Trump Tahan Deal Iran, Hormuz dan Nuklir Jadi Batu Sandungan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id— Presiden Amerika Serikat Donald Trump belum mengambil keputusan final terkait proposal perdamaian dan penghentian sementara perang Iran yang telah berlangsung selama tiga bulan. Pertemuan penting di Situation Room Gedung Putih pada Jumat (29/05/2026) berakhir tanpa pengumuman resmi mengenai nasib kesepakatan yang sedang dinegosiasikan Washington dan Teheran.
Laporan CNBC yang terbit Jumat, 29 Mei 2026 pukul 10.54 EDT menyebut Trump mengakhiri rapat keamanan tingkat tinggi tanpa memberikan “final determination” atau keputusan akhir, meski sebelumnya ia menyatakan akan menetapkan sikap resmi dalam pertemuan tersebut. Sumber: CNBC, 29 Mei 2026.
Sebelum rapat berlangsung, Trump melalui Truth Social mempublikasikan daftar syarat yang menurutnya harus dipenuhi Iran agar kesepakatan dapat disetujui. “Iran harus setuju bahwa mereka tidak akan pernah memiliki senjata nuklir atau bom,” tulis Trump.
Ia juga menuntut agar Selat Hormuz segera dibuka sepenuhnya untuk pelayaran internasional tanpa pungutan atau pembatasan, serta meminta seluruh ranjau laut yang dipasang Iran di kawasan itu dibersihkan.
Trump bahkan menyatakan material uranium yang diperkaya dan terkubur di fasilitas nuklir Iran —yang rusak akibat serangan pembom B-2 AS tahun lalu— harus digali bersama Iran dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) untuk kemudian dimusnahkan.
Namun beberapa jam setelah unggahan Trump, media pemerintah Iran, Fars News Agency, langsung membantah sebagian besar klaim tersebut. Menurut Fars, sejumlah tuntutan Trump justru tidak terdapat dalam teks rancangan kesepakatan yang sedang dinegosiasikan.
Sumber Iran menyebut tidak ada klausul mengenai pembukaan Selat Hormuz tanpa pungutan maupun penghancuran material nuklir Iran seperti diklaim Trump. Fars bahkan menyebut poin terpenting dari rancangan kesepakatan adalah pencairan segera US$12 miliar aset Iran yang selama ini dibekukan.
Iran, menurut laporan tersebut, menolak melanjutkan negosiasi bila pencairan dana itu tidak dilakukan. Kontradiksi tersebut memperlihatkan bahwa meski diplomasi terus berjalan, kedua pihak masih memiliki tafsir yang sangat berbeda mengenai isi proposal damai.
Menurut laporan Axios yang dikonfirmasi pejabat Gedung Putih pada Kamis (28/5/2026), tim negosiator AS dan Iran sebenarnya telah mencapai memorandum of understanding (MoU) berdurasi 60 hari.
Baca Juga
Dokumen itu dimaksudkan untuk memperpanjang gencatan senjata yang telah berlangsung dan membuka ruang perundingan lebih lanjut mengenai isu nuklir dan keamanan kawasan.
Dalam proposal sementara itu, Iran disebut akan:
* Membersihkan seluruh ranjau di Selat Hormuz dalam 30 hari.
* Menjaga jalur pelayaran internasional tetap terbuka.
* Membuka negosiasi mengenai uranium pengayaan tinggi dan program nuklirnya.
Sebagai imbalannya, AS akan:
* Mencabut blokade laut di Teluk Oman.
* Membahas pelonggaran sanksi.
* Membuka jalan pencairan sebagian aset Iran yang dibekukan.
Dengan kata lain, terdapat beberapa titik temu yang mulai terbentuk.
Yang mulai dapat disepakati kedua pihak antara lain:
1. Perpanjangan gencatan senjata 60 hari.
2. Pembukaan kembali jalur pelayaran Hormuz.
3. Pembersihan ranjau laut.
4. Dimulainya negosiasi nuklir lanjutan.
5. Pembahasan pencairan dana Iran dan pelonggaran sanksi.
Namun persoalan utama masih jauh dari selesai.
Poin yang belum disepakati mencakup:
1. Tuntutan AS agar Iran sepenuhnya meninggalkan kemampuan senjata nuklir.
2. Nasib uranium yang telah diperkaya Iran.
3. Mekanisme dan besaran pencairan aset Iran.
4. Tuntutan Trump agar tidak ada pungutan pelayaran di Hormuz.
5. Urutan pelaksanaan kewajiban kedua pihak:siapa bergerak lebih dahulu.
Perbedaan itu menjelaskan mengapa Trump memilih menunda keputusan final.
Situasi di lapangan juga tetap panas. Pentagon pada Kamis (28/05/2026) menyatakan Iran meluncurkan rudal balistik ke arah Kuwait dan mengoperasikan drone tempur di sekitar Selat Hormuz. Media Iran pada malam harinya melaporkan angkatan bersenjata negara itu menembakkan rudal ke sasaran yang tidak disebutkan.
Pada saat bersamaan, Departemen Keuangan AS mengumumkan sanksi baru terhadap Iran, termasuk terhadap pihak-pihak yang dianggap membantu Teheran mengontrol lalu lintas Hormuz.
Berita senada juga dilaporkan Reuters dan Associated Press yang menyebut proposal damai AS-Iran masih berada pada tahap sangat rapuh. Reuters menyoroti peran Oman sebagai mediator utama, terutama terkait usulan pengaturan lalu lintas dan kemungkinan pungutan kapal di Selat Hormuz.
Isu Oman sendiri menjadi sensitif setelah Trump dalam rapat kabinet Rabu (27/5/2026) melontarkan ancaman keras. “Oman akan bersikap seperti semua pihak lain, atau kami harus menghancurkan mereka,” kata Trump.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent sehari kemudian memperingatkan Washington akan “secara agresif” menindak pihak mana pun yang memfasilitasi pungutan pelayaran di Hormuz.
Sementara itu, pejabat Iran tetap menunjukkan sikap keras. Akun yang dikaitkan dengan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menulis di X bahwa Iran memperoleh konsesi “bukan melalui dialog, melainkan melalui rudal.” Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menyatakan solidaritas Teheran terhadap Oman di tengah ancaman AS.
Pasar global merespons hati-hati perkembangan ini. Harga minyak sempat turun setelah unggahan Trump memberi sinyal adanya peluang kemajuan diplomatik. Namun hingga Jumat malam waktu Washington, arah akhir perundingan masih belum jelas.
Dengan kata lain, diplomasi belum gagal, tetapi perdamaian pun belum lahir. Selat Hormuz, uranium Iran, dan pencairan aset masih menjadi tiga simpul yang menentukan apakah kesepakatan ini akan menjadi jalan damai atau justru jeda sebelum konflik berikutnya.

