Didorong Reli Kuat Saham AI dan Semikonduktor, Wall Street Kembali Cetak Rekor Baru
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Setelah sempat melemah. indeks saham utama Amerika Serikat kembali mencetak rekor tertinggi baru pada perdagangan Rabu waktu AS atau Kamis (14/5/2026) WIB. Hal ini didorong reli kuat saham teknologi dan kecerdasan buatan (AI), meski data inflasi AS lebih tinggi dari perkiraan.
Indeks S&P 500 naik 0,58% dan ditutup di level 7.444,25, sedangkan Nasdaq Composite melonjak 1,2% menjadi 26.402,34. Keduanya mencetak rekor tertinggi baru, baik secara intraday maupun penutupan perdagangan. Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average turun 67,36 poin atau 0,14% ke posisi 49.693,20.
Baca Juga
Wall Street Mayoritas Melemah, Lonjakan Inflasi dan Harga Minyak Tekan Pasar
Reli pasar terutama dipimpin saham teknologi dan semikonduktor, sementara sektor lain seperti perbankan dan ritel justru mengalami tekanan akibat kekhawatiran inflasi dan lonjakan harga energi karena konflik Iran.
Saham Nvidia ditutup naik lebih dari 2%, sedangkan Micron Technology melonjak lebih dari 4%. ETF semikonduktor VanEck Semiconductor ETF (SMH) juga menguat 2%.
Di sisi lain, sekitar dua pertiga saham anggota S&P 500 justru ditutup melemah. Saham perusahaan ritel perbaikan rumah Home Depot serta bank investasi JPMorgan Chase termasuk yang mengalami tekanan.
Ahli strategi investasi Baird, Ross Mayfield, mengatakan investor kini melihat sektor chip dan AI sebagai tema pertumbuhan struktural yang relatif tahan terhadap gejolak ekonomi makro.
“Perdagangan chip tentu saja telah berkembang sendiri di mana saya pikir investor berpikir bahwa jenis permintaan dan pertumbuhan di sana sangat struktural sehingga kekuatan makro siklikal lainnya tidak benar-benar mengubah dinamika,” beber Ross Mayfield kepada CNBC.
Menurutnya, di tengah ketidakpastian global dan lonjakan harga minyak akibat perang Iran, investor memilih berlindung di saham teknologi karena ledakan AI dinilai tetap akan berlangsung.
Sentimen positif terhadap sektor chip juga diperkuat setelah CEO Nvidia Jensen Huang ikut mendampingi Presiden AS Donald Trump dalam kunjungan ke China untuk bertemu Presiden Xi Jinping.
Pasar menilai pertemuan tersebut dapat membuka peluang lebih besar bagi Nvidia untuk kembali menjual chip AI ke pasar China.
Meski demikian, sejumlah analis memperingatkan reli saham chip bisa menghadapi tekanan apabila kondisi ekonomi global memburuk atau konflik geopolitik berkepanjangan.
Data ekonomi terbaru juga menunjukkan tekanan inflasi AS masih tinggi. Indeks harga produsen (PPI) AS melonjak 1,4% pada April, jauh di atas ekspektasi ekonom sebesar 0,5% dan menjadi kenaikan bulanan terbesar sejak Maret 2022.
Baca Juga
Secara tahunan, inflasi grosir AS mencapai 6%, tertinggi sejak Desember 2022, sekaligus memperkuat kekhawatiran bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama di Amerika Serikat.

