Trump Tak Peduli Sikap Iran
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menunjukkan sikap tak peduli terhadap ancaman runtuhnya perundingan damai dengan Iran. Di tengah meningkatnya ketegangan Timur Tengah dan lonjakan harga minyak dunia, Trump bahkan menyatakan dirinya “tidak peduli” jika negosiasi dengan Teheran benar-benar berakhir.
Pernyataan itu disampaikan Trump dalam wawancara telepon dengan CNBC pada Senin (1/6/2026) siang waktu AS. Wawancara tersebut ditayangkan CNBC pada hari yang sama pukul 13.01 EDT atau sekitar Selasa (02/06/2026) pukul 00.01 WIB dan diperbarui pada pukul 16.12 EDT.
“Saya tidak peduli jika perundingan itu berakhir, sejujurnya. Saya benar-benar tidak peduli. Saya tidak peduli sama sekali,” kata Trump kepada jurnalis CNBC Eamon Javers.
Baca Juga
Komentar itu muncul hanya beberapa jam setelah media pemerintah Iran, Tasnim News Agency, melaporkan bahwa Teheran menghentikan komunikasi tidak langsung dengan Washington melalui mediator serta bertekad memblokir sepenuhnya Selat Hormuz sebagai respons atas operasi militer Israel di Lebanon terhadap Hezbollah yang didukung Iran.
Ketika ditanya apakah Iran telah memberi tahu dirinya bahwa negosiasi dihentikan, Trump menjawab singkat, “Tidak, mereka tidak mengatakan itu kepada saya.” Trump justru menilai proses diplomasi yang berlangsung selama ini terlalu lambat dan membosankan. “Jika selesai, ya selesai. Kalau belum, menurut saya mereka terlalu lama. Terus terang, saya pikir negosiasi itu mulai sangat membosankan,” ujar Trump.
Pernyataan tersebut memperlihatkan perubahan nada Gedung Putih dibanding beberapa hari sebelumnya ketika Trump masih membuka ruang bagi kemungkinan kesepakatan dengan Iran untuk menghentikan konflik yang telah berlangsung sejak Februari 2026.
Meski Iran mengancam menutup Selat Hormuz, jalur yang sebelumnya dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia, Trump mengaku tidak khawatir terhadap dampaknya terhadap pasar energi. “Saya pikir harga minyak akan jatuh seperti batu dalam waktu sangat dekat,” katanya.
Menurut Trump, saat ini terdapat sekitar 1.700 kapal tanker yang telah penuh mengangkut minyak dan siap memasok pasar global, sehingga ia tidak melihat ancaman jangka panjang terhadap pasokan energi dunia.
Harga minyak sebelumnya melonjak lebih dari 7–8% setelah laporan Tasnim mengenai penghentian negosiasi dan ancaman blokade Hormuz. Brent dan WTI sempat mencatat kenaikan tajam karena investor khawatir jalur diplomasi AS-Iran runtuh dan perang memasuki fase eskalasi baru.
Namun Trump menegaskan bahwa isu utama bukan harga energi, melainkan program nuklir Iran. “Hal yang paling saya pedulikan sekarang adalah Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir,” tegas Trump.
Dalam pernyataan yang bernada keras, Trump bahkan mengancam akan menghancurkan Iran bila negara itu mencoba memperoleh senjata nuklir. “Jika mereka mencoba memiliki senjata nuklir, saya akan menghancurkan mereka sampai ke kingdom come,” ujarnya.
Trump juga menilai masyarakat AS akan menerima harga bensin yang lebih tinggi apabila memahami bahwa konflik ini berkaitan dengan pencegahan proliferasi nuklir. “Begitu dijelaskan bahwa ini semua soal Iran memiliki senjata nuklir, orang-orang bersedia membayar sedikit lebih mahal,” katanya.
Pada saat yang sama, Trump mengisyaratkan bahwa dirinya belum tergesa-gesa menghidupkan kembali diplomasi dengan Teheran. Ketika ditanya apakah gencatan senjata nominal antara AS dan Iran perlu diakhiri secara resmi, Trump menolak memberikan jawaban jelas. “Andaikan saya tahu persis langkah berikutnya—dan saya kira saya tahu—mengapa saya harus memberi tahu Anda?” katanya.
Di luar isu Iran, Trump juga menyinggung meningkatnya ketegangan Israel-Hezbollah di Lebanon. Ia mengaku akan meminta penjelasan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengenai situasi di Lebanon. “Saya akan bertanya kepadanya apa yang sebenarnya terjadi di Lebanon,” ujar Trump.
Beberapa jam setelah wawancara dengan CNBC, Trump melalui Truth Social mengatakan telah melakukan “pembicaraan yang sangat produktif” dengan Netanyahu. Ia mengklaim tidak akan ada pengerahan pasukan ke Beirut dan bahwa pihak Hezbollah melalui “perwakilan tingkat tinggi” telah sepakat menghentikan seluruh penembakan.
Namun pernyataan tersebut segera mendapat respons berbeda dari Netanyahu. Dalam unggahan di platform X pada Senin malam, Netanyahu menegaskan Israel tetap akan menyerang sasaran Hezbollah di Beirut apabila kelompok itu terus melancarkan serangan ke wilayah Israel.
“Sikap kami tidak berubah,” tulis Netanyahu, seraya menegaskan militer Israel tetap menjalankan operasi di Lebanon selatan. Perbedaan pesan antara Washington dan Tel Aviv memperlihatkan betapa rapuhnya situasi keamanan regional saat ini.
Trump juga melontarkan kritik terhadap NATO dan negara-negara Eropa. Menurutnya, sekutu AS seharusnya ikut membantu menjaga keamanan jalur pelayaran karena Eropa jauh lebih bergantung pada minyak Timur Tengah dibanding AS. “Kami tidak membutuhkan minyak itu. Kami punya banyak minyak,” kata Trump.
Baca Juga
Trump Tahan Deal Iran, Hormuz dan Nuklir Jadi Batu Sandungan
Meski demikian, ia mengaku belum tentu menginginkan keterlibatan NATO untuk membuka kembali Hormuz. “Mereka akan membantu kalau saya menginginkannya, tetapi saya belum yakin saya menginginkannya,” ujar Trump, sambil menilai NATO dan Eropa telah “kehilangan arah” akibat persoalan energi dan imigrasi.
Sikap Trump yang cenderung santai di tengah meningkatnya ancaman blokade Hormuz kontras dengan kekhawatiran pasar global. Reuters dan sejumlah analis energi mencatat bahwa lalu lintas kapal di Hormuz masih jauh di bawah kondisi normal sejak perang meletus pada 28 Februari 2026, sementara ancaman Iran terhadap Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global.
Analis energi dari Rystad Energy bahkan sebelumnya memperingatkan bahwa eskalasi baru AS-Iran dapat mendorong harga minyak melonjak hingga US$180 per barel dalam beberapa bulan ke depan. Dengan diplomasi yang kian rapuh dan perbedaan sikap di antara para aktor utama kawasan, pernyataan “I don’t care” dari Trump justru mempertegas bahwa jalan menuju perdamaian Timur Tengah masih panjang dan penuh ketidakpastian.
