100 Hari Perang Iran: Pasar Mulai Kebal
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Seratus hari sejak perang Iran meletus pada 28 Februari 2026, dunia menghadapi paradoks yang menarik. Konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel telah mengguncang pasar energi, memicu lonjakan inflasi, serta meningkatkan ketidakpastian geopolitik global. Namun di saat yang sama, sebagian pasar saham justru mencetak rekor tertinggi baru.
Laporan CNBC yang diterbitkan pada Minggu (07/06/2026) menunjukkan bahwa perang yang telah memasuki hari ke-100 terus menciptakan volatilitas besar di hampir seluruh kelas aset dan kawasan ekonomi dunia. Upaya perdamaian antara Washington dan Teheran masih berjalan di tempat, sementara kedua negara terus mengirim sinyal yang saling bertentangan mengenai prospek negosiasi damai. Meski demikian, gencatan senjata rapuh masih bertahan untuk memberi ruang bagi diplomasi. Kondisi tersebut membuat pasar global terus berada dalam ketidakpastian.
Pada fase awal perang, pasar saham global sempat mengalami tekanan tajam menyusul serangan pertama AS dan Israel terhadap Iran. Namun, perkembangan berikutnya menunjukkan respons yang berbeda. Indeks saham utama AS justru berhasil menghapus seluruh kerugian awal. Bahkan indeks S&P 500 kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa meskipun perang masih berlangsung dan harga energi tetap tinggi.
Chief Investment Officer Netwealth, Iain Barnes, mengatakan pasar saham selama ini berasumsi bahwa perang akan mengubah kondisi ekonomi global dari lingkungan inflasi rendah menjadi stagflasi, yakni kombinasi pertumbuhan ekonomi lemah dan inflasi tinggi. Namun optimisme terhadap perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan prospek keuntungan korporasi AS berhasil mengimbangi kekhawatiran tersebut.
Menurut Barnes, saham-saham teknologi dan perusahaan yang terkait langsung dengan belanja infrastruktur AI menjadi motor utama kenaikan pasar. Sementara itu, saham-saham Eropa bergerak lebih lambat karena kawasan tersebut lebih rentan terhadap kenaikan harga energi.
Pandangan serupa disampaikan Kepala Investasi BRI Wealth Management, Toni Meadows. Menurutnya, kebutuhan komputasi yang sangat besar untuk mendukung pengembangan AI telah menciptakan lonjakan permintaan terhadap semikonduktor dan pusat data. Fenomena ini mendorong pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara produsen chip seperti Korea Selatan dan Taiwan.
“Pasar percaya bahwa baik Presiden Donald Trump maupun Iran tidak memiliki kepentingan untuk memperpanjang konflik ini. Karena itu investor masih berani mengambil risiko,” ujarnya kepada CNBC.
Wall Street Melesat
Perang Iran yang telah berlangsung selama 100 hari ternyata tidak menggoyahkan pasar saham Amerika Serikat. Sebaliknya, indeks saham utama di Wall Street justru mencatat reli kuat di tengah ketidakpastian geopolitik, lonjakan harga energi, dan meningkatnya tekanan inflasi global.
Hingga penutupan perdagangan Jumat (05/06/2026), Dow Jones Industrial Average (DJIA) berada di level 50.866,78, hanya sedikit di bawah rekor tertinggi sepanjang masa yang sempat dicapai beberapa hari sebelumnya. Dibandingkan posisi saat perang pecah pada akhir Februari 2026, indeks saham unggulan AS itu telah menguat sekitar 13%-14%.
Baca Juga
100 Hari Perang Iran: Negosiasi Buntu, Trump Tak Mau Tarik Pasukan
Kinerja tersebut menjadi salah satu paradoks terbesar di pasar keuangan global tahun ini. Ketika konflik di Timur Tengah terus memicu gejolak harga minyak dan mengganggu jalur perdagangan energi melalui Selat Hormuz, investor Wall Street justru semakin agresif memburu saham-saham teknologi dan kecerdasan buatan (AI).
Laporan CNBC yang diterbitkan Minggu (07/06/2026) mencatat bahwa pasar saham AS berhasil menghapus seluruh koreksi yang terjadi pada awal perang. Bahkan indeks S&P 500 telah mencetak rekor tertinggi baru meskipun konflik Iran belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.
Chief Investment Officer Netwealth, Iain Barnes, mengatakan investor mulai memisahkan dampak perang terhadap ekonomi riil dengan prospek pertumbuhan laba perusahaan teknologi. “Pasar saham kini digerakkan oleh optimisme terhadap AI dan perusahaan-perusahaan yang menjadi penerima manfaat langsung dari belanja infrastruktur teknologi,” ujarnya kepada CNBC.
Fenomena tersebut terlihat jelas pada saham-saham semikonduktor, pusat data, komputasi awan, dan perusahaan AI yang menjadi motor utama penguatan indeks indeks saham AS sepanjang 2026.
Pasar Obligasi Cemas
Namun optimisme Wall Street tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi pasar keuangan secara keseluruhan. Di pasar obligasi, investor justru menunjukkan kekhawatiran yang lebih besar terhadap dampak perang. Yield obligasi pemerintah AS melonjak tajam sejak konflik dimulai, mencerminkan meningkatnya ekspektasi inflasi dan kemungkinan suku bunga tinggi bertahan lebih lama.
