Harga Minyak Turun Tajam, Pasar Berspekulasi Diplomasi AS-Iran Kembali Terbuka
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Harga minyak dunia turun tajam pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Ada laporan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump belum ingin kembali melancarkan perang skala penuh terhadap Iran meskipun bentrokan militer sporadis masih terjadi.
Baca Juga
Ancaman Serangan Baru ke Iran Dongkrak Harga Minyak, Brent Kembali Dekati US$ 100
Dikutip dari CNBC, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup turun 3,1% menjadi US$93,04 per barel. Sementara minyak Brent yang menjadi acuan internasional melemah 2,8% ke level US$95,03 per barel.
Penurunan tersebut terjadi setelah Wall Street Journal melaporkan bahwa Trump mengatakan kepada para penasihatnya bahwa gencatan senjata yang telah berlangsung selama beberapa pekan dengan Iran pada dasarnya masih bertahan.
Menurut sejumlah pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, Trump hanya akan mempertimbangkan mengakhiri gencatan senjata apabila Iran menyebabkan korban di pihak militer Amerika Serikat.
Gedung Putih menolak memberikan komentar langsung terkait laporan tersebut. Namun seorang pejabat pemerintahan mengatakan Trump tetap mengutamakan solusi diplomatik, meskipun telah memperingatkan konsekuensi serius jika Iran menolak mencapai kesepakatan.
Jalan Diplomasi Masih Terbuka
Sebelumnya, situasi sempat memanas setelah media pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran menghentikan komunikasi dengan Washington sebagai respons atas operasi militer Israel di Lebanon.
Baca Juga
Iran merupakan pendukung utama Hizbullah, kelompok bersenjata Lebanon yang selama ini terlibat konflik dengan Israel.
Namun pasar mulai melihat peluang baru setelah Israel dan Lebanon menyepakati implementasi gencatan senjata pada Rabu malam.
Kesepakatan tersebut dinilai dapat membuka ruang bagi dimulainya kembali negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang sebelumnya mengalami kebuntuan.
Meski demikian, sejumlah analis memperingatkan bahwa keberhasilan gencatan senjata masih jauh dari pasti karena Hizbullah beroperasi secara independen dari pemerintah Lebanon.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga menegaskan bahwa tujuan Israel tetap sama. "Kami harus melucuti Hizbullah dan mendemiliterisasi Lebanon," ujarnya kepada CNBC.
Tekanan Politik terhadap Trump
Selain faktor diplomasi, pasar juga memperhatikan dinamika politik domestik Amerika Serikat.
Penolakan terhadap keterlibatan militer yang lebih dalam di Timur Tengah mulai muncul bahkan di kalangan Partai Republik.
Dewan Perwakilan Rakyat AS pada Rabu meloloskan resolusi yang mendesak Trump menarik pasukan Amerika atau meminta persetujuan Kongres untuk melanjutkan konflik.
Meski resolusi tersebut masih harus disetujui Senat dan hampir pasti akan diveto Trump, langkah itu menunjukkan meningkatnya resistensi politik terhadap perang yang berpotensi berkepanjangan.
Risiko Volatilitas
Meski harga minyak turun dari level tertinggi pekan ini, banyak analis menilai koreksi tersebut lebih mencerminkan berkurangnya premi risiko jangka pendek daripada perubahan fundamental pasar energi.
Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20% perdagangan minyak dunia masih beroperasi di bawah kapasitas normal, sementara negosiasi AS-Iran belum menghasilkan kesepakatan konkret.
Akibatnya, pasar energi global tetap menghadapi risiko volatilitas tinggi dalam beberapa bulan mendatang. Setiap perkembangan baru di Timur Tengah berpotensi kembali mendorong harga minyak mendekati atau bahkan menembus level psikologis US$100 per barel.

