Bagikan

Perang AS vs Iran Bakal Jadi Topik Utama Pertemuan Trump dan XI Jinping

Poin Penting

Konflik AS-Iran diprediksi mendominasi pertemuan Trump-Xi di Beijing, menggeser prioritas isu ekonomi strategis seperti tarif dan teknologi.
Delegasi pengusaha AS diperkecil demi menjaga jarak politik, meski CEO Boeing dan Citigroup tetap hadir untuk mengamankan kepentingan pasar.
Harapan damai sempat menguat, namun kembali memudar akibat eskalasi serangan terbaru di jalur pelayaran strategis tersebut.

JAKARTA, investortrust.id – Perang Iran diperkirakan akan menjadi agenda dominan dalam pertemuan puncak Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing pada 14–15 Mei 2026, sehingga berpotensi mengurangi ruang pembahasan isu ekonomi strategis seperti tarif perdagangan, pasokan rare earth, dan pembatasan teknologi.

Laporan CNBC yang dipublikasikan Kamis (07/05/2026) pukul 20.56 EDT dan diperbarui Jumat (08/05/2026) pukul 14.44 EDT menyebutkan bahwa isu perang Iran kemungkinan menjadi fokus utama kunjungan pertama presiden AS ke China sejak 2017. Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya telah menegaskan bahwa konflik Iran akan menjadi topik utama dalam pembicaraan Trump-Xi. Situasi itu semakin relevan setelah China awal pekan ini menerima kunjungan Menteri Luar Negeri Iran untuk pertama kalinya sejak perang pecah pada akhir Februari 2026.

Kunjungan tersebut memunculkan harapan akan tercapainya kesepakatan damai baru, yang sempat menekan harga minyak dunia dan mendorong penguatan pasar saham global. Namun optimisme itu kembali memudar setelah AS dan Iran kembali saling serang di sekitar Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir.

Baca Juga

Trump Ancam Tarif Lebih Tinggi ke UE, Bursa Eropa Tertekan

CNBC melaporkan pemerintah AS menolak undangan China untuk menggelar forum khusus antara pemimpin senior China dan CEO perusahaan-perusahaan AS. Washington khawatir langkah itu dapat menimbulkan kesan bahwa perusahaan-perusahaan Amerika terlalu dekat dengan Beijing.

Menurut seorang eksekutif AS yang mengetahui langsung persiapan kunjungan tersebut, hingga Selasa (05/05/2026), Gedung Putih bahkan belum secara resmi mengundang para CEO untuk ikut dalam delegasi Trump. Daftar awal sekitar dua lusin pimpinan perusahaan disebut kemungkinan dipangkas hingga setengahnya.

Meski demikian, CEO Boeing Kelly Ortberg dilaporkan akan ikut mendampingi Trump ke Beijing. Produsen pesawat AS itu berharap dapat memperoleh kontrak besar pertama dari China dalam hampir satu dekade.

Sebuah kapal ikan berbendera Iran dicegat oleh satuan patroli dari kapal perusak berpeluru kendali kelas kelas Arleigh Burke milik AL AS USS Kidd. Kapal ikan itu ditangkap bersama 15 awaknya karena dianggap melanggar operasi blokade Selat Hormuz oleh AS. Foto: U.S. Navy

CEO Citigroup Jane Fraser juga mengonfirmasi rencananya menghadiri kunjungan tersebut. Dalam wawancara dengan CNBC, Fraser menegaskan pentingnya keterlibatan ekonomi antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia itu. “Sangat penting untuk melihat adanya engagement antara kedua negara,” kata Fraser. Ia juga menegaskan China tetap menjadi pasar strategis bagi Citigroup yang telah beroperasi di negara itu selama 124 tahun.

Analis politik internasional dari Chinese Academy of Social Sciences, Hai Zhao, mengatakan berakhirnya perang Iran akan menjadi “kelegaan besar bagi dunia usaha global” dan dapat dikenang sebagai keberhasilan utama pertemuan Trump-Xi.

Namun di tengah harapan diplomatik itu, ketegangan di Selat Hormuz justru kembali meningkat. AS dan Iran saling menyalahkan terkait serangan terbaru di jalur pelayaran strategis tersebut. Beberapa hari sebelumnya, media China Caixin Global juga melaporkan sebuah kapal tanker milik China terkena serangan di kawasan itu, meski laporan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Menurut Presiden American Chamber of Commerce di China, Michael Hart, pertemuan Trump-Xi tetap penting secara simbolis karena dapat mengirim sinyal positif bahwa hubungan bisnis AS-China mulai kembali terbuka. “Sejak aksi militer AS awal tahun ini, pejabat China menjadi lebih berhati-hati berhubungan dengan komunitas bisnis Amerika,” ujarnya.

Kementerian Luar Negeri China kepada CNBC juga menegaskan Beijing menyambut ekspansi bisnis perusahaan-perusahaan AS dan berharap korporasi Amerika tetap membantu memperkuat hubungan ekonomi bilateral.

Baca Juga

Pulihkan Pasokan Energi Global, China Desak Pembukaan Selat Hormuz

Di sisi lain, beberapa isu bisnis mendesak mulai mereda. Menurut sejumlah laporan yang dikutip CNBC, AS dan China mulai melunak terhadap konfrontasi terkait sanksi, teknologi, dan perdagangan, sambil membuka peluang kerja sama menghadapi ancaman keamanan berbasis kecerdasan buatan (AI).

Penasihat senior Center for Strategic and International Studies (CSIS), Scott Kennedy, memperkirakan Trump kemungkinan akan mendorong kesepakatan pembelian kedelai AS dan pesawat Boeing oleh China. Ia juga memperkirakan kedua negara akan membahas pembentukan badan khusus perdagangan dan investasi bilateral untuk menangani berbagai isu ekonomi strategis.

Namun Beijing diperkirakan tetap memprioritaskan isu tarif, status Taiwan, serta pembatasan akses China terhadap teknologi canggih AS. CNBC mencatat China merupakan negara besar pertama yang melakukan pembalasan terhadap tarif yang diumumkan pemerintahan Trump pada April 2025.

Sementara itu, kontrol ekspor rare earth China yang semakin ketat juga menjadi perhatian global karena berdampak pada rantai pasok industri teknologi dan manufaktur dunia, tidak hanya bagi AS tetapi juga negara-negara lain.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024