Politik Inggris Bergolak, PM Keir Starmer Mundur
Poin Penting
|
LONDON, investortrust.id – Politik Inggris memasuki babak baru setelah Perdana Menteri Keir Starmer secara resmi mengumumkan pengunduran dirinya sebagai pemimpin Partai Buruh (Labour Party) sekaligus kepala pemerintahan Inggris. Starmer mengakhiri masa kepemimpinan yang berlangsung kurang dari dua tahun sejak kemenangan besar Labour Party dalam pemilu 2024.
Baca Juga
Bursa Eropa Menguat, Investor Cermati Gejolak Politik Inggris dan Kunjungan Trump ke China
Hanya beberapa jam setelah pengumuman tersebut, seperti dilansir BBC, Senin (22/6/2026), Andy Burnham, yang baru saja dilantik sebagai anggota parlemen (MP) untuk daerah pemilihan Makerfield, menyatakan siap bertarung memperebutkan kursi pemimpin Partai Buruh dan Perdana Menteri Inggris berikutnya.
Burnham, mantan Wali Kota Greater Manchester yang dikenal luas sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh di wilayah utara Inggris, langsung muncul sebagai kandidat terdepan. Langkahnya mendapat dorongan besar setelah mantan Menteri Kesehatan Wes Streeting menyatakan tidak akan ikut dalam kontestasi dan memilih mendukung Burnham.
Dalam pernyataannya, Streeting mengatakan bahwa Burnham merupakan sosok yang mampu menyatukan faksi-faksi di dalam Labour sekaligus memulihkan kepercayaan publik terhadap partai yang tengah menghadapi tekanan politik besar.
Dukungan tersebut dinilai signifikan karena Streeting sebelumnya merupakan salah satu figur yang disebut-sebut berpotensi menantang Starmer dan bahkan sempat menyatakan kesediaannya maju jika terjadi pemilihan kepemimpinan partai.
Sementara itu, nama lain yang mulai mencuat adalah Darren Jones, Kepala Sekretaris untuk Perdana Menteri. Sejumlah anggota parlemen Buruh disebut mendorong Jones untuk ikut bertarung. Namun, menurut laporan BBC, ia belum mengambil keputusan dan kalangan dekatnya menilai kemungkinan pencalonan tersebut masih kecil.
Pidato Emosional Starmer
Sebelum meninggalkan Downing Street, Starmer menyampaikan pidato emosional yang disiarkan secara nasional. Dalam pidato tersebut, ia mengucapkan terima kasih kepada keluarganya, terutama sang istri, atas dukungan selama masa jabatannya.
"Saya selalu berusaha melakukan yang terbaik bagi negara ini," ujar Starmer dalam pidato perpisahannya.
Baca Juga
Keir Starmer Geram, Inggris Alami Gelombang Kerusuhan Terburuk sejak 13 Tahun
Pada malam harinya, Starmer dan istrinya juga menggelar acara khusus di Downing Street untuk mengucapkan terima kasih kepada staf pemerintahan, relawan, dan para pendukung yang telah membantu perjalanan politiknya.
Meski mengundurkan diri, Starmer menegaskan akan tetap menjabat sebagai Perdana Menteri hingga proses pemilihan pemimpin baru Labour selesai.
Burnham Favorit Kuat
Media Inggris dan sejumlah analis politik menilai Burnham kini berada di posisi terdepan untuk mengambil alih kepemimpinan partai. Kemenangan telaknya dalam pemilihan sela Makerfield pekan lalu memperkuat posisinya setelah berbulan-bulan dianggap sebagai rival utama Starmer.
Burnham sebelumnya dikenal sebagai pengusung agenda pembangunan wilayah utara Inggris, reformasi transportasi publik, dan desentralisasi kekuasaan dari London ke daerah-daerah. Popularitasnya di kalangan akar rumput membuatnya sering dijuluki "King of the North".
Jika tidak ada kandidat kuat lain yang muncul dan mayoritas anggota parlemen Buruh sepakat mendukungnya, Burnham bahkan bisa terpilih tanpa melalui kontestasi panjang.
Partai Buruh diperkirakan membuka proses nominasi kepemimpinan pada awal Juli. Jika terjadi persaingan penuh, pemimpin baru kemungkinan ditetapkan sebelum parlemen kembali bersidang pada September.
Namun jika sebagian besar anggota parlemen dan struktur partai memberikan dukungan kepada satu kandidat, proses transisi bisa berlangsung jauh lebih cepat.
Pergantian kepemimpinan ini terjadi pada saat yang sensitif bagi Inggris. Pemerintah masih menghadapi tantangan perlambatan ekonomi, tekanan biaya hidup, serta meningkatnya dukungan terhadap Partai Reformasi (Reform UK) yang dipimpin Nigel Farage.
Karena itu, siapa pun yang menggantikan Starmer tidak hanya harus mempersatukan Partai Buruh, tetapi juga meyakinkan pemilih bahwa partai tersebut masih mampu mempertahankan kekuasaan pada pemilu berikutnya.
