Setelah Kesepakatan AS-Iran Diteken, Negosiasi Final 60 Hari Kini Jadi Penentu
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Ketegangan yang selama berbulan-bulan mengguncang Timur Tengah memasuki fase baru setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani secara elektronik "Memorandum Islamabad" pada 18 Juni. Kesepakatan yang dimediasi Pakistan tersebut menjadi terobosan diplomatik terbesar sejak konflik meletus pada akhir Februari dan sempat mengancam pasokan energi global melalui Selat Hormuz.
Baca Juga
Implementasi Kesepakatan AS-Iran Masih Perlu Waktu, IEA: Krisis Hormuz Ubah Peta Energi Dunia
Namun, euforia pasar kini mulai berganti menjadi sikap menunggu. Pelaku pasar, pemerintah negara-negara importir energi, serta perusahaan pelayaran internasional ingin melihat apakah isi kesepakatan benar-benar dijalankan di lapangan.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei pada Jumat (19/6/2026) menegaskan bahwa konsultasi melalui mediator masih berlangsung untuk menentukan putaran perundingan berikutnya dengan Washington. Dalam pandangan Teheran, negosiasi final baru dapat dilakukan setelah sejumlah klausul awal dalam memorandum mulai diimplementasikan.
Klausul tersebut mencakup gencatan senjata, pencabutan blokade laut AS terhadap Iran, pembukaan kembali jalur pelayaran Selat Hormuz, pemberian pengecualian ekspor minyak Iran, serta pencairan aset-aset Iran yang selama ini dibekukan. (Reuters)
Hormuz Dibuka, tapi Belum Normal
Selat Hormuz memiliki arti strategis luar biasa bagi ekonomi dunia. Sekitar seperlima perdagangan minyak global dan sebagian besar ekspor LNG Teluk Persia melewati jalur sempit tersebut.
Berdasarkan isi memorandum yang dipublikasikan berbagai media internasional, Iran berkomitmen membuka kembali Selat Hormuz untuk kapal komersial, sementara Amerika Serikat mulai mencabut blokade laut terhadap pelabuhan Iran yang diperkirakan selesai dalam 30 hari.
Reuters melaporkan lalu lintas kapal mulai pulih dalam beberapa hari terakhir setelah aktivitas pelayaran sempat lumpuh akibat konflik. Kapal-kapal komersial kembali melintasi Hormuz meski masih di bawah pengawasan ketat otoritas maritim.
Bahkan, pemerintah Iran mengumumkan pembebasan biaya transit Hormuz selama 60 hari untuk mendukung proses negosiasi dan mengembalikan kepercayaan pelaku pelayaran internasional.
Meski demikian, sejumlah laporan menunjukkan masih terdapat perbedaan pandangan di dalam struktur politik Iran mengenai implementasi kesepakatan tersebut. Beberapa kelompok garis keras mempertanyakan apakah seluruh komitmen Washington telah dijalankan sesuai kesepakatan.
Harga Minyak Turun
Reaksi pasar terhadap kesepakatan berlangsung cepat. Reuters dalam laporan pasar globalnya mencatat bahwa kabar penandatanganan memorandum dan pembukaan kembali Hormuz langsung meredakan kekhawatiran gangguan pasokan minyak dunia.
Baca Juga
Selat Hormuz Siap Dibuka Kembali, Minyak Brent Terjun di Bawah US$ 80
Harga minyak yang sebelumnya melonjak akibat konflik mulai terkoreksi tajam, sementara pasar saham global bergerak lebih positif.
Namun investor belum sepenuhnya tenang. Pasar kini mengalihkan perhatian ke dua faktor utama.
Pertama, apakah ekspor minyak Iran benar-benar kembali meningkat setelah pembatasan dilonggarkan. Kedua, apakah negosiasi nuklir yang menjadi bagian paling sensitif dari kesepakatan dapat menghasilkan kompromi permanen dalam waktu 60 hari.
Swiss Ditunda, Diplomasi Belum Berhenti
Di tengah optimisme tersebut, muncul hambatan baru.
Pertemuan lanjutan yang sedianya digelar di Swiss dibatalkan setelah Wakil Presiden AS JD Vance memutuskan tidak menghadiri pembicaraan karena kendala logistik dan teknis. Kendati demikian, pemerintah Swiss menegaskan tetap siap menjadi tuan rumah bagi dialog berikutnya.
Baghaei mengatakan pembicaraan Swiss menjadi tidak lagi mendesak setelah memorandum ditandatangani secara digital. Fokus saat ini adalah menyusun mekanisme negosiasi tahap akhir yang akan menentukan masa depan hubungan kedua negara.
Menurut sejumlah analis yang diwawancarai Reuters, memorandum ini lebih merupakan kerangka kerja politik daripada perjanjian damai final. Banyak isu krusial masih harus dirundingkan, termasuk program nuklir Iran, pencabutan sanksi ekonomi, pelepasan aset yang dibekukan, hingga mekanisme pengawasan internasional oleh IAEA.
Kesepakatan ini memang berhasil menurunkan suhu konflik dan mengurangi risiko krisis energi global dalam jangka pendek. Namun bagi pasar keuangan dan komunitas internasional, pertanyaan terbesarnya kini bukan lagi apakah AS dan Iran mampu mencapai kesepakatan awal, melainkan apakah kedua pihak mampu mempertahankannya hingga menjadi perjanjian permanen.
Selama 60 hari ke depan, implementasi setiap klausul akan diawasi ketat oleh pasar energi, perusahaan pelayaran, negara-negara Teluk, serta para investor global yang selama berbulan-bulan hidup dalam bayang-bayang ancaman penutupan Selat Hormuz.

