada paruh kedua 2026. Kegagalan mencapai kesepakatan final, sebaliknya, berpotensi mengembalikan risiko geopolitik yang selama beberapa bulan terakhir mengguncang pasar keuangan dan harga minyak dunia.
