Dunia Menunggu Pertemuan Trump-Xi Jinping
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Pertemuan puncak antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing pada Kamis (14/5/2026) menjadi perhatian para pemimpin dunia, mulai dari Singapura hingga Brussels. Agenda pembicaraan kedua pemimpin dinilai sangat luas dan berpotensi menentukan arah ekonomi, geopolitik, serta stabilitas energi global dalam beberapa tahun ke depan.
CNBC dalam laporan yang dipublikasikan Minggu (10/5/2026) malam waktu AS menyebutkan, agenda pertemuan Trump-Xi mencakup isu perdagangan, teknologi, kontrol ekspor rare earth, Taiwan, perang Iran, hingga kecerdasan buatan (AI). Pertemuan tersebut juga dipandang sebagai momentum penting untuk meredakan ketegangan dua ekonomi terbesar dunia yang selama beberapa tahun terakhir terus memanas.
“Secara virtual semua pihak memiliki kepentingan terhadap hasil pertemuan ini,” kata Chad Bown, Senior Fellow Peterson Institute for International Economics, seperti dikutip CNBC.
Perhatian global meningkat karena keputusan China menghentikan ekspor berbagai jenis rare earth dan magnet terkait, serta larangan penggunaan semikonduktor dari Nexperia China, telah mengguncang rantai pasok global, terutama industri otomotif di Eropa, Jepang, dan Korea Selatan.
Menurut CNBC, menjelang pertemuan, Washington dan Beijing sama-sama meningkatkan tekanan diplomatik dan ekonomi. Pemerintah AS menuduh China menjalankan kampanye berskala industri untuk mencuri teknologi AI Amerika, sementara Beijing memerintahkan perusahaan-perusahaan China agar tidak mematuhi sanksi AS terhadap minyak Iran. China juga menerima kunjungan Menteri Luar Negeri Iran di tengah perang yang masih berlangsung di Timur Tengah.
Profesor ekonomi Cornell University, Eswar Prasad, mengatakan dunia berharap kedua pemimpin dapat mencapai kesepakatan setidaknya pada sebagian isu strategis untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.
“Hasil pertemuan ini dapat berdampak besar terhadap perdagangan global, geopolitik, dan bahkan keberlangsungan tatanan dunia berbasis aturan,” ujar Prasad kepada CNBC.
Ia memperingatkan, jika pertemuan berlangsung keras dan memperdalam ketegangan, maka volatilitas ekonomi dan geopolitik global bisa berkepanjangan, sekaligus menghambat perdagangan dan pertumbuhan ekonomi dunia.
Pertemuan Trump-Xi sebenarnya dijadwalkan berlangsung pada Maret 2026, namun ditunda setelah AS terlibat dalam perang melawan Iran yang memicu krisis energi terbesar dalam sejarah modern. Ketegangan di Selat Hormuz menyebabkan lonjakan harga energi global dan mengguncang pasar keuangan internasional.
Reuters dalam beberapa laporan awal Mei 2026 juga menyebutkan bahwa konflik Iran dan blokade de facto Selat Hormuz telah meningkatkan risiko resesi global akibat lonjakan harga minyak dan terganggunya distribusi energi dunia. Reuters menilai komunikasi langsung Trump dan Xi berpotensi menjadi kunci stabilisasi pasar energi global.
Selain itu, Bloomberg dan Financial Times juga melaporkan bahwa China menjadi salah satu negara yang memiliki pengaruh besar terhadap Iran melalui hubungan perdagangan energi dan diplomasi strategis. Karena itu, keterlibatan Beijing dianggap penting dalam upaya membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz.
CNBC melaporkan, sejumlah pejabat tinggi kedua negara juga akan bertemu di Korea Selatan pada Rabu (13/5/2026), termasuk Wakil Perdana Menteri China He Lifeng dan Menteri Keuangan AS Scott Bessent, guna membahas isu ekonomi dan perdagangan sebelum pertemuan utama di Beijing.
Isu Taiwan dipastikan menjadi salah satu agenda paling sensitif. Beijing disebut mendesak pemerintahan Trump untuk mengurangi komitmen keamanan AS terhadap Taiwan dan meninjau ulang kebijakan resmi Washington terhadap pulau tersebut.
Bonnie Glaser dari German Marshall Fund menyebut setiap pelunakan sikap AS terhadap Taiwan akan menjadi hasil paling destabilizing dari pertemuan tersebut.
“Kesepakatan implisit atau eksplisit yang memberi ruang pengaruh Beijing atas Taiwan dapat mendorong China mengambil langkah lebih agresif terhadap otonomi Taiwan,” ujar Glaser.
Kementerian Luar Negeri China sebelumnya menegaskan Taiwan merupakan “titik risiko terbesar” dalam hubungan bilateral China-AS. Dalam percakapan dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada 30 April 2026, diplomat senior China Wang Yi meminta Washington “membuat pilihan yang tepat” demi membuka ruang kerja sama baru kedua negara.
Kawasan Asia Tenggara juga mengamati pertemuan ini dengan cermat. Stephen Olson dari ISEAS-Yusof Ishak Institute mengatakan negara-negara ASEAN khawatir perubahan tarif AS terhadap produk China dapat memengaruhi relokasi industri dari China ke Vietnam dan negara-negara Asia Tenggara lainnya.
Selain itu, negara-negara ASEAN yang sangat bergantung pada minyak Timur Tengah terkena dampak langsung krisis energi akibat konflik Iran. Pemerintah Singapura sebelumnya berulang kali memperingatkan dampak ekonomi dari terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz.
CNBC menyebut apabila Trump dan Xi mencapai kesepakatan untuk bersama-sama membuka kembali Selat Hormuz, maka langkah tersebut dapat memberikan kelegaan jangka pendek terhadap krisis energi global, meskipun sejumlah analis menilai kemungkinan itu masih kecil.
Sementara itu, Jepang dan Uni Eropa justru berpotensi dirugikan jika pertemuan menghasilkan kesepakatan ekonomi besar antara Washington dan Beijing. Matt Gertken dari BCA Research mengatakan kesepakatan energi yang membuat China membeli lebih banyak minyak dan gas AS dapat mendorong kenaikan harga komoditas global dan mengurangi pangsa pasar Jepang maupun Eropa.
Moskow juga memantau hasil pertemuan ini dengan serius. Reuters dan AFP melaporkan dukungan China terhadap Rusia menjadi semakin penting sejak perang Ukraina berkepanjangan dan Barat memperketat sanksi ekonomi terhadap Moskow.
Dennis Wilder, mantan pejabat intelijen AS dan profesor Georgetown University, mengatakan Rusia kemungkinan khawatir jika hubungan AS-China membaik secara signifikan. Salah satu kemungkinan hasil pertemuan, menurut Wilder, adalah berkurangnya dukungan China terhadap upaya perang Rusia di Ukraina.
Presiden Rusia Vladimir Putin dijadwalkan mengunjungi Beijing pekan depan, hanya beberapa hari setelah Trump meninggalkan China.

