AS Tembaki Dua Kapal Berbendera Iran di Hormuz
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Ketegangan di kawasan Teluk Persia kembali meningkat setelah militer Amerika Serikat (AS) menembaki dua kapal tanker berbendera Iran yang disebut mencoba menerobos blokade AS menuju pelabuhan Iran di Teluk Oman, Jumat (08/05/2026) waktu setempat. Insiden ini terjadi di tengah upaya diplomatik yang masih berlangsung terkait proposal perdamaian terbaru antara Washington dan Teheran.
Menurut laporan CBS News yang diperbarui pada Jumat (08/05/2026), pukul 13.04 EDT atau Sabtu (09/05/2026) pukul 00.04 WIB. Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan pasukannya menargetkan dua tanker minyak berbendera Iran, yakni M/T Sea Star III dan M/T Sevda, sebelum keduanya memasuki pelabuhan Iran di Teluk Oman. AS menuduh kedua kapal itu melanggar blokade yang masih diberlakukan di sekitar Selat Hormuz.
Baca Juga
CENTCOM mengklaim kedua kapal tersebut dilumpuhkan dengan amunisi presisi yang ditembakkan ke cerobong asap kapal. Militer AS juga menyebut sebelumnya telah melumpuhkan satu kapal berbendera Iran lainnya pada Rabu (06/05/2026). Dalam pernyataannya di media sosial, CENTCOM menegaskan ketiga kapal tersebut “tidak lagi menuju Iran”.
Insiden ini memperpanjang rangkaian baku tembak terbatas antara AS dan Iran di sekitar Selat Hormuz, jalur strategis yang mengalirkan sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Pemerintah Iran sebelumnya menuduh AS melanggar gencatan senjata dengan menyerang kapal-kapal sipil dan kawasan sipil di sekitar Selat Hormuz. Namun Washington menegaskan serangan tersebut merupakan respons atas serangan Iran terhadap kapal perang AS di kawasan itu.
Presiden AS Donald Trump mengatakan gencatan senjata AS-Iran “masih berlaku”, tetapi memperingatkan bahwa Washington akan menyerang Iran “jauh lebih keras dan lebih brutal” jika Teheran menolak proposal perdamaian terbaru. Pernyataan itu disampaikan Trump pada Jumat (08/05/2026), sebagaimana dikutip CBS News dan sejumlah media AS lainnya.
Baca Juga
Gencatan Senjata AS-Iran Kembali Terancam, Selat Hormuz Memanas, AS-Iran Saling Tembak
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Washington berharap menerima tanggapan resmi Iran atas proposal damai terbaru pada hari yang sama. Dalam wawancara yang dikutip CNN, Rubio menyatakan pihaknya berharap Iran memberikan “penawaran yang serius” untuk mengakhiri konflik yang telah mengguncang pasar energi global selama beberapa pekan terakhir.
Di pihak Iran, penasihat pemimpin tertinggi Iran, Mohammad Mokhber, justru mengeluarkan pernyataan keras terkait Selat Hormuz. Dalam video yang dipublikasikan kantor berita Iran, Mehr News Agency, Jumat (08/05/2026), Mokhber menyamakan kontrol atas Selat Hormuz dengan “bom atom” karena kemampuannya memengaruhi ekonomi dunia hanya dengan satu keputusan.
“Selat Hormuz merupakan peluang yang sama berharganya dengan bom atom,” kata Mokhber. Ia menegaskan Iran tidak akan melepaskan “keuntungan perang” dan bahkan mengancam akan mengubah rezim hukum Selat Hormuz, baik melalui jalur internasional maupun secara sepihak.
Baca Juga
Hadiri Jamuan Makan Malam KTT ASEAN, Prabowo Kenakan Barong Bermotif Batik
Pernyataan tersebut memperkuat kekhawatiran pasar global terhadap potensi gangguan berkepanjangan di jalur energi paling vital di dunia itu. Lloyd’s List, jurnal pelayaran internasional, melaporkan Iran disebut telah membentuk otoritas khusus untuk mengatur izin transit kapal di Selat Hormuz dan berpotensi memungut biaya lintasan kapal-kapal asing.
Laporan serupa juga disampaikan Reuters dan Al Jazeera yang menyebutkan bahwa meskipun gencatan senjata secara formal masih berlaku, bentrokan sporadis di kawasan Teluk tetap terjadi. Iran dan AS disebut terlibat dalam “limited exchange of fire” di sekitar Selat Hormuz, sementara serangan drone dan rudal Iran juga kembali menghantam wilayah Uni Emirat Arab dan melukai sedikitnya tiga orang menurut Kementerian Pertahanan UEA.
Ketidakpastian geopolitik tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran pasar energi global terhadap kemungkinan gangguan pasokan minyak mentah dan LNG dari Timur Tengah. Selat Hormuz selama ini menjadi jalur utama ekspor energi dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Irak, dan Qatar menuju pasar Asia dan Eropa.

