Harga Minyak Anjlok, Negosiasi AS-Iran Jadi Penentu Arah Pasar
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak dunia merosot tajam pada Rabu (6/5/2026), dipicu optimisme bahwa Amerika Serikat dan Iran semakin dekat mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang telah memicu gangguan pasokan energi terbesar dalam sejarah.
Minyak mentah Brent turun hampir 8% ke US$101,27 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) melemah sekitar 7% ke US$95,08 per barel.
Baca Juga
AS Klaim Gencatan Senjata dengan Iran Masih Berlaku, Harga Minyak Turun Tajam
Penurunan ini terjadi setelah laporan menyebutkan bahwa Gedung Putih semakin dekat pada nota kesepahaman berisi 14 poin yang akan mengakhiri perang dan membuka jalan bagi pembicaraan nuklir lanjutan.
Namun Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa kesepakatan belum pasti tercapai. Ia bahkan mengancam akan melanjutkan serangan militer jika Iran menolak proposal tersebut.
“Jika mereka tidak setuju, pengeboman akan dimulai dengan intensitas yang jauh lebih tinggi,” tulis Trump dalam unggahan di media sosial.
Menurut laporan, Washington menunggu respons Iran dalam 48 jam ke depan. Meski belum ada kesepakatan final, sumber menyebut posisi kedua negara kini berada pada titik terdekat menuju resolusi sejak perang dimulai.
Pihak Iran menyatakan masih mengevaluasi proposal damai dan menegaskan hanya akan menerima kesepakatan yang dianggap “adil”.
AS juga menghentikan sementara “Project Freedom”, operasi militer untuk mengawal kapal dagang di Selat Hormuz, seiring kemajuan negosiasi.
Baca Juga
“Project Freedom” Dihentikan Sementara, Trump Sebut Ada Kemajuan Negosiasi dengan Iran
Gangguan di jalur tersebut telah menyebabkan sekitar 23.000 pelaut dari 87 negara terjebak di Teluk Persia, menyusul penutupan efektif oleh Iran.
Analis menilai normalisasi aliran minyak melalui Selat Hormuz menjadi kunci stabilitas pasar energi global.
“Sekitar 13 juta barel per hari pasokan terganggu dan saat ini ditopang oleh cadangan yang terus menipis,” beber Warren Patterson, kepala strategi komoditas di bank Belanda ING, dalam sebuah catatan riset, dikutip CNBC.
Ia memperingatkan bahwa penurunan stok akan membuat pasar minyak semakin rentan terhadap volatilitas.
Sementara itu, Nicolo Bocchin dari Azimut Group menilai lonjakan harga energi sebelumnya telah menekan permintaan global. Bahkan jika jalur pelayaran kembali dibuka, normalisasi perdagangan diperkirakan memerlukan waktu berminggu-minggu.

