Damai Tersandera Lebanon
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Harapan tercapainya perdamaian antara Iran dan Israel kembali menghadapi ujian berat. Setelah saling melancarkan serangan untuk pertama kalinya sejak gencatan senjata April 2026, Iran pada Senin (08/06/2026) mengumumkan penghentian sementara operasi militernya terhadap Israel. Namun, Teheran memberikan syarat tegas: serangan akan kembali dilancarkan jika Israel terus menggempur wilayah Lebanon selatan.
Perkembangan tersebut terjadi di tengah upaya diplomatik intensif yang dipimpin Presiden AS Donald Trump untuk mendorong gencatan senjata permanen. CNN, NBC News, dan BBC melaporkan bahwa Trump secara langsung meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menahan diri dari aksi balasan terhadap Iran dan mendorong kedua pihak segera menghentikan serangan militer. Meski demikian, Israel tetap melancarkan serangan udara ke sejumlah wilayah di Iran setelah Teheran menembakkan gelombang rudal ke wilayah Israel pada Minggu (07/06/2026).
Menurut Komando Militer Iran, penghentian serangan terhadap Israel tidak berlaku apabila Israel terus menyerang Lebanon selatan. Teheran menegaskan akan memberikan respons yang “lebih keras” jika operasi militer Israel terhadap Lebanon berlanjut. Pernyataan ini menunjukkan bahwa isu Lebanon kini menjadi salah satu hambatan utama dalam perundingan damai yang tengah berlangsung.
Di sisi lain, Israel menolak mengaitkan operasi militernya di Lebanon dengan perundingan Iran-Israel. Pemerintah Israel berulang kali menegaskan bahwa sasaran serangan mereka bukan negara Lebanon, melainkan kelompok bersenjata Hezbollah yang selama ini didukung dan dipersenjatai Iran. Bagi Tel Aviv, keberadaan Hizbullah di perbatasan utara Israel tetap menjadi ancaman keamanan yang tidak dapat ditoleransi.
Serangan terbaru Israel pada Senin (8/6/2026) menewaskan sedikitnya satu orang dan melukai sejumlah warga di kota Al-Kharayeb, Lebanon selatan. Dua petugas Palang Merah Lebanon juga dilaporkan terluka setelah kendaraan mereka terkena serangan di wilayah Tyre. BBC Verify mengonfirmasi kerusakan luas akibat serangan Israel di kawasan Tyre dan Burj al-Shamali melalui rekaman video yang telah diverifikasi. Sementara itu, militer Israel menyatakan pihaknya juga menghadapi serangan proyektil dari wilayah Lebanon yang memicu sirene peringatan di perbatasan utara Israel.
Baca Juga
Gencatan Senjata AS-Iran Terancam Runtuh, Israel Klaim Diserang Rudal
Posisi Lebanon sendiri semakin sulit. Presiden Lebanon Joseph Aoun dalam beberapa kesempatan terakhir mendesak agar Hizbullah tidak lagi menjadikan Lebanon sebagai arena konflik regional. Pemerintah Beirut berupaya memperkuat otoritas negara dan mendorong seluruh kelompok bersenjata berada di bawah kendali angkatan bersenjata nasional. Langkah tersebut dipandang sebagai syarat penting untuk menghentikan serangan Israel yang terus berulang di wilayah Lebanon selatan.
Washington mendukung pendekatan tersebut. Sejumlah pejabat AS menilai stabilitas Lebanon hanya dapat tercapai apabila pengaruh militer Hizbullah berkurang dan dukungan Iran terhadap kelompok tersebut dihentikan. Bagi Israel, penghentian pasokan senjata dan dukungan finansial Iran kepada Hizbullah merupakan bagian tak terpisahkan dari proses perdamaian yang lebih luas di Timur Tengah.
Ketegangan terbaru menunjukkan bahwa perang Iran-Israel tidak lagi berdiri sendiri. Konflik kini terhubung erat dengan situasi di Lebanon, keberadaan Hizbullah, dan rivalitas geopolitik yang lebih luas antara Iran dan Israel. Karena itu, meskipun Teheran dan Tel Aviv mulai menunjukkan sinyal deeskalasi, peluang tercapainya perdamaian permanen masih menghadapi jalan panjang.
Trump pada Senin kembali menyatakan bahwa kesepakatan damai “sudah dekat” dan kedua pihak sedang bergerak menuju gencatan senjata yang lebih permanen. Namun perkembangan di Lebanon menunjukkan bahwa perdamaian tidak hanya bergantung pada hubungan Iran dan Israel, tetapi juga pada penyelesaian konflik yang melibatkan Hizbullah dan masa depan keamanan Lebanon. Selama persoalan tersebut belum terpecahkan, Timur Tengah masih berisiko kembali terjerumus ke dalam eskalasi yang lebih luas.

