AS Klaim Gencatan Senjata dengan Iran Masih Berlaku, Harga Minyak Turun Tajam
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id — Harga minyak dunia turun setelah pemerintah Amerika Serikat memastikan gencatan senjata dengan Iran masih tetap berlaku, meredakan kekhawatiran pasar akan kembalinya perang skala penuh di Timur Tengah.
Baca Juga
Harga Minyak Melonjak Usai Serangan Iran ke UEA, Kelangkaan Bayangi Pasar Energi Global
Dikutip dari CNBC, minyak mentah Brent sebagai acuan global Selasa (5/5/2026) turun sekitar 4% ke level US$109,87 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah hampir 4% menjadi US$102,27 per barel.
Penurunan ini terjadi setelah sehari sebelumnya harga minyak melonjak lebih dari 4%, menyusul meningkatnya ketegangan akibat serangan drone dan rudal Iran ke Uni Emirat Arab serta aksi militer AS di Selat Hormuz.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan bahwa gencatan senjata “belum berakhir” dan masih bertahan meski situasi tetap dipantau ketat. Pernyataan ini diperkuat oleh Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine yang menyebut serangan Iran masih berada di bawah ambang eskalasi perang besar.
"Pada akhirnya Presiden akan membuat keputusan apakah sesuatu akan meningkat menjadi pelanggaran gencatan senjata. "Saat ini, gencatan senjata tentu saja berlaku tetapi kami akan mengawasi dengan sangat, sangat cermat," kata Hegseth.
Operasi Hormuz
AS pada hari Senin meluncurkan operasi untuk membuka kembali Selat Hormuz untuk lalu lintas komersial. Hegseth mengatakan dua kapal komersial AS bersama dengan kapal perusak AS melintasi selat tersebut "menunjukkan jalur tersebut bersih."
"Kami tahu Iran malu dengan fakta ini. Mereka mengatakan mereka mengendalikan selat tersebut. Mereka tidak," ujar Hegseth.
Baca Juga
Iran Serang Kapal dan Fasilitas UEA, AS Mulai Jalankan “Project Freedom”
Perusahaan pelayaran Denmark Maersk mengatakan salah satu kapalnya, Alliance Fairfax yang berbendera AS, melintasi selat tersebut pada hari Senin di bawah perlindungan militer AS. Namun, ketegangan tetap tinggi. Berbicara kepada Fox News pada hari Senin, Trump memperingatkan bahwa Iran akan "dihancurkan dari muka bumi" jika menargetkan kapal-kapal AS yang melindungi lalu lintas komersial melalui selat tersebut.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan dalam sebuah unggahan di media sosial bahwa peristiwa baru-baru ini di selat tersebut "menjelaskan bahwa tidak ada solusi militer untuk krisis politik." Ia menambahkan: "Karena pembicaraan mengalami kemajuan dengan upaya baik Pakistan, AS harus waspada agar tidak terseret kembali ke dalam rawa oleh pihak-pihak yang berniat jahat. Begitu pula UEA."
Irak, produsen OPEC, dilaporkan menawarkan diskon besar kepada pembeli jangka panjangnya untuk minyak mentah yang dimuat bulan ini, menurut Bloomberg. Kapal tanker harus bersedia melintasi Selat Hormuz untuk mengambil barel tersebut.
Bank investasi Goldman Sachs memperingatkan bahwa meski stok minyak global belum kritis, distribusi yang tidak merata dan penurunan cadangan produk olahan dapat memicu kelangkaan di beberapa wilayah.
CEO Mike Wirth juga mengingatkan bahwa dunia berpotensi menghadapi kekurangan bahan bakar dalam beberapa pekan ke depan, terutama jika gangguan pasokan berlanjut.