Yield Treasury AS tenor 30 tahun bahkan sempat mencapai level tertinggi sejak sebelum Krisis Keuangan Global 2008. Chief Investment Officer Premier Miton Investors, Neil Birrell, mengatakan pasar obligasi melihat ancaman nyata berupa kombinasi inflasi tinggi, perlambatan ekonomi, dan gangguan rantai pasok global. “Semakin lama konflik berlangsung, semakin besar risiko terhadap pertumbuhan ekonomi dunia,” katanya.
Kenaikan yield mencerminkan ekspektasi investor terhadap inflasi yang lebih tinggi dan kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat dalam jangka panjang. Chief Investment Officer Premier Miton Investors, Neil Birrell, mengatakan pasar obligasi melihat adanya ancaman nyata terhadap ekonomi global berupa inflasi tinggi, perlambatan pertumbuhan, dan gangguan rantai pasok.
“Yang lebih penting bukan seberapa tinggi inflasi mencapai puncaknya, tetapi berapa lama inflasi dan suku bunga tinggi itu bertahan. Jika kondisi sekarang berlangsung lama, pertumbuhan ekonomi akan tertekan dan yield obligasi akan tetap tinggi,” katanya. Kondisi ini sejalan dengan perkembangan di berbagai negara besar, termasuk Inggris yang mengalami tekanan lebih berat akibat ketidakstabilan politik domestik.
Harga Minyak Tetap Mahal
Salah satu dampak terbesar perang terlihat di pasar energi. Penutupan efektif Selat Hormuz selama konflik berlangsung menyebabkan gangguan besar terhadap pasokan minyak global. Jalur laut tersebut merupakan salah satu urat nadi perdagangan energi dunia yang mengalirkan sekitar 20% kebutuhan minyak global.
Meski harga minyak telah turun dari puncaknya pada awal perang, level harga saat ini masih jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik. Menurut CNBC, harga minyak Brent masih sekitar 36% lebih tinggi dibandingkan sebelum perang, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) masih melonjak hampir 50%. Gangguan pasokan terjadi akibat penutupan fasilitas produksi energi, kerusakan infrastruktur migas, serta terhambatnya pengiriman dari kawasan Teluk.
Analis PVM Oil Associates, Tamas Varga, menilai lonjakan harga minyak sebenarnya berhasil diredam oleh sejumlah faktor, antara lain pelepasan cadangan minyak strategis, meningkatnya ekspor minyak AS, pelonggaran sanksi terhadap minyak Iran dan Rusia, serta menurunnya permintaan dari China.
Namun Varga mengingatkan bahwa apabila cadangan minyak global terus menyusut sepanjang Juni, harga minyak berpotensi kembali menembus US$100 per barel “Pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi sangat penting untuk meredakan tekanan pasokan dan inflasi global,” ujarnya.
Inflasi Mulai Menyebar
Dampak perang kini mulai terlihat jelas pada data ekonomi riil. Kenaikan harga minyak, gas, bahan bakar pesawat, dan bensin mulai mendorong inflasi di sejumlah negara besar. Di Amerika Serikat, inflasi berdasarkan Consumer Price Index (CPI) mencapai 3,8% pada April 2026, level tertinggi dalam hampir tiga tahun terakhir.
Tekanan serupa juga terlihat di Eropa dan Asia. Jerman dan India bahkan telah melakukan berbagai intervensi pemerintah guna menahan dampak kenaikan biaya energi terhadap masyarakat. Fenomena ini memperkuat kekhawatiran bahwa perang Timur Tengah dapat memicu gelombang inflasi kedua setelah dunia mulai berhasil menurunkan tekanan harga pascapandemi Covid-19.
Managing Director Kingswood Group, Paul Surguy, mengajukan pertanyaan menarik: apakah pasar keuangan telah menjadi kebal terhadap perang? Menurutnya, reaksi investor saat ini mengingatkan pada fenomena ketika pasar mulai mengabaikan perubahan kebijakan tarif perdagangan yang sebelumnya sempat memicu kepanikan besar.
Namun Surguy mengingatkan bahwa dukungan publik AS terhadap perang kini berada pada titik terendah, sementara anggaran militer justru berada pada level tertinggi. “Kedua pihak tampaknya sedang mencari jalan keluar yang tidak mempermalukan masing-masing. Faktor inilah yang kemungkinan lebih banyak memengaruhi harga minyak jangka panjang dibandingkan situasi perang saat ini,” katanya.
Risiko Belum Berakhir
Laporan CNBC menunjukkan bahwa setelah 100 hari perang, pasar global masih belum melihat akhir yang jelas dari konflik Iran. Wall Street memang mampu bertahan berkat euforia AI, tetapi pasar obligasi, energi, dan data inflasi memberikan pesan yang berbeda.
Selama Selat Hormuz belum sepenuhnya dibuka, pasokan energi global tetap terancam. Jika konflik berkepanjangan, tekanan inflasi dapat memaksa bank-bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, yang pada akhirnya berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi dunia.
Bagi investor global, 100 hari perang Iran telah menjadi pengingat bahwa geopolitik kembali menjadi faktor utama yang menentukan arah pasar, bersanding dengan revolusi AI yang kini mendominasi sentimen investasi. Sementara perdamaian masih jauh dari pasti, dunia keuangan tampaknya terus berjalan di antara dua kekuatan besar: harapan terhadap teknologi dan ancaman perang yang belum selesai.

