Bursa Asia Melemah Dibayangi Ketegangan Geopolitik dan Lonjakan Yield Obligasi AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pasar keuangan Asia dibuka melemah pada Rabu (20/5/2026). Lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi global, sementara ketegangan antara AS dan Iran kembali meningkat tanpa tanda-tanda perdamaian.
Investor global kini menghadapi kombinasi tekanan yang semakin kompleks: inflasi energi yang belum mereda, ancaman perang terbuka di Timur Tengah, dan terguncangnya pasar obligasi global.
Baca Juga
Pasar Obligasi Global Bergejolak Dipicu Inflasi dan Konflik Timur Tengah
Yield obligasi Treasury AS tenor 30 tahun sempat menyentuh 5,197% - level tertinggi sejak Juli 2007 - sebelum sedikit turun ke 5,174%. Kenaikan tajam itu mencerminkan aksi jual besar-besaran di pasar obligasi karena investor mulai khawatir inflasi kembali tidak terkendali.
Di Asia, sentimen negatif langsung menekan bursa saham regional. Dikutip dari CNBC, indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,88%, sedangkan Topix melemah 0,75%.
Di Korea Selatan, Kospi turun 0,52% dan indeks saham kecil Kosdaq anjlok 2,15%. Bursa Australia juga ikut melemah dengan indeks S&P/ASX 200 turun 0,5%.
Kontrak berjangka Hang Seng Index Hong Kong juga bergerak di zona merah.
Tekanan pasar muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa dirinya “tinggal satu jam lagi” untuk memutuskan serangan terhadap Iran sebelum akhirnya menunda operasi militer selama beberapa hari.
Pernyataan itu kembali mengguncang pasar energi global yang selama berbulan-bulan dibayangi konflik Iran dan ancaman terhadap jalur minyak strategis dunia di Selat Hormuz.
Hingga kini, misi diplomatik untuk mengakhiri konflik belum membuahkan hasil. Iran dan AS tetap saling mengancam, sementara aktivitas pelayaran di Selat Hormuz masih terganggu.
Baca Juga
Menurut laporan Reuters, Iran masih mempertahankan kontrol ketat terhadap kawasan tersebut dan NATO bahkan belum mencapai kesepakatan untuk membentuk misi pengamanan internasional di jalur energi vital itu.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur transit sekitar 20% perdagangan minyak dan gas dunia. Gangguan berkepanjangan di kawasan itu telah mendorong harga energi global melonjak tajam dalam beberapa bulan terakhir.
Reuters juga melaporkan bahwa Trump masih membuka kemungkinan serangan militer baru terhadap Iran jika kesepakatan damai tidak tercapai dalam waktu dekat. Iran di sisi lain memperingatkan akan memberikan respons besar jika kembali diserang. (Reuters)
Analis Commerzbank, seperti dikutip The Star, menyebut nada komunikasi Washington dan Teheran kini kembali “sangat konfrontatif,” sehingga harapan pembukaan penuh Selat Hormuz mulai memudar.
Krisis tersebut membuat pasar obligasi global ikut terguncang. Investor khawatir lonjakan harga minyak akan memicu gelombang inflasi baru, memaksa bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Reuters melaporkan dolar AS juga menguat ke level tertinggi enam minggu terhadap euro karena pasar mulai memperkirakan kebijakan moneter AS akan tetap agresif di bawah Ketua baru Kevin Warsh.
Chief Investment Officer Prime Capital Financial, Will McGough, sebelumnya mengatakan pasar obligasi saat ini sedang “mengirim sinyal keras” kepada Federal Reserve bahwa inflasi energi belum sepenuhnya terkendali.
Kondisi itu mulai menekan Wall Street. Pada perdagangan sebelumnya, S&P 500 turun 0,67% dan mencatat penurunan tiga hari berturut-turut. Indeks teknologi Nasdaq Composite melemah 0,84%, sementara Dow Jones Industrial Average turun lebih dari 322 poin.
Manajer portofolio Argent Capital Management, Jed Ellerbroek, mengatakan pasar kini memasuki fase koreksi setelah reli panjang saham teknologi dan kecerdasan buatan.
Namun ia mengingatkan bahwa tekanan terbesar saat ini bukan hanya valuasi saham, melainkan ketidakpastian geopolitik dan risiko inflasi energi yang terus membesar.
Di pasar minyak, harga Brent masih bertahan di atas US$110 per barel, mencerminkan tingginya premi risiko geopolitik akibat konflik Iran.
Sejumlah analis energi internasional memperingatkan bahwa jika Selat Hormuz tetap terganggu dalam waktu lama, dunia dapat menghadapi krisis pasokan energi yang lebih serius dibanding awal perang Rusia-Ukraina.

