Gencatan Senjata AS-Iran Terancam Runtuh, Israel Klaim Diserang Rudal
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran dilaporkan meluncurkan rudal ke wilayah Israel pada Minggu (7/6/2026). Hal ini memicu kekhawatiran bahwa gencatan senjata yang rapuh antara Washington dan Teheran dapat runtuh sewaktu-waktu.
Baca Juga
Dilansir CNBC, laporan mengenai peluncuran rudal itu muncul setelah Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menuduh Amerika Serikat melanggar kesepakatan gencatan senjata melalui blokade laut serta tindakan yang berkaitan dengan konflik di Lebanon.
Gedung Putih mengonfirmasi bahwa Presiden Donald Trump telah menerima pengarahan terkait kembali terjadinya pertempuran setelah Israel melaporkan adanya serangan rudal dari Iran. Informasi tersebut pertama kali diberitakan Axios.
Dalam pernyataannya di platform X, Ghalibaf menegaskan bahwa blokade AS terhadap kapal dan pelabuhan Iran, serta aktivitas militer yang berhubungan dengan Lebanon, telah menjadikan pangkalan dan aset Amerika Serikat di kawasan sebagai target yang sah.
Meski demikian, laporan mengenai peluncuran rudal tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. Namun, Israel menyatakan sistem pertahanannya diaktifkan setelah mendeteksi rudal yang datang dari arah Iran. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengaku telah menjalankan prosedur pertahanan untuk mencegat ancaman tersebut.
Trump menilai insiden tersebut berpotensi menghambat jalannya diplomasi yang sedang berlangsung.
“Serangan rudal itu jelas tidak akan membantu negosiasi,” ujar Trump dalam wawancara dengan Fox News.
Menurut laporan Axios, Trump bahkan berencana menghubungi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk mendesaknya agar tidak melakukan serangan balasan yang dapat memperluas konflik.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menegaskan bahwa gencatan senjata yang berlaku sejak awal April bersifat kondisional.
“Operasi malam ini adalah sebuah peringatan. Jika agresi kembali terjadi, respons kami akan lebih luas,” demikian pernyataan IRGC kepada The New York Times.
Situasi semakin rumit karena konflik antara Israel dan kelompok Hezbollah yang didukung Iran di Lebanon masih terus berlangsung. Teheran menuntut penghentian permusuhan di Lebanon serta pencabutan blokade AS terhadap pelabuhan dan armada perdagangannya.
Sebaliknya, Washington menuntut Iran menyerahkan material nuklirnya dan memberikan jaminan permanen bahwa negara tersebut tidak akan mengembangkan senjata nuklir.
Ketegangan juga meningkat setelah muncul laporan bahwa pemerintahan Trump mempertimbangkan penggunaan sebagian aset Iran untuk membantu membiayai rekonstruksi kerusakan akibat serangan-serangan sebelumnya di kawasan Teluk.
Baca Juga
Menanggapi kabar tersebut, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan bahwa aset Iran bukanlah “harta rampasan perang bagi Washington maupun dana kompensasi bagi sekutu-sekutunya.”
Pernyataan itu menunjukkan bahwa perbedaan mendasar antara kedua negara masih jauh dari penyelesaian. Dengan insiden terbaru ini, prospek perdamaian jangka panjang di Timur Tengah kembali menghadapi ujian berat, sementara pasar global terus mencermati risiko gangguan pasokan energi dan stabilitas kawasan.

