Saham Berjangka AS Anjlok, Inflasi dan IPO SpaceX Jadi Sorotan Investor Wall Street Pekan Ini
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Kontrak berjangka saham Amerika Serikat bergerak melemah pada Minggu malam (7/6/2026) setelah aksi jual besar-besaran di sektor teknologi. ‘Sell off’ saham teknologi menyeret Nasdaq ke penurunan harian terburuk dalam lebih dari satu tahun.
Futures Dow Jones Industrial Average turun sekitar 150 poin. Sementara itu, futures S&P 500 melemah 0,4% dan futures Nasdaq 100 turun 0,6%.
Baca Juga
Saham Teknologi di Wall Street Berguguran, Nasdaq Terjun Bebas, Dow Anjlok Hampir 700 Poin
Pada perdagangan Jumat, Nasdaq Composite ambles 4,18% ke level 25.709,43, menjadi penurunan terbesar sejak April 2025. Indeks S&P 500 merosot 2,64% ke 7.383,74, sedangkan Dow Jones kehilangan 695 poin dan ditutup pada level 50.866,78, sehari setelah mencetak rekor tertinggi baru.
Dalam sepekan, S&P 500 turun lebih dari 2%, Nasdaq kehilangan 4,7%, sementara Dow Jones mencatat pelemahan tipis.
Tekanan di pasar muncul setelah laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat untuk Mei menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang lebih kuat dibandingkan perkiraan. Data tersebut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan memicu kekhawatiran bahwa biaya pendanaan yang lebih tinggi akan membebani perusahaan-perusahaan yang tengah agresif berinvestasi dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI).
Kepala Strategi Pasar Ritholtz Wealth Management, Callie Cox, menilai reli panjang Wall Street mulai menghadapi tantangan baru. “Pasar saham mungkin sedang menjadi korban dari keberhasilannya sendiri. Pasar tenaga kerja membaik, tetapi ancaman inflasi yang tetap tinggi menjadi risiko utama yang mengkhawatirkan investor,” ujarnya, seperti dikutip CNBC.
Menurut Cox, saham-saham pertumbuhan dan momentum telah mengangkat hampir seluruh sektor sejak pasar mencapai titik terendah pada Maret lalu. Namun kondisi tersebut menjadi semakin sulit dipertahankan di tengah lingkungan suku bunga tinggi dan inflasi yang belum sepenuhnya terkendali.
Perhatian investor kini beralih ke dua agenda besar pekan ini. Pertama adalah data inflasi Amerika Serikat melalui laporan Consumer Price Index (CPI) Mei yang akan dirilis Rabu, disusul Producer Price Index (PPI) pada Kamis. Kedua indikator tersebut akan menjadi petunjuk penting mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve dalam beberapa bulan ke depan.
Agenda kedua yang tak kalah penting adalah penawaran saham perdana (IPO) perusahaan antariksa SpaceX milik Elon Musk yang dijadwalkan berlangsung Jumat.
Baca Juga
Harga IPO SpaceX Tembus Rp 2,43 Juta per Saham, Eksposur Bitcoin Elon Musk Jadi Perhatian Pasar
IPO tersebut diperkirakan menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah Wall Street dan berpotensi menjadi ujian terbesar terhadap narasi valuasi sektor AI yang selama dua tahun terakhir mendorong reli pasar saham global.
“IPO besar sering kali menjadi penanda puncak euforia dalam siklus pasar sebelumnya. Karena itu banyak investor bertanya-tanya apa arti debut SpaceX terhadap sentimen pasar,” kata Cox.
Dengan valuasi perusahaan teknologi dan AI yang sudah berada di level tinggi, kombinasi antara inflasi yang masih kuat, suku bunga yang bertahan tinggi, serta IPO raksasa SpaceX berpotensi menjadi faktor penentu arah Wall Street pada paruh kedua tahun ini. Jika data inflasi kembali mengejutkan pasar, volatilitas diperkirakan akan tetap tinggi di tengah meningkatnya kehati-hatian investor terhadap sektor teknologi.

