Konflik Timur Tengah Masih Bergejolak, Harga Minyak Masih Bertahan Menguat
Harga minyak Selasa (23/4) pagi ini terpantau bergerak bullish didukung oleh potensi eskalasi konflik di Timur Tengah. Potensi ini dipicu oleh meningkatnya kembali serangan Israel ke Gaza, serta serangan yang menargetkan lokasi militer AS di Irak dan Suriah.
Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 84 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif, maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 80 per barel.
“Meski demikian meredanya tensi antara Iran dengan Israel, dan potensi Venezuela untuk menghindari sanksi AS membatasi kenaikan harga lebih lanjut,” tulis riset ICDX, Selasa (23/4/2023).
Pasukan Israel dilaporkan kembali melakukan serangan mendadak ke bagian timur Khan Younis, kata penduduk sipil Palestina pada hari Senin, yang melarikan diri sekali lagi setelah sebelumnya sempat kembali ke rumah-rumah yang ditinggalkan di reruntuhan kota utama Jalur Gaza selatan.
Baca Juga
Di tempat lain di Khan Younis, pihak berwenang Palestina melaporkan penemuan yang disebut kuburan massal di lokasi rumah sakit utama kota tersebut.
Lebih jauh ke selatan terjadi serangan udara baru di Rafah, tempat pengungsian di mana lebih dari separuh dari 2,3 juta penduduk sipil wilayah tersebut mencari perlindungan.
Masih dari Timur Tengah, pasukan AS melaporkan dua serangan roket dan drone yang bersifat eksplosif secara terpisah dalam waktu kurang dari 24 jam di dekat pangkalan udara Ain al-Asad, provinsi Anbar, Irak barat, dan pangkalan militer AS di Rumalyn, timur laut Suriah. Hal itu diungkap sumber keamanan Irak dan pejabat AS pada hari Senin.
Serangan ini sekaligus menandai insiden pertama yang dilaporkan setelah jeda hampir tiga bulan. Berita tersebut meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi konflik di wilayah Timur Tengah.
Baca Juga
Jika Eskalasi Timur Tengah Berlanjut, Indef Beberkan Dampaknya bagi Harga Minyak hingga APBN
Sementara Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Nasser Kanaani pada hari Senin memperingatkan bahwa negaranya akan mengambil tindakan yang “lebih keras dan tegas” jika Israel melakukan kesalahan lagi. Kanaani menegaskan bahwa serangan yang dilakukan pada 13 April adalah bentuk balasan atas serangan Israel terhadap gedung konsulat Iran di Suriah pada 1 April lalu.
Israel sendiri diberitakan telah membatalkan rencana serangan balasan ke Iran pasca mendapat tekanan diplomatik dari AS beserta Inggris dan Jerman. Berita tersebut mengindikasikan meredanya kekhawatiran akan meluasnya konflik di wilayah Timur Tengah, jika serangan balasan Israel kembali dilakukan.
Sentimen negatif lainnya datang dari berita perusahaan minyak milik negara Venezuela, PDVSA yang berencana untuk meningkatkan penggunaan USDT, mata uang kripto yang disebut dengan Tether dalam ekspor minyak mentah dan bahan bakarnya. Hal itu seiring dengan penerapan kembali sanksi minyak oleh AS, kata tiga orang yang mengetahui rencana tersebut.
Pasca Departemen Keuangan AS pada pekan lalu memutuskan untuk tidak memperpanjang izin ekspor minyak Venezuela yang akan berakhir pada 31 Mei, secara otomatis penggunaan dolar AS sebagai pembayaran akan menjadi dilarang.
Venezuela sendiri dilaporkan mulai menggunakan USDT setelah Pedro Tellechea menjabat sebagai Menteri Perminyakan Venezuela pada tahun 2023, dan berhasil meningkatkan ekspor minyak negara tersebut mencapai sekitar 900.000 bph pada bulan Maret lalu, yang merupakan angka tertinggi dalam empat tahun terakhir.
Berita tersebut mengindikasikan potensi Venezuela untuk tetap dapat memasok minyaknya ke pasar global.

