Iran Kirim Sinyal Ganda: Siap Damai, Siap Perang
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Upaya diplomatik untuk mengakhiri perang antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki fase krusial. Namun, di tengah intensifnya mediasi internasional, Teheran justru mengirimkan sinyal yang dinilai campuran, yakni membuka ruang negosiasi dengan Washington, tetapi pada saat bersamaan menegaskan kesiapan untuk berperang, menghadapi konfrontasi militer baru jika AS menghendaki.
Laporan live yang dipublikasikan Al Jazeera pada hari Sabtu (23/05/2026) menyebutkan, Kepala Angkatan Darat Pakistan Field Marshal Asim Munir telah meninggalkan Teheran setelah serangkaian pertemuan tingkat tinggi dengan para pemimpin Iran dalam waktu kurang dari 24 jam. Kunjungan itu menjadi bagian dari misi mediasi Pakistan untuk menjembatani kebuntuan pembicaraan damai antara AS dan Iran.
Munir disambut Menteri Dalam Negeri Iran Eskandar Momeni dan bertemu sejumlah pejabat penting, termasuk Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Parlemen sekaligus negosiator utama Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, serta Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Menurut laporan dari Teheran, para pemimpin Iran menyampaikan pesan yang tidak sepenuhnya seragam. Di satu sisi, Iran menyatakan tetap terbuka terhadap jalur diplomasi dengan Amerika Serikat. Namun di sisi lain, Teheran menegaskan siap merespons keras jika tekanan militer kembali muncul.
Baca Juga
Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa Iran tidak akan berkompromi terhadap “hak-hak nasionalnya” dalam perundingan dengan AS. Dalam pertemuan dengan Munir, ia bahkan memperingatkan bahwa serangan baru terhadap Iran akan menghadirkan konsekuensi yang lebih berat bagi Washington dibanding fase awal perang.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menegaskan bahwa fokus Iran saat ini adalah mengakhiri perang “di semua front”, termasuk konflik di Lebanon, dan bukan membahas program nuklir. Pernyataan itu menegaskan masih lebarnya jurang perbedaan antara Washington dan Teheran, terutama terkait stok uranium yang diperkaya serta pengaturan Selat Hormuz.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam komunikasi dengan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menuding “tuntutan berlebihan” Washington sebagai hambatan utama tercapainya kesepakatan. Meski demikian, Teheran mengklaim tetap serius mengikuti pembicaraan yang dimediasi Pakistan.
Di pihak Amerika Serikat, Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengakui terdapat “sedikit kemajuan” dalam negosiasi, tetapi menegaskan masih banyak persoalan yang belum terselesaikan. Rubio secara khusus menolak gagasan Iran mengenai sistem pungutan (tolling system) di Selat Hormuz dan menyatakan tidak ada negara yang seharusnya menerima pengenaan biaya pelayaran di jalur energi strategis tersebut.
Informasi senada datang dari Reuters dan Axios yang melaporkan bahwa Pakistan tetap menjadi mediator utama, sementara Qatar mulai kembali mengambil peran diplomatik guna membantu menyusun kerangka kesepakatan damai. Tim negosiasi Qatar bahkan telah tiba di Teheran pada 22 Mei 2026 untuk membantu merumuskan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) yang diharapkan dapat membuka 30 hari pembicaraan lanjutan dan memperpanjang gencatan senjata yang masih rapuh.
Baca Juga
Harga Minyak Bergejolak, Pasar Ragu Terobosan Negosiasi Damai Iran-AS
Di Washington, Presiden Donald Trump disebut menggelar rapat keamanan tingkat tinggi pada 22 Mei 2026 guna membahas opsi diplomasi maupun kemungkinan kembalinya operasi militer jika perundingan gagal menghasilkan terobosan. Perubahan agenda Trump yang memilih kembali ke Gedung Putih memperkuat indikasi bahwa proses negosiasi memasuki titik penentuan.
Di lapangan, ketegangan regional belum mereda. Israel terus melancarkan serangan udara ke Lebanon selatan. Menurut Kementerian Kesehatan Lebanon yang dikutip Al Jazeera, serangan sejak 2 Maret 2026 telah menewaskan sedikitnya 3.123 orang dan melukai ribuan lainnya. Di Gaza, situasi kemanusiaan juga memburuk akibat pembatasan bantuan medis dan membludaknya pasien di rumah sakit.
Perkembangan ini menunjukkan diplomasi masih hidup, tetapi belum cukup kuat untuk menghapus ancaman eskalasi baru. Teheran membuka pintu negosiasi, namun tetap menggenggam opsi perlawanan—membuat Timur Tengah kembali berdiri di antara dua jalan: damai yang rapuh atau perang yang lebih luas.

