Iran Siap Lawan AS Lagi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Iran menegaskan siap menghadapi serangan baru Amerika Serikat di tengah mandeknya upaya diplomatik perdamaian, saat Presiden AS Donald Trump melakukan kunjungan kenegaraan ke China dan menggelar pembicaraan penting dengan Presiden Xi Jinping mengenai perang Iran dan stabilitas global.
CBS News dalam laporan yang diperbarui Rabu (14/05/2026) pukul 07.10 EDT atau sekitar pukul 18.10 WIB menyebutkan seorang komandan militer Iran mengatakan latihan militer di Tehran menunjukkan kesiapan Republik Islam menghadapi kemungkinan serangan baru AS “di mana saja dan kapan saja”.
Pernyataan keras Iran muncul ketika pembicaraan damai terkait konflik yang telah berlangsung selama 75 hari itu terlihat mengalami kebuntuan. Sebelum bertemu Xi di Beijing pada Kamis (14/05/2026) pagi waktu setempat, Trump mengatakan dirinya akan melakukan “pembicaraan panjang” dengan pemimpin China tersebut mengenai perang Iran.
Trump juga menegaskan Amerika Serikat tidak membutuhkan bantuan Beijing untuk menyelesaikan konflik. “Saya pikir kami akan berbicara panjang tentang perang Iran,” kata Trump sebelum pertemuan dengan Xi seperti dikutip CBS News.
Baca Juga
Perang Iran kini menjadi salah satu konflik paling mahal bagi Washington dalam beberapa tahun terakhir. Pejabat pengawas anggaran Pentagon Jules Hurst mengatakan kepada anggota parlemen AS bahwa perang tersebut telah menghabiskan US$29 miliar uang pembayar pajak Amerika hingga saat ini.
Angka itu meningkat tajam dibanding estimasi Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth bulan lalu yang menyebut biaya perang sekitar US$25 miliar. Bahkan sejumlah pejabat AS yang mengetahui penilaian internal Pentagon mengatakan biaya sebenarnya mungkin telah mendekati US$50 miliar.
Sementara itu, ketegangan di kawasan Timur Tengah terus meningkat. Militer Israel mengatakan beberapa warga sipil Israel terluka akibat serangan drone peledak yang diluncurkan kelompok Hezbollah di dekat perbatasan Israel-Lebanon pada Kamis (14/05/2026).
Menurut AFP yang dikutip CBS News, drone tersebut jatuh di wilayah Israel dan menyebabkan sejumlah warga sipil harus dievakuasi ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.
Beberapa jam setelah serangan itu, militer Israel mengumumkan operasi serangan terhadap infrastruktur Hezbollah di wilayah Lebanon selatan. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) juga mengeluarkan peringatan evakuasi kepada sejumlah desa di kawasan tersebut sebelum operasi dimulai. “Hezbollah adalah kelompok paramiliter besar yang didukung Iran,” tulis CBS News mengutip AFP.
Ketegangan maritim di Selat Hormuz juga terus memburuk. Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan sebuah kapal disita oleh pihak tak dikenal di dekat pantai Uni Emirat Arab dan diarahkan menuju perairan Iran. Kapal tersebut berada sekitar 38 mil laut timur laut Fujairah ketika diambil alih oleh personel tidak berwenang saat sedang berlabuh.
Reuters dan AFP sebelumnya melaporkan sejumlah kapal telah menjadi sasaran serangan di sekitar Selat Hormuz sejak perang antara Iran, AS, dan Israel pecah pada 28 Februari 2026.
Iran disebut telah membatasi pelayaran di Selat Hormuz — jalur yang biasanya dilalui sekitar seperlima pengiriman minyak dan LNG dunia — sementara AS menerapkan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran meskipun gencatan senjata rapuh berlaku sejak 8 April 2026.
Baca Juga
Pada Minggu lalu, Korea Selatan menyatakan sebuah kapal kargo terkena serangan pesawat tak dikenal di Hormuz. Sementara Qatar mengatakan sebuah kapal barang yang tiba dari Abu Dhabi terkena serangan drone.
Reuters dalam laporan Kamis (15/05/2026) menyebutkan pembicaraan Trump dan Xi di Beijing kini semakin fokus pada keamanan Selat Hormuz dan ancaman gangguan pasokan energi global. Washington disebut berharap Beijing menggunakan pengaruh ekonominya terhadap Iran guna membantu menjaga jalur energi tetap terbuka.
Namun Iran tetap menunjukkan sikap keras. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebelumnya mengatakan negaranya tidak akan tunduk terhadap ancaman militer AS maupun Israel dan menegaskan tidak ada solusi militer untuk menyelesaikan konflik tersebut.
Di sisi lain, Bloomberg melaporkan pasar global semakin khawatir perang Iran akan berkepanjangan dan mendorong volatilitas harga energi dunia, terutama jika ketegangan di Selat Hormuz terus meningkat.
Konflik Iran juga membayangi pertemuan negara-negara BRICS di India dan kunjungan Trump ke Beijing, karena perang tersebut kini tidak hanya menjadi isu regional Timur Tengah, tetapi telah berkembang menjadi persoalan geopolitik global yang melibatkan rivalitas AS-China, keamanan energi, serta stabilitas ekonomi dunia.

