Pasar Obligasi Global Bergejolak Dipicu Inflasi dan Konflik Timur Tengah
Poin Penting
|
PARIS, investortrust.id – Presiden European Central Bank, Christine Lagarde, mengakui volatilitas pasar obligasi menjadi perhatian serius. “Saya selalu khawatir, memang itu pekerjaan saya,” ujar Lagarde, pada pertemuan menteri keuangan dan gubernur bank sentral negara-negara G7.
Menteri keuangan dan gubernur bank sentral negara-negara G7 mengadakan pertemuan darurat selama dua hari, 18-19 Mei 2026, di Paris, Perancis. Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga menghadiri pertemuan itu.
Baca Juga
Inflasi AS Memanas, Pasar Mulai Prediksi Kenaikan Bunga The Fed
Saat ini, pasar global menghadapi tekanan besar akibat inflasi dan tingginya utang publik.
Yield obligasi pemerintah Amerika Serikat mengalami lonjakan tajam pekan lalu akibat aksi jual besar-besaran di pasar obligasi global.
Pada Senin (18/5/2026), yield obligasi masih bergerak naik meski tidak setajam pekan lalu. Yield obligasi Treasury AS tenor 10 tahun, yang menjadi acuan utama biaya pinjaman pemerintah AS, naik tipis kurang dari 1 basis poin ke level 4,601% setelah sebelumnya sempat menyentuh posisi tertinggi dalam 15 bulan.
Yield Treasury tenor 30 tahun - yang lebih sensitif terhadap risiko politik dan fiskal - juga naik tipis menjadi 5,133%, mendekati level tertinggi dalam hampir satu tahun terakhir.
Sebaliknya, yield obligasi tenor dua tahun turun lebih dari 1 basis poin menjadi 4,065%, mencerminkan perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga jangka pendek Federal Reserve.
Lonjakan yield terjadi setelah prospek negosiasi antara AS dan Iran memburuk, memicu kekhawatiran bahwa harga minyak yang tinggi akan memperparah tekanan inflasi global.
Selain faktor geopolitik, data terbaru AS menunjukkan tekanan harga mulai merembet ke tingkat konsumen, meningkatkan kecemasan investor terhadap arah inflasi dalam beberapa bulan ke depan.
Kekhawatiran Pasar
Kenaikan yield tidak hanya terjadi di AS. Yield obligasi pemerintah Jerman tenor 10 tahun mencapai level tertinggi sejak Mei 2011. Di Jepang, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun melonjak ke posisi tertinggi sejak 1997, sementara yield tenor 30 tahun mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah sejak data dimulai pada 1999.
Di Inggris, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun menyentuh level tertinggi sejak 2008, sementara tenor 30 tahun mencapai posisi tertinggi sejak 1998. Ketidakpastian politik terkait masa depan Perdana Menteri Keir Starmer turut memperburuk tekanan pasar.
Chief Investment Officer Brooks Macdonald, Will Hobbs, mengatakan bank sentral kini menghadapi situasi yang sangat sulit dalam menentukan arah kebijakan moneter.
Baca Juga
“Inflasi akan menjadi masalah yang rumit dan menjengkelkan bagi bank sentral dan investor obligasi,” katanya kepada CNBC.
Di pasar energi, harga minyak Brent ditutup naik 2,6% ke US$112,10 per barel, sedangkan WTI AS melonjak 3,07% menjadi US$108,66 per barel, memperkuat kekhawatiran bahwa tekanan inflasi global masih jauh dari selesai.

